Sejarah Tersembunyi Cikal Bakal Majapahit di Bumi Ken Arok

Sabtu, 20/02/2021 - 16:28
Sejarah Tersembunyi Cikal Bakal Majapahit di Bumi Ken Arok
Sejarah Tersembunyi Cikal Bakal Majapahit di Bumi Ken Arok

EKSPEDISI HANTANG JILID 2

Klikwarta.com, Malang - Hutan yang secara administratif berada di Dusun Baraan, Desa Pait, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang, menyimpan misteri cikal bakal Majapahit. 

Dikatakan misteri, lantaran sejarah secara oral turun temurun ini tidak tercantum dalam literasi pengetahuan umum, dalam artian tersembunyi. Sejarah tersebut, berada di tengah antara mitos dan realitas, faktanya masih tanda tanya, atau bisa dikatakan benar dan bisa tidak.

Cak Hari, pemerhati budaya, menelusuri jejak sejarah tersembunyi tersebut, sekaligus melihat sisi lainnya, yaitu potensi desa, sabtu (20/2/2021). 

Geografis Desa Pait yang eksotis, ditunjang areal pertanian berdataran miring, memiliki daya magnet untuk menikmati pemandangan alamnya. Sungai yang dipenuhi bebatuan besar dan cukup deras, menarik siapapun yang melihatnya. Selain itu, jalanan pedesaan yang naik turun permukaannya, cocok digunakan untuk kegiatan kepramukaan atau lintas alam.

Tak cuma itu, Desa Pait bisa disebut Desa Pancasilais, khususnya sila pertama, lantaran ada berbagai tempat ibadah dan umat beragama yang hidup rukun.

Dikatakan Cak Hari, menurut mitos yang berkembang, alas atau hutan Mukodam yang terletak di Desa Jombok, Kecamatan Ngantang, terkorelasi dengan hutan yang berada di Desa Pait, Kecamatan Kasembon. 

Entah kebetulan atau asal gathuk, di Desa Pait ada namanya Dusun Baraan, tempat Raden Wijaya mengungsi, pasca Singhasari diserang Jayakatwang. Mitosnya, nama Brawijaya, Raja Majapahit, diambil dari nama Baraan dan Wijaya, atau Barak Wijaya, yang artinya markas Wijaya.

"Kemungkinan, nama Raja Majapahit, Brawijaya, diambil dari sini, yaitu dari kata Dusun Baraan dan Raden Wijaya, atau Barak Wijaya, atau markasnya Wijaya. Kebetulan atau asal gathuk, di Desa Jombok, tidak jauh dari sini ada alas atau hutan Mukodam".

Lanjutnya, menurut mitos turun temurun, kata "pahit" terkorelasi dengan nama Majapahit, diambil dari nama Desa Pait. Versi lain menyebutkan, kata pait diartikan masa-masa babad Majapahit yang dilakoni Raden Wijaya, atau masa pait dalam artian bersusah-susah dulu sebelum mencapai kesuksesan. Selain itu, versi lain menyebut masa pait diartikan masa-masa susah Raden Wijaya, pasca Singhasari diserbu Jayakatwang.

"Entah ini mitos atau cerita, nama Majapahit diambil dari desa ini. Pait diartikan bersusah-susah dulu sebelum Majapahit bangkit, atau masa susah, setelah Singhasari dihancurkan Jayakatwang".

Memasuki kawasan hutan di Dusun Baraan, tepatnya tempat Raden Wijaya memperoleh petunjuk, sekaligus tempat pengungsian, terdapat 6 batu yang ditata membentuk lingkaran di atas permukaan tanah. Kawasan itu sendiri cukup menarik, lantaran tanahnya berwarna merah, atau warga sekitar menyebutnya "lemah abang", dan masuk areal perbukitan Anjasmoro.

Dikatakan Cak Hari, dulu pernah ada orang yang mengambil 2 batu dari tempat tersebut, namun seminggu kemudian, batu itu dikembalikan. Batu dikembalikan, lantaran orang tersebut diganggu sosok astral setiap hari.

"Menurut cerita warga sini, dulu pernah ada yang mengambil batu di sini, tapi seminggu kemudian dikembalikan. Saya berpesan, jangan mengambil sesuatu yang bukan miliknya, justru rawatlah, peliharalah, segala benda peninggalan leluhur kita".

Ada 2 titik yang diyakini warga setempat, dijadikan tempat Raden Wijaya bermeditasi, sekaligus mendapat petunjuk dari Sang Pencipta untuk mendirikan kerajaan, dalam artian bangkitnya Majapahit atau babad Majapahit.

Di kawasan lemah abang inilah, kemungkinan dilakukan perencanaan maupun penyusunan kekuatan militer Raden Wijaya, guna mengambil alih atau merebut kembali kekuasaan Trah Singhasari. Bahkan ada yang menyebut, tempat ini dijadikan perencanaan memukul mundur pasukan Tartar dari tanah Jawa.

Menurut Cak Hari, ada filosofi yang erat dengan tempat pengungsian Raden Wijaya, yaitu rencana manusia tidaklah sama dengan rencana Tuhan. Sesuai rencana manusia (Jayakatwang), Singhasari bubar dan Trah Singhasari tenggelam, fakta berkata lain, muncul Kerajaan Majapahit dari Trah Singhasari.

Tak tanggung-tanggung, Majapahit menjadi penguasa Nusantara, sekaligus adidaya 2 matra militer terbesar pada masanya, darat dan laut (maritim). Sejarah emas tercatat pada masa Majapahit, sekaligus menyamai rekor Kerajaan Sriwijaya.

Cak Hari berharap, penelusuran yang dilakukannya bisa menarik perhatian publik untuk kembali menoleh kebelakang, terutama jejak sejarah masa lalu.

"Ada doktrin yang sengaja atau tidak sengaja ditanamkan di otak kita, bahwa leluhur kita ini kuno atau jadul, faktanya, leluhur kita mengenal berbagai ilmu astronomi, kegempaan, tanda-tanda alam, bahkan ada peninggalan leluhur kita yang kalau dipraktekan jaman sekarang, belum tentu kita bisa membuatnya".

(Pewarta : Dodik)

Related News

Loading...
loading...