Perjalanan dalam Memahami Rumus Luka

Rabu, 12/06/2024 - 19:56
Ilustrasi: Pinterest
Ilustrasi: Pinterest

Oleh: Evelin Felisa Pohan Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta Program Studi Penerbitan (Jurnalistik)

“Luka adalah pembelajaran hidup yang paling berharga.” Awalnya, kupikir kalimat itu hanya sebatas pelipur lara semata. Jelas bukan manusia namanya jika lantas mempercayai sesuatu yang tidak dialami sendiri. Maka, sama seperti manusia lainnya, aku baru memahami makna di balik kalimat tersebut setelah merasakannya.

Kehilangan sesuatu bagiku tak pernah seburuk ini sebelumnya. Umumnya, aku hanya kehilangan hal-hal kecil yang kuyakini dapat kugantikan kembali. Namun, bagaimana cara menggantikan seseorang yang menghabiskan setiap harinya bersamaku, untuk waktu yang lama? Selama ini, aku cenderung meremehkan pemikiran bahwa kehilangan sesuatu dan seseorang adalah dua hal yang jauh berbeda.

Siapa sangka, saat aku sedang sibuk merancang masa depan bersamanya, perlahan datang waktu di mana aku tak berkesempatan untuk mendengar suaranya lagi. Aku percaya bahwa dunia terbalut oleh jutaan teka-teki. Namun, aku terlampau naif dengan mengira bahwa aku mampu menaklukan Sang Waktu.

Bagai bumi yang kehilangan gravitasi, begitu pula hariku tanpa kehadirannya. Ragaku mengawang, sementara jiwaku melebur entah ke mana. Kehilangan sesuatu yang nyaris melekat dengan nadiku ternyata begitu menyakitkan. Aku berusaha mengumpulkan kepingan jiwa yang seketika membelah dirinya sendiri bak amoeba. Juga berusaha mengembalikan binar di kedua bola mataku.

Pada hari-hari yang memuakkan itu, aku mulai berandai-andai. Jika saja setiap orang yang kutemui memiliki tanggal kadaluwarsa yang dapat kulihat dengan mata kepalaku sendiri, mungkinkah aku dapat mengantisipasi rasa sakit kehilangan? Rasanya tidak adil mengizinkan seseorang masuk ke dalam kehidupanmu tanpa benar-benar tahu kapan dan mengapa mereka akan pergi.

Sekali lagi, dunia memang penuh teka-teki. Di mana Sang Waktu adalah bagian dari teka-teki itu sendiri. Namun, siapa peduli? Seolah tak menaruh rasa iba, dunia tetap berjalan sebagai mana adanya. Matahari tetap terbit dan terbenam, hujan tetap turun, pekerjaan dan tanggung jawabku terus menumpuk. Tidak ada jalan untuk melarikan diri dari kenyataan. Aku harus terus menyetarakan langkah kakiku dengan tempo perputaran dunia. Meski dalam upayaku merajut hari langkahku tertatih, bahkan terseok sesekali.

“Sedih sekali,” ujar mereka dengan sorot mata yang khas itu, “yang sabar ya.” Jika ada makanan yang lebih mengenyangkan dari sebakul nasi dan lauk, mungkin itu adalah rasa iba orang-orang. Aku menikmati tatap sendu saat mereka mendengarkan kisahku. Meski tatapan mereka tak berlangsung lama sebab sesi dongeng menyedihkanku kerap teralihkan dengan mudahnya.

Semesta seolah memaksaku untuk memendam semuanya di dalam relung hatiku yang terdalam. Mungkin jika semesta dapat berbicara, ia akan berkata, “berhenti menjual cerita menyedihkan, mereka tidak benar-benar peduli dengan apa yang sedang kamu lalui.” Maka dengan perlahan, kukumpulkan kembali sisa-sisa keinginanku untuk melanjutkan hidup. Maksudku, bukankah hanya aku yang mampu mengobati rasa sakitku sendiri?

Tak jarang aku mempertanyakan jalan hidupku yang porak-poranda. Berkali-kali pula merengek kepada Tuhan akan kehendak-Nya yang membawaku pada kelamnya rasa sakit. Begitu banyak malam yang kulalui berbanjirkan air mata. Sesekali memukuli dadaku sesekali, barang kali itu membantu. Lalu, berkali-kali memohon kepada Tuhan untuk menghapus rasa sakit yang seolah mengonsumsiku.

“Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik,” katanya. Bagaimana jika aku hanya menginginkan sosok yang telah menoreh luka itu? Bagaimana jika dari berjuta manusia di muka bumi, dialah satu yang hatiku pilih? Aku menghabiskan banyak hari mempertanyakan rancangan alam semesta. Pada beberapa waktu, lukanya mereda, lalu luka itu datang kembali, lagi dan lagi. Rasa sakit ini bagaikan sebuah siklus tak berkesudahan, seolah semesta menginginkanku mati menderita.

Kemudian, sejengkal demi sejengkal, hidupku mulai berjalan ke arah pintu besar nan bercahaya. Aku mulai mengubah cara pandangku tentang bagaimana semesta bekerja. Mempelajari bahwa luka yang membuatku menderita bisa saja membawa pembelajaran bermakna. Mungkin semesta yang kumaki selama ini sebab berlaku tak adil, sedang memisahkanku dengan suatu kebahagiaan yang fana. Atau mungkin, semesta sedang melepaskanku dari rasa sakit pada masa mendatang.

Bak anak kecil yang akhirnya mampu mengayuh sepeda setelah berkali-kali terjatuh, begitu pula aku. Dunia menghantamku begitu keras dengan pahitnya rasa kehilangan, tetapi aku mampu menaklukan segala halang rintang itu. Kehidupan yang kupikir akan berakhir saat itu, kini berlalu begitu saja. Duniaku tak terhenti pada momen ketika seseorang yang kucinta meninggalkanku sendiri. Justru, melalui rasa kehilangan itu, terlahir duniaku yang baru.

Kini, aku menyadari bahwa tidak ada kedewasaan yang diperoleh di atas jalan yang rata. Meski begitu, aku menyadari pula bahwa setiap orang memiliki batas ambang toleransinya sendiri. Bisa saja aku sedang beruntung karena apa yang terjadi kemarin belum melampaui batas ambang toleransiku sendiri. Lantas, bagaimana dengan mereka yang mampu mengalahkan batasannya? Hal itu membuatku menyadari bahwa yang kulalui bukanlah apa-apa, ada yang jauh lebih menderita di luar sana.

Bagaimanapun, dunia memiliki arti yang berbeda mengikuti cara pandang masing-masing manusia. Apa yang kulalui saat ini bisa saja bukan apa-apa jika dibandingkan dengan luka orang lain, begitu pun sebaliknya. Satu hal yang kupahami pasti, bahwa aku bangga akan diriku sendiri. Detak jantung yang kurasakan hari ini membuktikan bahwa aku sudah cukup hebat dalam menghadapi teka-teki dunia, bukan? (efp)

Tags

Related News