Selamat Jalan, Sahabat Pertama

Rabu, 12/06/2024 - 18:56
Ilustrasi
Ilustrasi

Oleh : Muhammad Hikmal Dzikrillah (mahasiswa Penerbitan (Jurnalistik) Politeknik Negeri Jakarta)

Aku masih ingat saat pertama kali bertemu dengannya di Taman Kanak-Kanak. Namanya adalah Rifki, seorang anak laki-laki dengan senyum yang selalu menghiasi wajahnya. Kami sering bermain bersama di taman bermain, berkejar-kejaran, dan berbagi cerita satu sama lain. Kami selalu punya ide-ide menarik yang membuat hari-hari kami di TK menjadi penuh warna.

Kami berkenalan pada hari pertama masuk sekolah saat jam pelajaran mewarnai. Aku yang pemalu tiba-tiba diajak ngobrol olehnya, sejak saat itu kami pun berkenalan dan menjadi akrab. Kami selalu bermain bersama, menghabiskan waktu sepanjang hari, setiap saat di Taman Kanak-Kanak.

Waktu berlalu, kami lulus dari TK dan masuk ke Sekolah Dasar yang sama. Di kelas 1 SD, kami sekelas dan masih tetap Bersama. Karena belum mengenal teman yang lain, aku duduk bersebelahan dengan Rifki. Aku sangat senang bisa sekelas dengan Rifki.

Rifki selalu siap membantu saat aku kesulitan mengerjakan tugas atau saat aku merasa kesepian. Saat aku lupa membawa barang-barang sekolahku, Rifki selalu bersedia berbagi bersama peralatannya bersamaku. Dia adalah sahabat yang tak pernah meninggalkan, sahabat yang selalu ada di setiap tawa dan tangis.

Namun, semuanya berubah ketika kami berada di kelas 2 SD. Setelah selesai mengerjakan Ujian Akhir Semester, seluruh anak merayakan libur akhir semester. Saat liburan, aku dan Rifki jadi jarang bertemu. Aku hanya berlibur di rumah saja, sedangkan Rifki, ia pergi berlibur ke kampung halamannya. Suatu ketika aku dikabarkan ibuku bahwa Rifki sedang demam di kampung halamannya, awalnya aku berpikir hanya demam biasa, aku berpikir dia akan cepat sembuh.

Namun tiba-tiba, saat aku sedang asyik menonton televisi di rumah, aku diberitahu ibuku bahwa Rifki telah meninggal dunia. Saat itu aku belum paham dengan konsep meninggal, aku bahkan juga menangis mendengar berita tersebut, karena saat itu aku berpikir akan tetap bisa bermain lagi saat di sekolah.

Libur telah usai, suatu hari saat pulang sekolah ibunya Rifki datang menghampiriku sambil menangis, dan meminta maaf kepadaku atas segala kesalahannya Rifki, namun lagi-lagi aku tidak bisa menangisi kepergian Rifki. Aku hanya terdiam, lalu beliau menyerahkan beberapa barang peninggalan Rifki kepadaku, ibunya berkata hanya aku yang layak menyimpan semua barang-barang tersebut.

Waktu berlalu, tapi kenangan tentang Rifki tetap hidup dalam ingatanku. Setiap kali aku melihat anak-anak di TK, aku selalu teringat senyumnya, tawa riangnya, dan kebaikan hatinya. Rifki mungkin telah pergi, tapi dia selalu ada di hatiku, sebagai bintang yang bersinar di langit malam, mengingatkan aku tentang kebahagiaan sederhana dan persahabatan sejati.

Selamat jalan, Rifki. Terima kasih telah menjadi sahabat pertama dalam hidupku. Aku akan selalu merindukanmu, dan kenangan kita akan selalu hidup dalam hatiku.

Tags

Related News