Ayah, Cinta Pertama Putrinya

Selasa, 11/06/2024 - 18:33
Sumber : Foto by imagine.art
Sumber : Foto by imagine.art

Oleh: Dara Tera Pradita (Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta)

Bicara soal kasih sayang dalam keluarga, perhatian seringkali tertuju pada ibu. Cinta seorang ibu memang tak bertepi, selalu hadir tanpa pamrih. Namun, di balik bayangan kasih ibu, ada cinta lain yang tak kalah mendalam: cinta seorang ayah. Bagi banyak perempuan, ayah adalah cinta pertama mereka, sosok yang menanamkan rasa aman, dukungan, dan cinta yang tak tergantikan. Ayahku, adalah cinta pertamaku, teladan yang mengajarkan banyak hal tentang kasih sayang dan  sosok yang selalu ada di setiap langkah hidupku, dengan pengorbanan yang kadang tersembunyi di balik senyumnya.

Kenangan Masa Kecil yang Manis

Sejak kecil, aku selalu merasa aman di dekat ayahku. Ia adalah sosok yang tak hanya mengasihi tetapi juga penuh dengan pelajaran hidup berharga. Setiap kali ayah pergi, aku selalu merengek untuk ikut, tak peduli ke mana pun tujuannya—baik itu urusan kantor, pertemuan dengan teman-temannya, atau sekadar berjalan-jalan. Bagiku, setiap perjalanan bersama ayah adalah petualangan baru yang penuh dengan pelajaran.

Satu kebiasaan yang tak pernah kulupakan adalah saat ayah mengajakku ke toko mainan. Mata kecilku selalu berbinar setiap kali melihat deretan mainan di rak-rak toko. Ayah, dengan senyum hangatnya, selalu membelikanku mainan yang kuinginkan. Kegembiraan itu bukan hanya soal memiliki mainan baru, tetapi juga rasa dicintai dan dimengerti oleh ayah. Ini adalah bagian dari caranya menunjukkan cinta—melalui perhatian pada hal-hal kecil yang membuatku bahagia.

Tidak hanya itu, setiap Minggu pagi adalah waktu yang kutunggu-tunggu. Ayah selalu membawa majalah Bobo untukku, yang membangkitkan rasa ingin tahuku dan kecintaanku pada cerita. Di dalam majalah itu, aku menemukan dunia baru yang penuh dengan petualangan dan pengetahuan, berkat ayah yang tak pernah absen membawakannya. Dari sini, kegemaranku membaca mulai tumbuh, dan ayah selalu memastikan aku memiliki bacaan yang menarik dan mendidik.

Petualangan di Dunia Sepak Bola

Hubungan kami juga dipenuhi dengan momen-momen di depan layar televisi, menyaksikan pertandingan sepak bola. Ayah memperkenalkanku pada olahraga ini, dan meski aku hanya menjadi penonton, kecintaan pada sepak bola tetap melekat hingga kini. Kami tidak pernah melewatkan pertandingan Timnas Indonesia, bahkan kami menonton dengan antusias setiap gol, strategi, dan gerakan pemain di lapangan.

Saat pertandingan berlangsung, aku sering mengajukan banyak pertanyaan tentang aturan permainan, strategi, dan berbagai hal teknis lainnya. Ayah menjelaskan semuanya dengan sabar, membentuk pemahaman dan kecintaanku pada olahraga ini. Kegembiraan dan kebersamaan saat menonton sepak bola bersama ayah adalah kenangan yang selalu kurindukan, dan dari sinilah, impian untuk menjadi reporter sepak bola mulai tumbuh di hatiku.

Pengorbanan Tanpa Pamrih

Ketika waktunya tiba untuk memilih perguruan tinggi, aku sempat marah dan merasa terbatas karena ayah tidak mengizinkanku kuliah di luar kota. Aku ingin merasakan kebebasan, tinggal jauh dari rumah, namun ayah memiliki alasan yang kuat. Meski awalnya aku tak memahami, kini aku mengerti. Ayah khawatir akan keselamatanku dan ingin aku tetap dekat di bawah pengawasannya. Demi keamanan dan kenyamanan, ayah rela menjemputku pulang pergi dari rumah ke kampus setiap hari, meski jaraknya mencapai 13 km. Alasan utamanya adalah untuk menghemat biaya dan memastikan aku selalu aman.

Kenangan yang paling membekas adalah saat aku harus mengikuti Ujian Tertulis Berbasis Komputer (UTBK). Kampus tempat ujian berjarak 18 km dari rumah, dan kami berangkat sebelum fajar untuk menghindari kemacetan. Di tengah jalan, hujan deras turun tanpa ampun, dan kami tidak membawa jas hujan. Namun, takut terlambat, kami terus melaju. Kami mengandalkan peta di ponsel, tapi di tengah gelap, kami tersesat, hanya bisa berputar-putar di sekitar Bundaran HI dan GBK Jakarta.

Hujan masih deras saat kami tiba di kampus, pakaian kami basah kuyup, namun ayah tetap menunggu di luar dengan sabar. Ketika ujian selesai, aku keluar dengan pakaian yang masih basah, menggigil kedinginan karena ruangan ujian yang sangat dingin. Ayah yang menungguku hanya bertanya, “Bagaimana dengan ujiannya?” tanpa sedikit pun mengeluhkan keadaannya sendiri. Melihat perhatian tulus itu, hatiku tersentuh. Ayah yang menunggu berjam-jam dengan pakaian basah tanpa sarapan, hanya memikirkan apakah aku baik-baik saja saat ujian, membuatku selalu terharu setiap kali mengingatnya.

Ayah dan Pendidikan

Kakakku kemudian menjelaskan mengapa ayah tak mengizinkan kami kuliah jauh dari rumah. Ayah ingin kami tetap dekat, di bawah pengawasannya, karena ia selalu khawatir akan keselamatan kami. Anak perempuan, baginya, adalah anak kecil yang harus selalu dipantau, meski kami sudah dewasa. Kekhawatirannya bukan karena kurangnya kepercayaan, tetapi lebih pada rasa sayang dan perlindungan yang begitu besar.

Ayahku selalu memastikan kami mendapatkan pendidikan yang terbaik. Ia rela berkorban apa pun demi memastikan kami mendapatkan fasilitas dan dukungan yang kami butuhkan. Setiap kali ada tugas atau kebutuhan sekolah, ayah selalu ada, siap membantu dan memberikan yang terbaik. Ketika aku kecil, ayah sering membantu mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru, kemudian mengujiku untuk memastikan aku benar-benar paham. Ia selalu membiarkan aku berusaha sendiri, namun siap membantu saat aku kesulitan, membentuk rasa percaya diriku sejak dini.

Ayah sebagai Teladan

Kini, saat aku tumbuh dewasa, aku semakin menyadari betapa pentingnya peran ayah dalam hidupku. Pengorbanannya untuk membesarkan kami, menjadi kepala rumah tangga yang andal, dan selalu memastikan keluarganya dalam keadaan baik, adalah teladan yang berharga. Ayah selalu memikirkan keluarganya—istrinya dan anak-anaknya—tanpa pernah mengeluh.

Impian ayah adalah agar keempat putrinya ini menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi dan meraih kesuksesan dalam pekerjaan. Doa dan usahanya selalu terfokus pada keberhasilan kami, dan aku berharap setiap perjuangannya akan terbayar dengan kemudahan dan kebahagiaan. Bagi ayah, anak-anaknya adalah segalanya, dan ia selalu ingin kami sukses dan bahagia.

Menghargai Ayah

Ayah adalah cinta pertama yang tak tergantikan, cinta yang penuh dengan pengorbanan dan kasih sayang. Setiap anak perempuan membutuhkan sosok ayah dalam pertumbuhan dan perkembangan mereka. Perlakuan positif, perhatian, dan cinta yang tulus dari ayah adalah fondasi penting dalam hidupku. Lawakan-lawakannya yang selalu menghibur dan perhatiannya yang tak pernah pudar membuat hidupku penuh warna.

Menghargai ayah, menyayangi dengan tulus, dan bersyukur atas setiap usaha dan kasih sayangnya adalah hal yang selalu aku ingat. Tak ada perjuangan ayah yang sia-sia, semua diberikan untuk anak-anaknya dengan cinta yang dalam. Untuk kalian di luar sana, sayangilah ayah kalian selagi ada, dan kirimkan doa untuk ayah yang sudah tiada. Setiap ayah merindukan doa dan perhatian dari anak-anaknya. Hargai setiap usaha dan jangan pernah melukai hati yang tulus itu.

Ayah, jika kau membaca ini, aku ingin mengucapkan terima kasih. Terima kasih telah menjadi ayah yang luar biasa bagiku. Aku mencintaimu, ayah.

Tags

Related News