PIP Dorong Murid Kota Dumai Optimis Raih Masa Depan Gemilang dan Gapai Cita-Cita

Selasa, 09/06/2026 - 18:23
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq

Klikwarta.comDumai - Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq mengapresiasi capaian pendidikan di Kota Dumai, Provinsi Riau. Hal itu terlihat dari indikator pendidikan di Kota Dumai yang menunjukkan tren positif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Dumai, rata-rata lama sekolah (RLS) meningkat dari 10,15 tahun pada 2022 menjadi 10,29 tahun pada 2024 dan 10.30 pada tahun 2025, sedangkan Harapan Lama Sekolah tahun 2025 telah mencapai 13.36 pada tahun 2025.

“Data BPS ini memperlihatkan capaian pendidikan di Kota Dumai telah melampaui nasional,“ kata Wamen Fajar dalam kunjungannya ke Sekolah Maitreyawira, Kota Dumai, beberapa waktu lalu.

Capaian positif tersebut tidak lepas dari realisasi Penyaluran Program Indonesia Pintar (PIP) di Kota Dumai. Sampai bulan Mei 2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah menyalurkan bantuan pendidikan PIP kepada 7.579 murid di Kota Dumai. Dengan total anggaran lebih dari Rp4,6 miliar, penyaluran PIP tersebut menyasar kepada 4.195 murid jenjang SD, 2.135 murid jenjang SMP, 584 murid jenjang SMA, dan 665 murid jenjang SMK.

Para murid penerima PIP mengakui kebermanfaatan dana PIP dalam meringankan beban orang tua dan memenuhi kebutuhan sekolah. Jolin, murid kelas 9 di SMP Maitreyawira, mengungkapkan bahwa dana PIP yang diterima sepenuhnya ia gunakan untuk kebutuhan sekolah sehingga mampu mengurangi beban orang tuanya. 

Jolin menyebut dirinya mulai menerima PIP sejak duduk di kelas delapan SMP. Informasi mengenai PIP pertama kali ia dapatkan dari pihak sekolah yang kemudian membantunya dalam proses administrasi, aktivasi rekening, dan pencairan PIP.
“Waktu itu saya dipanggil ke ruang guru dan diberi surat untuk dibawa ke bank. Setelah itu saya menginformasikan ke orang tua dan melakukan aktivasi rekening sampai uang bantuan PIP bisa diterima,” kata Jolin.

Dampak PIP juga dirasakan oleh Aprillia Givanny, murid SMK Maitreyawira jurusan Akuntansi. April merupakan anak kedua dari tiga bersaudara yang menerima bantuan PIP sejak kelas 10 SMK. Baginya, PIP mampu menutupi sebagian kebutuhan pendidikan dan biaya penunjang lainnya, seperti transportasi ke sekolah dan alat tulis.

April menerima PIP diawali dari pendataan kondisi ekonomi keluarga yang dilakukan sekolah saat registrasi masuk SMK. Saat ini, ayahnya bekerja sebagai juru masak di sebuah restoran dan ibunya baru mulai bekerja setelah sebelumnya berfokus mengurus keluarga. 

“Kadang kondisi ekonomi keluarga naik turun. Saat sedang sulit, bantuan PIP benar-benar membantu untuk memenuhi kebutuhan pendidikan maupun kebutuhan lainnya,” tutur April.

Senada dengan Jolin dan April, PIP juga berdampak dan memotivasi Alan Seven Cordiassimus Dakhi untuk menjadi ahli teknologi di masa depan.Siswa SMK Maitreyawira itu  merupakan seorang anak yang lahir dari keluarga sederhana, ayahnya bekerja sebagai buruh, sementara ibunya merupakan seorang ibu rumah tangga. Sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, Alan memahami pentingnya pendidikan sebagai jalan untuk meningkatkan taraf hidup dan ekonomi keluarga.

Baginya, PIP tidak hanya memberikan dukungan secara finansial, tetapi juga menjadi motivasi untuk belajar lebih giat dan meraih cita-cita. Lebih lanjut, Alan telah menerima PIP sejak SD, namun sempat terhenti saat masuk jenjang SMP, dan kemudian ia kembali mendapatkan PIP ketika bersekolah di SMK.

“Dengan PIP ini, saya semakin semangat belajar dan ingin menata masa depan yang lebih baik untuk membantu meningkatkan kondisi ekonomi keluarga. Setelah lulus SMK, saya ingin kuliah di jurusan Teknik Informatika agar saya bisa menjadi seorang Developer Program,” terang Alan.

*Integrasi PKH, PIP dan KIP Kuliah*

Sementara itu, Kepala Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan (Puslapdik), Adhika Ganendra, mengatakan bahwa program PIP akan diintegrasikan dengan Program Keluarga Harapan (PKH) milik Kementerian Sosial dan KIP Kuliah milik Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi.

"Dengan pengintegrasian itu, murid yang keluarganya terdaftar sebagai penerima bansos PKH, akan otomatis menerima PIP dan setelah menerima PIP. Jika lolos seleksi perguruan tinggi, baik melalui jalur SNBP, SNBT maupun jalur lainnya, akan otomatis menerima KIP Kuliah, tanpa harus diseleksi lagi," ungkap Adhika.

Selanjutnya, Adhika menuturkan bahwa mulai tahun ajaran 2026/2027, cakupan PIP akan diperluas, dengan menjangkau murid Taman Kanak-Kanak (TK). Perluasan PIP ini dilakukan untuk mendukung program Wajib Belajar 13 tahun dengan sasaran lebih dari 888.000 murid TK.

“Perluasan PIP ini dilakukan untuk memastikan akses pendidikan bagi keluarga tidak mampu sejak jenjang TK serta meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM),“ tutup Adhika. (**) 

Berita Terkait