Mengantar Asa di Bergas Kidul

Kamis, 06/06/2024 - 02:23
Dansatgas Letkol Guvta saat berdiskusi dengan Bupati Semarang, H. Ngesti Nugraha di Lokasi Pengecoran Jalan
Dansatgas Letkol Guvta saat berdiskusi dengan Bupati Semarang, H. Ngesti Nugraha di Lokasi Pengecoran Jalan

Oleh: Letkol Inf Guvta Alugoro Koedoes S, Hub. Int.,M.Han (Dansatgas TMMD Reguler ke-120, Kodim 0714/Salatiga

Udara sejuk menyegarkan terasa di dataran pedesaan, seiring angin berhembus semilir membangkitkan energi positif lereng Gunung Ungaran. Geografis keindahan di sekitaran Desa Bergas Kidul, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah, bak serpihan surga menembus sanubari.

Petakan sawah tertata rapi, sebagian musim tanam, berseling padi menguning menghampar luas sejukkan mata memandang. Sejumlah tanaman palawija pun membentang di dataran, menyibak kesuburan tanah di Desa Bergas Kidul.

Pagi itu, pancaran cahaya akrab sang mentari merefleksikan kehangatan dan keceriaan musim panas, beriring derap langkah ratusan prajurit berbaris rapi, tegap berwibawa mengenakan seragam lengkap memasuki gerbang desa.

Mereka adalah prajurit TNI Angkatan Darat (AD), Angkatan Laut (AL) dan Angkatan Udara (AU) yang tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-120, Kodim 0714/Salatiga.

Langkah ratusan prajurit itu seketika berhenti, saat dikomando sosok pria tegas berwibawa. Ia adalah Dansatgas TMMD Reguler ke-120, Letkol Inf Guvta Alugoro Koedoes S, Hub. Int.,M.Han yang juga menjabat Komandan Kodim 0714/Salatiga.

Sepagi itu, suasana kehangatan penyambutan dengan seni tari Badong Selontar mewarnai kedatangannya. Kemudian, sebagian masyarakat yang masih tampak menyesap kopi hitam beranjak berkumpul turut mendengarkan arahan sang komandan.

Gethuk Kethek, seteko kopi dan teh manis tersaji dimeja. Sengaja disiapkan tanda keramahtamahan masyarakat Desa Bergas Kidul dalam penyambutan.

Teriring impian masyarakat yang lama dinanti, lantas Dansatgas memberikan komando kepada Satgas, anggota Polri, masyarakat dan regu teknis pendukung lainnya yang turut serta membantu.

“Ayo semangat, manunggal bersama masyarakat, lakukan pekerjaan sesuai tupoksi, target sasaran fisik dan non fisik kurun waktu 1 bulan”, tegas Letkol Guvta, sapaan akrabnya.

“Siap”, sahut ratusan prajurit dengan kompak.

Bergegas, ratusan prajurit itu dibagi menjadi beberapa regu menuju titik-titik sasaran fisik dan non fisik. Sementara masyarakat turut ambil bagian membantu penggarapan. Beberapa warga pun bersedia menjadi bapak dan ibu asuh Satgas TMMD, dengan menyediakan tempat tinggal dikediamannya.

“Penggarapan terbagi beberapa shift. Mengingat perlu menjaga stamina, bertahap juga dilakukan cek kesehatan”, kata Letkol Guvta, memperhatikan semua orang yang terlibat pembangunan sasaran fisik.

Beranjak siang, panas terik matahari menyengat ubun-ubun, satgas dan masyarakat memulai penggarapan sasaran fisik, mulai dari betonisasi Jalan Londho sepanjang 1.138 meter, lebar 3,5 meter dan tebal 15 Cm serta pembangunan talud sisi kanan dan sisi kiri dengan ukuran volume 330,16 M3. Kemudian, sasaran fisik tambahan pembangunan 19 unit Rumah Tak Layak Huni (RTLH), rehab masjid 1 unit, pembangunan pos kamling 1 unit dan pembangunan MCK 1 unit.

“Perhatikan detail pekerjaan, kualitas jadi prioritas”, ucap Letkol Guvta mengingatkan Satgas TMMD dengan sorot mata tajam, memastikan pengerjaan harus sesuai harapan yang telah direncanakan.

“Siap Komandan!” bergegas Satgas TMMD melaksanakan arahan dengan saksama.

  • Aspek Sasaran

Kesetaraan dan pemerataan pembangunan menjadi harapan semua masyarakat Desa Bergas Kidul. Meski sudah sedikit berkembang, namun desa ini masih memiliki banyak kendala, terutama infrastruktur jalan untuk menggerakkan perekonomian.

Hal itu menjadi vital, sebab, masih banyak jalan sempit dan sulit dilewati. Bahkan jalan itu sering mengakibatkan laka lantas.

Letkol Guvta menyebutkan, berbagai pertimbangan memilih sasaran, salah satunya untuk menggeliatkan ekonomi warga. Ini sesuai aspirasi masyarakat, yang selama ini masih mengeluhkan infrastruktur jalan yang kurang laik.

“Selain sempit, juga masih dalam kodisi tanah dan tumbuh rumput. Maka dari itu TNI bersama Rakyat melalui TMMD ini melakukan betonisasi jalan tersebut”, jelasnya.

Selain memudahkan akses, lanjut Letkol Guvta, jalan yang dibetonisasi juga merupakan jalan penghubung antar dusun, yakni Dusun Krajan dengan Dusun Kebonkliwon dan Dusun Sruwen.

Kemudian, pembangunan sasaran fisik juga masuk dalam skala prioritas, selain betonisasi, juga dilakukan pembangunan talud, sebagai penahan tanah agar jalan yang dibangun sesuai harapan masyarakat, berkualitas dan tahan lama.

“Sebelumnya, dalam mengangkut hasil pertanian dan logistik lainnya sangat sulit. Sehingga menjadi prioritas menggerakkan perekonomian masyarakat”.

Sambungnya, pembangunan sasaran fisik TMMD ini sangat strategis untuk kemajuan Desa Bergas Kidul. “Selain mewujudkan percepatan pembangunan dari Pemerintah Daerah, juga dapat mengembangkan berbagai potensi seperti pariwisata, perdagangan, pertanian maupun sektor lainnya”.

Tambahnya, TMMD juga menjadi perwujudan semangat kemanunggalan TNI dan Rakyat, mengatasi kesulitan dan mewujudkan kesejahteraan rakyat.

  • Mengantar Asa

Semilir angin menerpa, menggugurkan dedaunan kering rumpun bambu. Cuaca cerah siang itu, melegakan titik lokasi sasaran fisik pembangunan Jalan Londho. Meski panas, namun mendukung pengerjaan lebih maksimal.

Mengikis tanah, merapikan badan jalan. Satgas TMMD bersama masyarakat memastikan badan jalan sesuai rencana dengan lebar 3,5 meter. Rerumputan dibersihkan, tebing tanah dipapas, bebatuan besar dicungkil dan dipecah menggunakan palu godem, pekerjaan sasaran fisik jalan siang itu menguras tenaga.

Mengusap keringat dahi, semua prajurit bersemangat meski tersengat panasnya mentari, demi mengantar harapan masyarakat yang lama dinanti.

Tak ayal, sesekali, prajurit terpeleset dengan sepatu boothnya yang tak mampu menumpu dengan baik sesaat memijak lapisan tebing di pinggir badan jalan. Meski begitu, harapan masyarakat menderap semangat memacu pekerjaan sesuai tugas masing-masing.

Satgas dan masyarakat menderap semangat menuntaskan betonisasi Jalan Londho.
(Satgas dan masyarakat menderap semangat menuntaskan betonisasi Jalan Londho)

Di sisi lain, mesin molen terus berputar mengaduk corcoran, hasil adukan diangkut lalu dituang ke badan jalan untuk betonisasi.

Cetok, penghalus coran diayunkan prajurit, bak seorang tukang meratakan posisi badan jalan dengan ketebalan 15 Cm. Dengan lihai, pengecoran jalan siang itu menunjukkan progres yang cukup baik.

Terlihat, komunitas RX King/Relawan Satria Elang juga turut membantu pengecoran itu, menyatu dalam kemanunggalan TNI dan Rakyat.

“Jalan ini sangat bermanfaat bagi masyarakat, terutama bagi karyawan pabrik di Wilayah Begas. Selain itu, juga dapat mengurangi kerawanan kecelakaan”, kata Ketua Relawan Satria Elang, Taufik (31).

Menggunakan palu godem, Satgas TMMD memecahkan batu besar. Pecahan batu itu, selanjutnya digunakan untuk melapisi bagian bawah pengecoran jalan yang berlumpur, agar konstruksi jalan lebih kuat.
(Menggunakan palu godem, Satgas TMMD memecahkan batu besar. Pecahan batu itu, selanjutnya digunakan untuk melapisi bagian bawah pengecoran jalan yang berlumpur, agar konstruksi jalan lebih kuat)

Tengah hari, terik matahari tak sanggup lagi tertahan di ubun-ubun. Keringat bercucuran di badan, percikan tanah dan corcoran mengena di baju dan celana prajurit.

Rehat sejenak, prajurit berkumpul dibawah rindangnya rumpun bambu di sudut jalan. Melepas dahaga, seteko kopi dan es teh tersaji dengan menu gorengan. ‘Seruput’, prajurit itu menyesap kopi hitam melegakan tenggorokan sembari menyantap gorengan bersama masyarakat yang turut membantu pekerjaan.

Senyum tipis, canda tawa terurai sesaat gurauan salah satu prajurit terlontar, seolah letihnya siang itu terlupakan.

Tak lama kemudian, dari kejauhan samar-samar terlihat sosok berwibawa dengan sorot mata tajam datang menghampiri. Ia adalah Letkol Guvta yang sedang mengecek progres pembangunan sasaran fisik.

Dengan gagah, Letkol Guvta sejenak melihat-lihat progres pembangunan. Seketika mengembangkan senyuman, menandakan rasa puas atas pekerjaan itu. Lalu, dirinya menujukkan jempolnya ke arah prajurit dan masyarakat, sembari berucap “mantap!”.

Progres pengerjaan jalan terus digempur satgas dan masyarakat siang itu, kemanunggalan kian tampak erat. Sulitnya medan jalan, tak menyurutkan semangat untuk menuntaskannya.

  • Mengangkat Harkat dan Martabat Rakyat

Hari berganti, sinar surya berwajah cerah, terngiang ketokan palu pak tukang dan satgas yang sedang mengerjakan rehab rumah tak layak huni (RTLH) milik Fitriyati, seorang buruh pabrik, warga RT 02, RW 01 Dusun Kemloko.

Reot tak terawat, dinding usang dan tiang berongga lapuk. Rumah beratapkan genting itu tak lagi layak huni.

Dada berdesir, hati serasa tersayat, nestapa terlihat di kediaman rumah-rumah warga penerima rehab RTLH. Tercatat, ada 19 unit RTLH yang direhab, yang berlokasi di Dusun Kemloko, Dusun Krajan dan Dusun Srumbung. Semua itu dalam kondisi tak layak huni.

Puluhan prajurit dan pak tukang dikerahkan untuk melakukan perehaban. Mulai dari dinding, tiang-tiang, atap rumah hingga pondasi teras dan lantai.

Sumarno (70) penerima manfaat RTLH, warga RT 04 RW 08, mengucap syukur atas bantuan yang diterimanya.

“Semoga TNI selanjutnya memberikan wawasan yang luas dan memberikan bantuan kepada masyarakat yang umumnya kurang mampu”, ungkapnya dengan suara sedikit bergetar, mengungkap rasa syukur yang dialaminya. Rumahnya yang reot, kini di ‘sulap’ Satgas TNI menjadi rumah layak huni.

Di tempat lain, Babinsa Serka Suryadi mengatakan, banyaknya RTLH di Desa Bergas Kidul diakibatkan karena sulitnya ekonomi. Pekerjaannya petani, buruh pabrik dan pekerja swasta.

“Biaya hidup semakin mahal, pekerjaan semampunya, menjadi salah satu indikator kurangnya kemajuan warga. Ditambah lagi, minimnya lapangan kerja”, tuturnya menceritakan hasil komunikasi sosialnya dengan warga beberapa waktu silam.

Menampung aspirasi masyarakat, Babinsa Serka Suryadi memaksimalkan komsos (komunikasi sosial) dengan petani Desa Bergas Kidul.
(Menampung aspirasi masyarakat, Babinsa Serka Suryadi memaksimalkan komsos (komunikasi sosial) dengan petani Desa Bergas Kidul)

Kendati demikan, kata Serka Suryadi, semua RTLH sudah dimasukkan dalam program TMMD untuk direhab.

“Tentu ini sangat membantu dan juga memberikan harapan baru bagi masyarakat, khususnya penerima RTLH. Mudah-mudahan mampu mengangkat harkat dan martabatnya, sehingga tidak ada lagi stigma negatif dan hidup di bawah garis kemiskinan”, ungkapnya.

Tak hanya itu, rehab 1 unit masjid dilakukan, selain untuk menambah kelayakan tempat ibadah, juga memberi kenyamanan kepada warga yang bersilaturahmi di dalam masjid.

“Kemudian, pembangunan pos kamling dibuat untuk kamtibmas di desa, serta pembuatan 1 unit MCK di area lapangan desa guna melengkapi fasilitas umum”, tambahnya.

Dikatakan Hartadi (50), dalam rehab Masjid Baitul Quddus bersama satgas, yakni membangun sebuah menara.

“Menara itu bukan hanya simbolis semata, namun memiliki makna filosofis, bahwasannya Masjid Baitul Quddus benar-benar menjadi masjid jamik, bisa dipergunakan untuk salat Jumat, maupun untuk kegiatan keagamaan lainnya”, jelasnya, sembari menjelaskan Masjid Baitul Quddus merupakan masjid peninggalan Sunan Muria.

  • Dongkrak Ekonomi

Meningkatnya berbagai infrastruktur tentu mendorong perekonomian masyarakat, khususnya infrastruktur jalan yang dibangun Satgas TMMD.

Pj. Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (Purn) Drs. Nana Sudjana A.S., M.M., mendukung penuh program TMMD ke-120 ini. Menurutnya, selain munumbuhkan roda perekonomian juga berdampak pada kemajuan daerah.

“Dengan adanya TMMD ini, masyarakat semakin tumbuh secara ekonomi dan juga prospek mampu mengikuti perkembangan-perkembangan yang ada. Intinya, kesejahteraan masyarakat menjadi prioritas bagi kami”, jelasnya.

Sulitnya titik lokasi pengecoran jalan, memaksa prajurit melangsir material semen menggunakan sepeda motor.
(Sulitnya titik lokasi pengecoran jalan, memaksa prajurit melangsir material semen menggunakan sepeda motor)

Sementara itu, dikatakan Bupati Semarang, H. Ngesti Nugraha S.H, M.H., berkat kerjasama, sinergitas pemerintah daerah dan TNI-Polri serta masyarakat Program TMMD Reguler ke-120 berjalan dengan baik.

“Diharapkan TMMD ini mampu membuka isolasi atar dusun, menggerakkan perekonomian dan mensejahterakan masyarakat Bergas Kidul”

Lanjutnya, dalam giat itu, digelontorkan anggaran kurang lebih Rp 1,8 miliar, dengan sumber dana sharing, dari pemerintah daerah, pemerintah desa maupun swadaya masyarakat.

“Saya ucapkan terimakasih kepada TNI-Polri dan semua elemen masyarakat atas sinergitasnya dalam melakukan percepatan pembangunan daerah”, tambahnya.

Terpisah, Pangdam IV/Diponegoro, Mayjen TNI Deddy Suryadi, mengatakan bahwa keberadaan TMMD juga untuk melestarikan gotong royong antara masyarakat dan aparat pemerintah TNI-Polri.

“Kegotong-royongan itu dengan misi meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat”, tegasnya.

Menyongsong kemajuan lintas generasi, Kepala Desa Bergas Kidul, Heri Nugroho menyebutkan hadirnya program TMMD memberi dampak besar kemajuan desa.

“Pembangunan infrastruktur jalan yang menjadi penghubung antar dusun. Ini mengurai laka lantas yang sering terjadi didesa kami. Jalur baru itu juga memudahkan akses masyarakat dalam mengangkut hasil pertanian dan dalam beraktivitas, sehingga pergerakan ekonomi masyarakat semakin baik ke depannya”.

Sambungnya,”semoga TNI tetap jaya, selalu bermanfaat bagi masyarakat Jawa Tengah, khususnya Desa Begas Kidul”.

  • Membumikan Pancasila

Dansatgas Letkol Guvta terus menekankan satgas dan masyarakat untuk bahu membahu secara gotong royong dalam pengerjaan sasaran fisik.

“Penguatan gotong royong merupakan pengamalan Pancasila, sehingga masyarakat mampu menumbuh kembangkan semangat itu dalam kehidupan sehari-hari”, terangnya.

Maka dari itu, juga dilakukan sasaran non fisik dengan penyuluhan penanaman nilai-nilai luhur Pancasila dan revolusi mental dengan menggandeng Kesbangpol Kabupaten Semarang. Ini dimaksudkan agar masyarakat terhindar dari faham-faham radikalisme atau sejenisnya, juga senantiasa melestarikan gotong-royong serta memperkokoh cinta tanah air Indonesia.

“Sasaran fisik kegotong-royongan merupakan salah satu contoh dalam mewujudkan keadilan sosial, dengan begitu kesulitan masyarakat dapat diatasi dengan baik”, ucapnya.

TNI-Polri manunggal dengan masyarakat gotong-royong menggulingkan cincin gorong-gorong.
(TNI-Polri manunggal dengan masyarakat gotong-royong menggulingkan cincin gorong-gorong)

Kemudian, lanjut Letkol Guvta menerangkan, demi menjaga generasi penerus bangsa yang berdaya saing, juga dilakukan penyuluhan bahaya narkoba serta kamtibmas dengan mengundang penyuluh dari Polres Semarang.

“Penyalahgunaan narkoba menjadi perhatian serius di lintas generasi. Maka dari itu, dilakukan sosialisasi terkait bahaya narkoba, agar para generasi, khususnya di Desa Bergas Kidul dapat menghindarinya. Dalam momen penyuluhan itu juga diberikan materi terkait kamtibmas, supaya masyarakat senantiasa menjaga desanya tetap kodusif dan minim kriminalitas”.

Sambungnya, di sektor ekonomi juga dilakukan penyuluhan kewirausahaan mikro dengan mendatangkan pemateri dari Disperindagkop Kabupaten Semarang.

“Ini untuk menumbuhkan pergerakan ekonomi yang baik ke depan, mengajak masyarakat untuk menumbuhkan kreatifitas yang bernilai, sehingga mampu mendorong perekonomian, baik secara perorangan maupun kelompok”, jelasnya lagi.

Tak hanya itu, sebagai langkah percepatan pertumbuhan ekonomi, juga dilakukan penyuluhan pelestarian sumber daya ikan dan PUD (perairan umum daratan), menggandeng Dinas Pertanian Kabupaten Semarang.

“Hal itu menjadi salah satu sektor yang menjajikan untuk terus dikembangkan di Desa Bergas Kidul. Sehingga, ketahanan pangan berangsur terwujud dan ekonomi kian meningkat. Masyarakat juga diimbau senantiasa melestarikan lingkungan dengan menanam pohon, sehingga ketika musim kemarau tiba, tidak mengalami kekeringan”.

Tambahnya, “Penyuluhan penanganan sampah dan bank sampah juga digerakkan, dengan menggandeng Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Semarang. Selain untuk cinta kebersihan lingkungan, juga untuk mensosialisasikan soal sampah yang punya nilai tambah melalui bank sampah”.

Berbagai program penyuluhan tersebut senantiasa untuk masyarakat dapat membentengi diri, maju secara ekonomi dan juga memiliki daya saing ke depannya.

Membumikan Pancasila menjadi lebih bermakna, pengamalan nilai-nilai luhurnya mewujudkan keadilan sosial yang menyeluruh. Diharapkan dapat terus dijaga dan dilestarikan dalam kehidupan sehari-hari, hingga generasi mendatang.

  • Sehat Terlayani

Memastikan masyarakat Desa Bergas Kidul sehat dan terlayani dengan baik. Satgas TMMD juga melakukan beberapa penyuluhan dan pelayanan kesehatan.

Diungkapkan Ketua Persit KCK Ny Guvta Alugoro K, penyuluhan kesehatan masyarakat menggandeng Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang.

“Para ibu-ibu kita beri edukasi soal kesehatan, mulai dari pemberian gizi pada balita dan juga memberi pemahaman terkait pola hidup sehat bagi ibu hamil dan menyusui untuk menjaga kandungan dan anak-anaknya semakin sehat dan terhindar dari Stunting”, ungkapnya.

Sambungnya, para lansia di Desa Bergas Kidul juga diberi pemahaman untuk selalu memperhatikan kesehatannya, mendeteksi dini kesehatannya, agar tetap prima dalam beraktivitas.

Terpisah, soal KB (Keluarga Berencana), kata Ny Guvta, juga dilakukan penyuluhan dengan pemutaran film dan pelayanan KB, menggandeng BKKBN Kabupaten Semarang.

“Masyarakat diimbau untuk mewujudkan keluarga sehat. Bahwa persoalan KB bukan hanya menyangkut kelahiran dua anak. Namun, juga meliputi aspek kesehatan dan kesejahteraan keluarga”, tandasnya.

Pola hidup sehat menjadi perhatian khusus dalam penyuluhan itu. Ke depan, masyarakat desa dan generasi penerus diharapkan semakin cerdas dan berdaya saing, mewujudkan desa mandiri dan maju.

  • Merti Desa, Kemanunggalan TNI-Rakyat Kian Kokoh

Mbah Sriyono (65), Tokoh Masyarakat Desa Bergas Kidul mengatakan di tempatnya memiliki embung atau disebutnya ‘tok bersih secangkring’ (penampungan air untuk mengantisipasi kekeringan dimusim kemarau.

Tok bersih secangkring, hari ini kami bersihkan bersama satgas TMMD, sanlinmas dan masyarakat. Dalam kesempatan ini juga dilakukan selametan atau Merti Desa, sebagai rasa ucap syukur”, jelasnya, yang juga menerangkan tok bersih secangkring adalah lokasi air besih yang berada di tengah persawahan yang dibuat oleh dirinya dan masyarakat beberapa tahun silam, agar tidak kekurangan air meski dimusim kemarau.

Lanjut Mbah Sriyono menerangkan, bahwa Merti Desa adalah tradisi turun temurun di Jawa, atau biasa juga disebut "bersih" Desa, di mana warga Desa secara gotong royong mengadakan kegiatan prosesi adat mengarak berbagai makanan, hasil bumi dan sejenisnya, yang kemudian di arak menuju titik betonisasi.

“Masyarakat melaksanakan doa bersama. Setelah doa bersama, prosesi dilanjutkan dengan tasyakuran atau makan bersama makanan dan hasil bumi yang diarak sebelumnya”, terangnya.

Disamping itu, disekitar ‘tok bersih secangkring’, oleh satgas dan masyarakat dibangun pompa hidram, untuk mengalirkan air bersih dekat dengan permukiman, sehingga masyarakat lebih mudah mendapatkan air bersih.

Hal itu, selaras dengan amanat Kasad Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, M.Sc., untuk membantu kesulitan masyarakat dan mewujudkan manunggal air bersih di desa.

Patung Kepala Desa Bergas Kidul jaman penjajahan Belanda di pasang di atas Tugu Prasasti TMMD. Patung itu sebagai simbol perlawanan TNI-Rakyat terhadap penjajah.
(Pemasangan Patung sosok Kepala Desa Bergas Kidul jaman penjajahan Belanda di atas Tugu Prasasti TMMD. Patung itu sebagai simbol perlawanan TNI-Rakyat terhadap penjajah, serta sebagai simbol pengingat perjuangan TNI-Rakyat membangun jalan Londho)

Aris Setiadi (44), Petani, mengharapkan semua hasil pembangunan dari program TMMD berdampak pada perekonomian, sehingga dirasa manfaatnya seluruh masyarakat.

“Saya ucapkan terimakasih kepada TNI dan para pihak yang tergabung dalam Satgas, yang sudah memberi sumbangsih tenaga dan fikirannya membangun desa kami. Ini tentu sangat membantu dan berdampak bagi ekonomi”, ungkapnya, sambil menceritakan lokasi perkembunannya yang terintegrasi, selain menanam cabai, kacang panjang serta sayuran lainnya, juga budidaya ayam petelor.

Senada disampaikan, Sugiyanto (55), ketua Kesenian Badong Selontar, bahwa masyarakat merasakan manfaat yang luar biasa berkat TMMD. Pembangunan berdampak juga untuk kesenian.

“Mudahnya akses jalan dan juga meningkatnya ekonomi, tentu akan menumbuhkan prospek baru di desa. Kesenian juga berpotensi berkembang nantinya”, katanya disela-sela menampilkan jaranan berpadu tarian khas Badong Selontar.

Sementara itu, Gus Malik, Tokoh Pemuda Bergas Kidul mengucapkan terimakasih kepada TNI.

“Mudah-mudahan Begas Kidul semakin baik dan maju ke depannya”.

Dirinya juga mengajak masyarakat untuk senantiasa menjaga dan merawat hasil pembangunan, sehingga semakin bermanfaat bagi seluruh masyarakat.

Desa Bergas Kidul semakin prospek maju secara ekonomi maupun kemandiriannya. Segala potensi yang ada semakin maksimal berkembang nantinya, khususnya di tiga dusun itu.

TNI hadir menjawab kesulitan masyarakat, kemanunggalan menjadi pilar percepatan pembangunan. Harapan itu kian terwujud berkat TNI, menyiratkan TNI di Hati Rakyat. (*)

Related News