Wali Kota Blitar Terima Kunjungan Wakil Wali Kota Bontang, Saling Tukar Pengalaman Pengelolaan Birokrasi

Selasa, 20/10/2026 - 09:15
Wali Kota Blitar Terima Kunjungan Wakil Wali Kota Bontang di Kantor Pemerintah Kota Blitar, Jumat 16 Oktober 2026. (Foto : Ist.)

Wali Kota Blitar Terima Kunjungan Wakil Wali Kota Bontang di Kantor Pemerintah Kota Blitar, Jumat 16 Oktober 2026. (Foto : Ist.)

Klikwarta.com | Kota Blitar – Prestasi pemerintahan bukan semata soal besarnya anggaran atau lengkapnya fasilitas. Di balik birokrasi yang berkinerja tinggi, ada kepemimpinan yang kuat, penempatan aparatur sesuai kompetensi, serta komitmen membangun pelayanan publik yang berorientasi pada masyarakat.

 

Prinsip inilah yang membawa Pemerintah Kota Bontang, Kalimantan Timur, ke Kota Blitar untuk mempelajari praktik tata kelola pemerintahan.

 

Dipimpin Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, rombongan tersebut diterima langsung Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin atau Mas Ibbin di Ruang Samapta Loka, Jumat (16/10/2026). 

 

Kunjungan ini menjadi momentum pertukaran pengalaman mengenai pengelolaan birokrasi, akuntabilitas kinerja, dan strategi peningkatan kualitas pelayanan publik. Bagi Pemkot Bontang, Kota Blitar bukan sekadar tujuan studi komparatif.

 

Kota ini dipandang memiliki rekam jejak kinerja pemerintahan yang layak dipelajari, mulai dari penataan wilayah dan kebersihan lingkungan hingga capaian dalam berbagai indikator kinerja pemerintahan. Agus Haris secara terbuka mengapresiasi kepemimpinan Mas Ibbin yang dinilainya mampu mendorong birokrasi bekerja lebih baik.

 

Ia menilai, capaian Kota Blitar tidak lepas dari integritas pemimpin dan kemampuannya mengelola organisasi pemerintahan.

 

“Kami melihat penataan kotanya sudah sangat bagus, sangat bersih. Tata kelola pemerintahan internalnya juga sangat baik berkat kepemimpinan dan integritas wali kota. Kami sudah melihat langsung, termasuk berbagai prestasi yang telah dicapai,” ujar Agus Haris.

 

Menurut Agus, keputusan menjadikan Kota Blitar sebagai lokasi pembelajaran didasarkan pada fakta, data, dan berbagai capaian yang telah diraih. Pengalaman tersebut dinilai relevan sebagai referensi bagi Bontang dalam memperkuat kinerja pemerintahan dan pembangunan daerah.

 

Salah satu pelajaran penting yang disoroti Agus Haris adalah bahwa keberhasilan pemerintahan tidak otomatis tercipta hanya karena dukungan anggaran besar dan fasilitas memadai. Lebih dari itu, kualitas sumber daya manusia dan kemampuan pemimpin menempatkan aparatur secara tepat menjadi faktor penentu efektivitas organisasi.

 

Birokrasi membutuhkan orang yang kompeten, berada pada posisi yang sesuai, serta bekerja berdasarkan tanggung jawab dan target kinerja yang jelas.

 

“Walaupun fasilitas banyak dan anggaran besar, kalau sumber daya manusianya tidak mampu, pemimpinnya tidak mampu mengelola dan menempatkan aparatur sesuai karakteristiknya, tentu akan sulit. Saya melihat gambaran pengelolaan yang baik itu di Kota Blitar,” katanya.

 

Pandangan tersebut menegaskan bahwa pembenahan birokrasi tidak cukup dilakukan melalui penambahan fasilitas atau program baru. Penataan aparatur, penguatan kapasitas organisasi, dan kepemimpinan yang mampu menggerakkan seluruh perangkat daerah juga menjadi bagian penting dari reformasi pemerintahan.

 

Agus berharap pengalaman yang diperoleh dari Kota Blitar dapat diadaptasi dan diterapkan di Bontang, terutama untuk meningkatkan efektivitas birokrasi sekaligus memperkuat kesiapan daerah menghadapi agenda pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.

 

“Kami bangga bisa berkunjung dan belajar di sini. Apa yang sudah dilakukan Pemerintah Kota Blitar, insyaallah akan kami adaptasi dan implementasikan di Bontang,” tegasnya.

 

Sementara itu, Wali Kota Blitar Mas Ibbin menyambut positif kunjungan Pemkot Bontang. Ia menegaskan, pertukaran pengalaman antardaerah seharusnya tidak berhenti pada kunjungan seremonial, tetapi berkembang menjadi kolaborasi yang menghasilkan perbaikan nyata.

 

“Kami saling bertukar pandangan mengenai keunggulan masing-masing daerah. Ada banyak praktik baik, baik di Kota Blitar maupun Bontang, yang bisa dipelajari bersama untuk memperkuat tata kelola pemerintahan,” ujar Mas Ibbin.

 

Salah satu aspek yang menjadi perhatian rombongan Bontang ialah penerapan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP). Kota Blitar disebut mampu mempertahankan predikat SAKIP A atau kategori Sangat Baik, yang mencerminkan konsistensi dalam pengelolaan dan pertanggungjawaban kinerja instansi pemerintah.

 

Tak hanya itu, Kota Blitar juga mencatat sejumlah capaian di tingkat nasional. Pada peringatan Hari Otonomi Daerah ke-30, April 2026, Kota Blitar meraih peringkat ketiga dalam kategori kota berkinerja tertinggi di Indonesia berdasarkan penghargaan Kementerian Dalam Negeri.

 

Di bidang pengelolaan aparatur, Kota Blitar menempati peringkat keenam nasional dalam Indeks Pengelolaan Aparatur Sipil Negara (IP ASN). Sementara itu, dalam Survei Penilaian Integritas (SPI) Pendidikan KPK 2026, Kota Blitar mencatat indeks 81,03 dengan kategori Adaptif. 

 

Berdasarkan pemeringkatan yang dipublikasikan Jatimstats, capaian tersebut menempatkan Kota Blitar di posisi pertama nasional dalam pemeringkatan integritas pendidikan. Deretan capaian tersebut memperkuat posisi Kota Blitar sebagai salah satu daerah yang menarik untuk dijadikan referensi dalam pengembangan tata kelola pemerintahan. 

 

Namun, bagi Mas Ibbin, penghargaan bukanlah garis akhir. Prestasi, menurutnya, harus menjadi pijakan untuk memperbaiki kinerja aparatur secara berkelanjutan.

 

Ukuran keberhasilan pemerintahan pada akhirnya bukan hanya banyaknya penghargaan yang diperoleh, melainkan sejauh mana kebijakan dan program pemerintah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

 

Mas Ibbin menekankan pentingnya membangun birokrasi yang adaptif, transparan, profesional, dan mampu merespons kebutuhan publik. Dalam konteks tersebut, pertukaran praktik baik antardaerah menjadi peluang untuk menemukan pendekatan baru dalam meningkatkan kualitas pelayanan.

 

Ia juga menegaskan bahwa Kota Blitar tidak hanya ingin menjadi daerah yang dikunjungi untuk belajar, tetapi terbuka menerima inovasi dari daerah lain, termasuk Bontang.

 

“Kami berharap pertemuan ini tidak berhenti pada diskusi, tetapi dapat ditindaklanjuti menjadi perbaikan nyata dalam penyelenggaraan pemerintahan. Kota Blitar juga terbuka untuk belajar dari berbagai inovasi yang dikembangkan Kota Bontang,” pungkasnya.

Berita Terkait