Momen Lebaran Bersama Keluarga

Rabu, 12/06/2024 - 18:56
Ilustrasi
Ilustrasi

Oleh: Dinda Pramesti Kusumawardani (Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta)

Setinggi-tingginya batu melambung, surutnya ke tanah juga. Sejauh-jauh kau merantau, akhirnya kembali juga. Empat hari sebelum Lebaran aku kembali ke Jakarta, kota yang penuh kenangan. Bersatu kembali dengan keluarga yang telah lama tidak ku lihat.

Kakiku melangkah riang dengan tangan kananku yang menyeret sebuah koper hitam kecil, menuju gerbong kereta khusus wanita di Stasiun Depok Baru. Ramai dan padat. Siang hari itu orang-orang terlihat berlalu lalang. Tak heran karena hari libur Lebaran telah dimulai. Ada yang membawa anaknya jalan-jalan, ada pula yang bepergian bersama saudara ataupun temannya. Aku melihatnya dengan hati senang, karena tak sabar akan merasakan berkumpul dengan keluargaku juga.

Perjalanan ditempuh selama dua setengah jam. Setelah turun dari angkot, aku menyimpan kartu JakLingkoku dan bergegas menelepon ayahku, agar segera datang menjemput. Kendaraan ramai berlalu lalang, seorang pria mengenakan baju putih dengan mengendarai motor matic mendekat ke arahku. Senyuman terpatri di wajahku menyambut ayah. Perjalanan kembali aku tempuh dengan ayah selama 10 menit.

Di perjalanan ayah bertanya padaku, “mau makan apa, dek?” Dengan semangat aku menjawab, “ayam rica-rica ya, Pa! Aku udah lama ngga makan itu. Hehehe.”

Akhirnya kami mampir ke sebuah tempat makan bertenda, Seafood Sari Laut Bang Edot Salim untuk lauk berbuka puasa. Tempat makan ini adalah tempat makan langganan keluargaku. Aku sudah terbiasa dengan rasa masakannya sejak aku masih belum bersekolah. Ayahku berteman baik dengan pemilik tempat makan itu, aku biasa memanggilnya Om Salim.

Dimataku, ayah memiliki banyak sekali teman. Aku merasa temannya ada di setiap tempat yang aku kunjungi.

Sambil menunggu pesanan kami jadi, aku mengajak ayahku membuat sebuah video. Menikmati waktu berdua dengan ayahku yang sudah lama tak jumpa. Aku mengajaknya melakukan beberapa kali pose hati dengan menyatukan tangan kami, membentuk seperti setengah lingkaran dan menyatukannya. Kemudian aku segera mengambil gambar dan video dengan menggunakan telepon genggamku.

30 menit sudah kami menunggu, saat ingin beranjak pergi setelah menerima makanan yang kami pesan, aku terkejut karena istri om Salim memberiku uang THR (Tunjangan Hari Raya). Keluarganya dengan keluargaku yang sudah lama saling mengenal, membuatku sedikit segan saat menerima uang THR. Tetapi, Aku tetap menerimanya dengan senang dan bersyukur.

Matahari mulai terbenam. Warna biru langit perlahan pudar dengan semburat jingga menghias indah. Azan magrib berkumandang, para penjual takjil di pinggir jalan terlihat sibuk merapikan dagangannya, agar bisa segera berbuka dan melaksanakan ibadah salat. Aku pun juga mempercepat langkah memasuki gang rumahku sambil menyeret koper kecil hitam milikku.

Salam yang terucap dari bibirku terdengar riang dan bersemangat. Senang. Itulah yang aku rasakan. Aku sudah pulang ke rumah, menyalami kakak pertama dan ketiga ku dengan senyum lebar. Setelahnya, kami bergegas berbuka dengan takjil yang sudah dibeli oleh kakak pertama dan ketigaku.

Setelah melaksanakan salat Magrib, kami bersiap-siap kembali karena akan pergi ke pusat perbelanjaan, Lippo Mall Puri. Di sana kami bersenang-senang sambil mencari barang untuk Lebaran nanti. Setelah dua jam berkeliling, tiba waktunya kami untuk pulang ke rumah.

Pagi hari terlewat begitu saja. Lelah. Aku beristirahat di kamar. Kapan lagi bisa tidur sepuasku jika bukan hari libur kan? Malamnya, Aku menghabiskan waktu di masjid. Sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan, umat Islam biasanya berlomba-lomba menjalankan iktikaf dan salat tarawih di masjid.

Di lantai dua masjid At-Taqwa, jam 12 malam, banyak orang tengah beribadah di malam lailatulqadar. Malam turunnya wahyu Allah Swt., yang apabila seseorang beramal kebaikan pada malam itu, pahalanya akan dilipatgandakan setara dengan beramal seribu bulan.

Jam telah menunjukkan setengah dua dini hari. Aku yang berada di lantai dua beranjak dari atas sajadahku, turun melewati tangga menuju tempat wudu. Saat aku kembali, beberapa orang tengah melaksanakan salat tahajud, beberapa membaca Al-Qur’an, dan beberapa lagi memegang kertas berisikan doa-doa. Kemudian aku mengenakan mukena berwarna hijau dan mulai mengerjakan amalan-amalan baik seperti orang-orang yang aku lihat di sana.

Waktu menunjukkan jam tiga pagi, saatnya untuk melaksanakan santap sahur bersama-sama di lantai satu masjid At-Taqwa. Jemaah terlihat mulai merapikan barang-barang bawaannya. Para orang tua terlihat turun lebih dahulu ke lantai satu. Aku pun bergegas merapikan sajadah dan mukena. Memasukan barang-barang kedalam ransel hitam yang aku bawa.

Bersama teman-teman, aku segera mengambil makanan untuk sahur. Kemudian kami masuk ke dalam masjid, duduk di lantai dengan angin dari pendingin ruangan yang menerpa. Orang-orang menyantap makanan dengan khidmat, tak lupa mengambil semangka segar yang selalu disediakan saat sahur.

            Dua malam aku melaksanakan iktikaf di masjid, hingga tiba saatnya malam takbiran. Suara takbir menggema riuh melewati celah-celah rumah dan terdengar kalimat “Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar. La ilaha illallahu wallahu akbar”, dengan memuji kebesaran Allah Swt. kami menyatukan hati dalam kegembiraan menjelang Lebaran. Selesai sudah kami menjalankan puasa wajib dan ibadah sunah yang hanya bisa dilakukan saat bulan Ramadan.

            Sedikit sedih aku rasakan. Lebaran tahun ini aku dan keluarga tidak dapat lagi berkumpul dengan nenekku. Tahun lalu adalah Lebaran terakhirku bersamanya. Mendengar perkataan dari kakak kedua ku bahwa Lebaran adalah momen saat aku sadar akan kehadiran mereka yang tidak lagi ada. Meski begitu, tetap jalani dengan penuh syukur dan menghargai yang hadir dalam momen tersebut.

            Inilah hari yang ditunggu-tunggu. Lebaran telah tiba. Hiruk pikuk rumah yang bersiap salat Idulfitri benar-benar membuatku merasa bahwa hari ini adalah harinya. Aku tersenyum melihat cermin saat menggunakan baju baru untuk Lebaran. Sekali dalam setahun. Pakaian putih menjadi pilihan keluarga kami tahun ini. Setelah salat Subuh dilaksanakan, suara takbiran kembali terdengar menambah kesyahduan momen Lebaran.

Matahari mulai terbit. Langit biru yang cerah perlahan terlihat bercampur dengan warna jingga. Indah. Langit Jakarta di Hari Raya Idulfitri terlihat cerah. Orang-orang mulai berlalu-lalang di depan rumah, berjalan menuju masjid besar terdekat yang melaksanakan salat Idulfitri. Tidak jauh berbeda dengan keluargaku yang sempat bingung cara untuk pergi ke tempat pelaksanaan salat Idulfitri, sementara kami hanya memiliki satu motor matic saja.

            Akhirnya, Aku dan ayahku berangkat lebih dulu menggunakan motor karena terbatasnya waktu pelaksanaan salat Idulfitri. Kemudian kakak pertama dan kakak ketigaku menyusul  menggunakan taksi online.

            Tiba di tempat pelaksanaan salat Idulfitri, suara takbiran kembali terdengar. Seiring dengan langkah kakiku, bersamaan dengan orang-orang berjalan menuju tempat salat. Ada yang telah mengenakan mukenah, ada yang masih menenteng mukena juga sajadah di tangannya. Beberapa berjalan bersama anaknya, beberapa berjalan bersama saudaranya, beberapa lagi berjalan sendiri. Mereka berjalan dengan semangat. Wajah cerah dengan mata berbinar disertai senyuman tipis. Riang anak kecil terdengar tampak bahagia.

            Orang-orang yang bertemu saling sapa dan berucap “Taqabbalallahu minna wa minkum” yang memiliki arti “semoga Allah menerima amalanku dan amalan kalian”. Kemudian, masing-masing dari mereka mencari barisan yang masih kosong untuk menggelar sajadah. Begitu pun dengan aku. Orang-orang mulai memakai perlengkapan salat dan melaksanakan salat Idulfitri berjamaah. Meskipun terpisah dari kakak-kakakku saat salat, suasana kehangatan tetap terasa.

Selesai salat, aku dan keluargaku tak langsung pulang begitu saja, melainkan halal bihalal di masjid dekat rumah. Suasana ramai, penuh kebahagian terasa disana. Hari penuh sukacita. Anak-anak kecil berkumpul bersama anak remaja, orang dewasa, dan para orang tua. Saling bersilaturahmi, saling meminta maaf dan memaafkan.

Aku datang dengan menggunakan baju berwarna putih dipadukan kerudung berwarna hijau bersama dengan kakak-kakak dan para keponakanku. Makan bakso bersama dengan yang lain, menunggu acara selanjutnya yang selalu ditunggu-tunggu jika Lebaran tiba.

Inilah puncaknya, pemberian Tunjangan Hari Raya untuk anak-anak dan pelajar yang biasa disebut THR. Dengan penuh kegembiraan anak-anak segera membentuk barisan panjang. Mereka akan diberikan THR oleh setiap orang tua yang ingin memberikan sebagian rezekinya untuk mereka. Suasana ramai penuh canda dan tawa, serta kehangatan pun berakhir dengan acara yang ditutup dengan foto bersama.

Rumahku yang sangat dekat dengan masjid menjadi salah satu keuntungan. Hanya perlu berjalan kaki. Aku dan keluarga pulang dan bersiap untuk pergi kembali. Aku dan kedua kakakku akan menginap di rumah kakak keduaku yang berada di Cileungsi, Kabupaten Bogor. Dalam perjalanan, aku bermain dan bercanda bersama saudara dan para keponakanku. Aku pikir Jakarta dan sekitarnya akan sepi saat Lebaran, nyatanya toll dipadati dengan kendaraan beroda empat.

Meski begitu, Lebaran selalu mengajarkanku tentang arti keluarga, tradisi, dan kebersamaan. Bisa berkumpul kembali dan pergi bersama keluarga di hari penting adalah hal yang membahagiakan bagiku. Kami yang hidup terpisah ditempat yang berbeda, menjadikan Lebaran sebagai momen yang paling kami tunggu-tunggu setiap tahunnya. Semoga kita semua selalu diberkahi, dan dapat merayakan Lebaran dengan penuh kebahagiaan di setiap tahun-tahun yang akan datang.

Tags

Related News