Menapak Jejak Baru di Ujung Aspal

Jumat, 15/03/2024 - 06:37
Potret jalan menuju Desa Lubuk Talang (Trans Lapindo), Kecamatan Malin Deman, Kabupaten Mukomuko sebelum dilakukan pengerasan oleh Satgas TMMD Kodim 0428/Mukomuko.
Potret jalan menuju Desa Lubuk Talang (Trans Lapindo), Kecamatan Malin Deman, Kabupaten Mukomuko sebelum dilakukan pengerasan oleh Satgas TMMD Kodim 0428/Mukomuko.

Oleh: Like Jansen Supanser (Wartawan Klikwarta.com)

Terjal berlumpur, rindangnya hutan produksi membentang sepanjang mata memandang. Berjajar kelapa sawit menghampar luas di perkebunan.

Berdiri puluhan rumah dengan dinding papan beratapkan seng. Permukiman baru tampak sederhana milik warga Trans Lapindo Desa Lubuk Talang, Kecamatan Malin Deman, Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu.

Potret awal permukiman warga transmigrasi tahun 2008 dan 2009 silam. Tak tersentuh pembangunan, terisolir hingga belasan tahun lamanya.

Diujung aspal, berjarak 1.800 Meter baru sampai kekediaman, warga Trans Lapindo jauh dari wajah perkotaan.

Di sudut desa, tampak salah satu rumah transmigrasi itu masih berdiri, meski dalam kondisi reot terkikis kumbang dan rayap memakan kerasnya kayu papan rumah. Usang tak terawat, atap seng berlubang, bocor saat musim hujan, batu bata bersusun berlapis abu sebagai dapur memasak.

Menyayat hati, berdiri dua sosok tegar lanjut usia tinggal dirumah itu, Kakek Ketang (70) dan Nenek Kaminem (68), warga transmigrasi asal Provinsi Jawa Tengah sejak 15 tahun silam.

Ramah, murah senyum dan bersahaja, kakek dan nenek itu, hidup dalam kesederhanaan. Nestapa tampak dalam usia renta keduanya.

nenek kaminem
Nenek Kaminem saat berada di Pawon (dapur) rumahnya

Mengerutkan kening, sejenak terdiam, berlinang air mata dan mengucap syukur, keduanya tersentak mendengar kabar baik yang lama dinanti. Mendapat bantuan bedah Rumah Tak Layak Huni (RTLH) dari program sasaran fisik TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-119, Kodim 0428/Mukomuko. Rumah reot itu disulap menjadi layak huni.

“Kami senang dibantu bapak-bapak TNI, terima kasih banyak”, ucap lirih Kakek Ketang didampingi nenek Kaminem siang itu.

Penuh haru bahagia, hatinya berdesir, keduanya turut serta memaksimalkan pengerjaan fisik rehab rumahnya dengan prajurit Satuan Tugas (Satgas) TMMD, terdiri dari prajurit TNI AD, TNI AL dan dibantu Polri.

Papan lapuk dan seng bocor diganti, dapur diperbaiki, lantai rumah dikeramik. Rumah itu kini tampak bagus dicat hijau khas TNI.

“Kurun waktu satu bulan, pengerjaan rehab RTLH itu selesai, bersamaan dengan kegiatan lainnya dalam sasaran fisik maupun non fisik TMMD ke-119”, sebut Dansatgas Letkol Inf Andri Suratman, yang juga Komandan Kodim 0428/Mukomuko.

Dikatakannya, dalam sasaran fisik TMMD, selain rehab RTLH juga dilakukan rehab masjid dan MCK, pembangunan infrastruktur jalan sepanjang 1,8 Km, pembangunan gorong-gorong, pembuatan sumur bor untuk manunggal air di Desa Lubuk Talang.

“Sasaran non fisiknya, ada penyuluhan Bela Negara, Hukum, bahaya Narkoba, Wawasan Kebangsaan, Ketahanan Pangan, Kamtibmas, cegah Stunting, pelayanan KB Kesehatan, Posyandu, Posbindu PTM serta pemutaran film perjuangan”, urainya.

Sambungnya, sinergitas dalam kegiatan TMMD menjadi dasar kegiatan ini. “TNI bersama masyarakat serta sinergi antar unsur Forkopimda menyatu dalam sasaran fisik dan non fisik untuk memperkokoh kemanunggalan”.

Ratusan prajurit dibantu seluruh lapisan masyarakat berpadu dalam kemanunggalan, membangun Desa Lubuk Talang (Trans Lapindo) 20 Februari 2024-20 Maret 2024. Manunggal mewujudkan impian masyarakat yang sudah lama dinanti.

  • Merubah Keadaan

Aksi ratusan prajurit dalam program TMMD merubah segalanya, salah satunya mempercepat pemerataan pembangunan. Desa di ujung kecamatan Malin Deman itu, kini berubah lebih baik.

Infrastruktur jalan dari ujung aspal diperkeras, memudahkan aktivitas anak-anak sekolah, warga maupun petani mengakut hasil perkebunan.

Beberapa fasilitas umum dibenahi, seng masjid yang bocor diganti, lantai dipasang keramik, satu unit MCK (mandi, cuci, kakus) direhab bersih dan rapi.

tmmd
Potret satgas TMMD dan masyarakat menyatu dalam kemanunggalan mengerjakan sasaran fisik TMMD ke-119

Selain itu, satu unit sumur bor dibuat untuk manunggal air bersih, memenuhi kebutuhan masyarakat Trans Lapindo. Dibangun di sudut lahan kantor desa, air bersih ditampung dalam tandon.

Ditengah desa, satu unit gorong-gorong juga dibuat, mengalirkan air sungai kecil. Beton gorong-gorong diangkat escavator, disusun Satgas TMMD dan warga, pengerjaan sasaran fisik ini menguras tenaga, salah satu titik tersulit dalam pembangunan.

“Sinergi semua pihak menjadi penting dalam pengerjaan sasaran fisik. Kekompakan Satgas TMMD dan warga membuahkan hasil. Terget sasaran fisik tuntas sesuai jadwal yang direncanakan”, ucap Letkol Andri.

Ia menjelaskan, pemilihan sasaran berdasar aspirasi masyarakat dan juga hasil peninjauan di lapangan.

“Pengerasan jalan akan memudahkan masyarakat mengangkut hasil kebun, tentunya juga memperkecil biaya transportasi. Dengan begitu, ekonomi masyarakat akan meningkat”, jelasnya.

Warga bersyukur atas sentuhan Patriot NKRI itu, Marsidi (65), Tokoh Masyarakat Trans Lapindo mengharapkan pembangunan berkesinambungan ke depan. Bukan tanpa alasan, ia menceritakan sulitnya di Trans Lapindo pasca bertransmigrasi.

“Butuh waktu 3 bulan, saya dan warga disini membersihkan lingkungan desa saat itu, sisa kayu-kayu penembangan pohon, kami singkirkan, semak belukar kami buka menjadi lahan bercocok tanam”, ungkapnya.

Ia mengisahkan, “Sejak dulu, belasan tahun belum merasakan pembangunan yang layak didesanya, khususnya fasilitas umum, mulai dari infrastruktur jalan hingga fasilitas umum lainnya pendukung desa, sehingga banyak masyarakat yang mengeluhkan keadaan itu”.

Seruput kopi hitam khas Bengkulu, Marsidi melanjutkan obrolannya. “Anak-anak sekolah sering jatuh sewaktu pagi mengendarai sepeda motor berangkat ke sekolah, baju seragamnya kotor sehingga sering tidak jadi sekolah. Kondisi jalan yang terjal dan licin saat hujan itu, menjadi tantangan tersendiri bagi warga disini untuk melintasinya setiap hari”.

Dalam kondisi itu, ban kendaraan sepeda motor harus dirantai, agar mampu melintas dijalan terjal berlumpur.

“Pengangkutan hasil kebun, luar biasa sulitnya. Hasil panen kelapa sawit dilangsir hingga ke pinggir jalan, kemudian diangkut dengan kendaraan motor modifikasi dengan ban dirantai untuk dapat dikeluarkan ke penampungan dekat jalan aspal. Biaya transportasinya cukup mahal”, keluhnya.

Apa bila warga sakit juga susah mendapatkan pelayanan kesehatan, jarak desa ke rumah sakit Kabupaten jauh, “belum lagi kami menghadapi medan jalan terjal dan berlumpur saat musim hujan. Sedangkan saat musim panas, jalan berdebu, bikin sesak nafas”, cetusnya.

Maka dari itu, dengan adanya TMMD, “Ya Allah Ya Rabbi, kami sangat berterimakasih sekali, jalan desa dikoral (pengerasan), jadi mobilitas masyarakat lebih mudah. Terutama anak-anak sekolah jadi lancar berangkat ke sekolah, hasil panen juga mudah diangkut”, ucap syukurnya malam itu.

  • Rantai Jadi Andalan

Sebagai inti sari pengamalan Pancasila, gotong royong tersirat dalam kemanunggalan TNI dan Rakyat di Trans Lapindo. Setiap hari, selama sebulan, seluruh sasaran fisik maupun non fisik terus digiatkan hingga tuntas.

Kemanunggalan TNI dan Rakyat semakin mantap, target sasaran fisik dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Kemudahan mengangkut hasil kebun menjadi vital meningkatkan perekonomian.

“Syukur Alhamdulillah, berkat TNI, kami semuanya merasakan pembangunan, anak-anak lancar ke sekolah, hasil kebun bisa diangkut dengan mudah”, tutur Srini, nenek 57 tahun, warga desa setempat.

Bayu, pelajar SMP riang bahagia, “Terima kasih bapak TNI, kami terbantu mudah ke sekolah”.

Rantai menjadi andalan sirna, ban motor tak lagi dililit rantai untuk menerjang jalang tanah berlumpur. Bayu dan kawan-kawannya berngkat ke sekolah lancar.

tmmd
Potret kemanunggalan TNI dengan Rakyat, gotong royong meratakan material koral dan batu pengerasan jalan sepanjang 1,8 Km

Kemudahan melintasi jalan setelah diperkeras juga dirasakan petani sawit, Haryadi (42). “Sekarang semua hasil panen (pertanian dan kebun) mudah diangkut untuk dijual, ekonomi kami kedepan akan meningkat. Ini tidak kami duga sebelumnya, desa kami akhirnya tersentuh pembangunan, terimakasih TNI”, ujarnya dengan penuh semangat.

Dijelaskan Dansatgas Letkol Andri, pemilihan sasaran utama TMMD memang diperuntukan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat.

“Kesulitan masyarakat kita atasi bersama dalam bingkai kemanunggalan. Fasilitas-fasilitas umum kita benahi, agar dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat”, tandasnya, sembari meninjau progres sasaran fisik siang itu.

  • Lindungi Masyarakat dengan Pengetahuan

Dansatgas Letkol Andri juga menerangkan soal sasaran non fisik TMMD. Ini untuk mastikan masyarakat dapat edukasi dan pelayanan kesehatan yang prima.

“Sebagai langkah menguatkan semangat Nasionalisme, masyarakat dibekali wawasan kebangsaan dan bela negara. Agar semakin cinta tanah air Indonesia, serta mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila”, sebutnya.

Kemudian untuk ketahanan pangan, juga diberikan edukasi terkait berbagai hal untuk mandiri soal pangan, salah satunya digiatkan menanam jagung dilahan milik bapak Marsidi, kurang lebih seluas 5 hektare.

“Di Sisi lain, juga dilakukan pemahaman pelestarian lingkungan dengan menanam pohon diarea lahan gundul, agar terhindar dari longsor dan kekeringan”, ungkapnya.

tmmd
Satgas TMMD menggandeng instansi terkait memberikan penyuluhan dan pelayanan terhadap masyarakat Trans Lapindo sebagai benteng kehidupan yang mandiri dan sejahtera

Tak hanya itu, menggandeng beberapa instansi juga dilakukan penyuluhan KB kesehatan, Cegah Stunting dan juga pelayanan Posyandu dan Posbindu PTM.

“Memastikan masyarakat hidup sehat dan tetap prima, khususnya bagi ibu hamil dan menyusui, anak-anak serta lansia”, terangnya, sembari menjelaskan, program ini merupakan langkah mensukseskan program-program pemerintah pusat di perdesaan, terutama mencegah Stunting untuk mewujudkan generasi emas pada 2045 mendatang.

Tambahnya, penyuluhan bahaya Narkoba dan juga sadar Hukum juga diadakan, “agar masyarakat, khususnya para remaja terhindar dari bahaya obat-obatan terlarang. Disamping itu, masyarakat juga melek hukum, sehingga dapat menekan angka kriminalitas dan terlindungi dari berbagai aksi kejahatan, sehingga Kamtibmas berjalan dengan baik”, pungkasnya.

  • Aspirasi

Penyebab utama Desa Lubuk Talang terpinggir dan belasan tahun tak tersentuh pembangunan karena desa ini belum Definitif.

Diungkapkan Marsidi, Tokoh Masyarakat Trans Lapindo, dirinya bersama masyarakat lainnya telah mengupayakan berbagai cara untuk desanya segera definitif, sehingga bisa merasakan pembangunan yang laik.

“Bersama Pemerintah Daerah Kabupaten Mukomuko, kami telah berusaha untuk menjadikan desa ini definitif dengan melayangkan berbagai syarakat ke Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Kan desa kalau sudah definitif dapat bantuan pemerintah melalui Dana Desa, kalau belum, mana bisa, sehingga kami sangat mengharapkan desa kami segera definitif”, keluh Marsidi.

“Nah, semoga, melalui pimpinan TNI, nanti juga bisa membantu menyampaikan ke Kemendagri untuk mendefinitifkan desa kami”, tambahnya.

Terwujudnya aspirasi ini sangat dinanti masyarakat Trans Lapindo, sehingga bisa mendapatkan hak-hak yang sama seperti masyarakat desa lainnya, atas permukiman baru yang ditempatinya belasan tahun itu.

  • Segala Kemungkinan

Berkat adanya program TMMD, segala kemungkinan kemajuan terjadi di Desa Lubuk Talang (Trans Lapindo). Dampak sasaran fisik, dari pengerasan jalan dan fasilitas umum lainnya akan membuat desa itu semakin berkembang. Terlebih, manunggal air besih, yang menjadi kebutuhan vital masyarakat saat datang musim kemarau.

tmmd
Potret jalan setelah dilakukan pengerasan oleh Satgas TMMD dan Rakyat

Kemudian, sasaran non fisik, memberikan pengetahuan jangka panjang, masyarakat Trans Lapindo akan lebih mengerti cara-cara membangun ketahanan hidup di masa depan. Seperti halnya dalam membangun ketahanan pangan, dicontohkan TNI dengan menanam jagung seluas 5 hektare itu.

Hal itu, merangsang pemikiran masyarakat untuk mengembangkan kemandirian pangan. Tidak bergantung pada distribusi pangan luar, yang saat ini, dunia pun sedang krisis pangan.

TMMD juga berdampak untuk masyarakat terhindar dari berbagai kesulitan. Penyuluhan dan pelayanan yang dimaksimalkan Satgas TMMD untuk memberi nutrisi yang baik bagi ibu hamil dan anak-anak, serta pelayanan KB dan Posbindu PTM, diharapkan mewujudkan keluarga yang bahagia dan sejahtera.

Pengetahuan bela negara dan wawasan kebangsaan, memberi semangat masyarakat untuk berpartisipasi dalam kemajuan bangsa dan negara ke depan.

Meski perdesaan, segala kemungkinan akan terwujud disana. Prospek potensi wisata alam akan menggeliatkan ekonomi. Luasnya perkebunan dan lahan pertanian juga akan mewujudkan perekonomian masyarakat yang mandiri disertai ketahanan pangan.

Untuk generasi bangsa, anak sekolah menuju sekolah lancar, anak-anak di desa itu, semakin semangat melanjutkan sekolah hingga ke perguruan tinggi di Kota Bengkulu yang jaraknya dari desa itu ratusan kilometer.

Segala potensi dan kemungkinan yang terwujud berkat kemanunggalan TNI-Rakyat pada TMMD Reguler ke-119 itu, kian menguatkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi, "TNI di Hati Rakyat". (*)

Related News