BNPB Sosialisasi Portal Literasi Sejarah Bencana dan InaRISK Personal

Kamis, 15/10/2026 - 16:42
Direktur Sistem Penanggulangan Bencana BNPB, Agus Wibowo, saat memberikan sambutan dalam sosialisasi Portal Literasi Sejarah Bencana dan InaRISK Personal di Serang, Banten pada Rabu (14/10)

Direktur Sistem Penanggulangan Bencana BNPB, Agus Wibowo, saat memberikan sambutan dalam sosialisasi Portal Literasi Sejarah Bencana dan InaRISK Personal di Serang, Banten pada Rabu (14/10)

Klikwarta.com, Serang -  Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Direktorat Sistem Penanggulangan Bencana mendorong penguatan literasi kebencanaan melalui pemanfaatan sistem informasi kebencanaan. Upaya ini dilakukan melalui sosialisasi Portal Literasi Sejarah Bencana dan InaRISK Personal sebagai sarana untuk memahami pembelajaran dari sejarah kejadian bencana masa lalu sekaligus mengenali potensi risiko bencana di lingkungan sekitar.

Kegiatan yang dilaksanakan pada Rabu (14/10) di Kantor Dinas Perhubungan Provinsi Banten ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) 2026 di Provinsi Banten dengan tema “Ngariksa Bumi Nusantara”.

Kegiatan diawali dengan paparan dari Analis Kebencanaan Ahli Madya Direktorat Sistem Penanggulangan Bencana BNPB, Rucky Nurul Wursanty Dewi, yang menekankan pentingnya pergeseran pendekatan penanggulangan bencana dari yang berfokus pada respons menjadi pendekatan preventif melalui peningkatan kesadaran, pengetahuan, dan pemahaman masyarakat terhadap ancaman.

Disampaikan bahwa Provinsi Banten merupakan ruang belajar terbaik dengan rekam jejak sejarah kebencanaan, mulai dari letusan Gunung Krakatau 1883 yang mengubah iklim dunia hingga tsunami Selat Sunda 2018 yang menjadi pengingat bahwa tsunami tidak selalu didahului gempa besar. Jika ingatan tersebut hilang, risiko yang sama berpotensi berulang. Sejarah tidak hanya soal tanggal dan jumlah korban, tetapi tentang bagaimana masyarakat bertahan, beradaptasi, dan mewariskan pengetahuan sebagai fondasi ketangguhan.

BNPB mengembangkan Portal Literasi Sejarah Bencana dan InaRISK Personal sebagai dua platform yang saling melengkapi. Jika portal sejarah menjadi perpustakaan memori kebencanaan bangsa, maka InaRISK Personal menjadi kompas risiko di genggaman masyarakat.

Dalam keynote speech Direktur Sistem Penanggulangan Bencana BNPB, Agus Wibowo, menjelaskan bahwa esensi sosialisasi ini adalah memperkuat kemampuan masyarakat untuk belajar dari sejarah, memahami risiko saat ini, dan melakukan tindakan pencegahan sebelum bencana terjadi.

.

“Sejarah kebencanaan tidak seharusnya hanya dipahami sebagai catatan tanggal dan jumlah korban. Sejarah juga menyimpan pengalaman masyarakat, perubahan kondisi alam, pengetahuan lokal, serta pembelajaran yang dapat digunakan untuk memperbaiki upaya mitigasi dan kesiapsiagaan. Saat ini hampir semua orang memiliki gawai, dengan InaRISK Personal, telepon seluler tidak hanya untuk komunikasi tetapi menjadi alat untuk menyelamatkan diri. Masyarakat bisa melihat, di titik ia berdiri, ancaman apa yang mengintai dan apa yang harus disiapkan,” ujar Agus.

Agus menambahkan, peristiwa tsunami Selat Sunda tahun 2018 menjadi pembelajaran penting karena dipicu oleh longsoran tubuh Gunung Anak Krakatau tanpa didahului gempa tektonik, sehingga menunjukkan pentingnya memahami berbagai mekanisme pembangkit tsunami dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat pesisir.

Pada sesi berikutnya, Analis Kebencanaan Ahli Pertama, S. Yunita Sofiana Dewi, menjelaskan bahwa Portal Literasi Sejarah Bencana dirintis sejak 2019 untuk menghimpun dan menyebarluaskan pengetahuan sejarah kebencanaan sebagai bahan edukasi publik, pembelajaran, dan penyusunan kebijakan. Portal tersebut menyediakan berbagai sumber informasi berupa buku elektronik, artikel, poster, video, publikasi ilmiah, peta cerita atau _story map_, data penelitian, serta arsip statis tsunami Aceh.

Pengembangannya juga menghubungkan khazanah pengetahuan lintas negara dan lintas generasi, mulai dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Data dan Informasi Bencana Indonesia (DIBI), Mercy UNS, hingga arsip KITLV Leiden di Belanda yang menyimpan catatan kolonial tentang letusan Krakatau. Melalui portal tersebut, ingatan sejarah yang banyak tersimpan di luar negeri ditarik kembali untuk pembelajaran generasi muda. Masyarakat dapat mengakses portal melalui laman https://sejarah.dibi.bnpb.go.id.

BNPB juga mendorong partisipasi publik melalui Lomba Karya Sejarah Bencana 2026 dengan tema “Merawat Ingatan, Mewariskan Ketangguhan: Kearifan Lokal dalam Sejarah Bencana Indonesia” untuk kategori artikel, buku cerita bergambar, dan video pendek.

Analis Kebencanaan Ahli Pertama, Didik Kurniawan, memaparkan InaRISK sebagai platform kajian risiko bencana yang menyediakan informasi ancaman, kerentanan, dan kapasitas wilayah. InaRISK Web diluncurkan pada 2016 dan InaRISK Personal pada 2017 untuk memudahkan akses melalui perangkat seluler.

Disampaikan bahwa kini tersedia dua varian untuk menjawab tantangan di lapangan, yaitu InaRISK Reguler bagi petugas dan relawan dengan fitur notifikasi, panduan mitigasi, penilaian cepat bangunan sederhana, survei kesiapsiagaan, dan pelaporan, serta InaRISK Lite yang dirancang ringan, hemat memori, dan dapat berjalan di wilayah dengan keterbatasan jaringan.

InaRISK Personal juga dilengkapi fitur edukasi keselamatan, Assessment Cepat Bangunan Sederhana (ACEBS), dukungan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), aksesibilitas bagi penyandang disabilitas melalui InaRISK Difarisk, serta pintasan panggilan darurat atau SOS. Masyarakat diajak untuk tidak menunggu sirine berbunyi baru mencari jalur evakuasi, melainkan menyepakati jalur evakuasi, titik kumpul, dan rencana komunikasi keluarga sejak dini melalui pemanfaatan aplikasi.

Sosialisasi ini menegaskan pentingnya menghubungkan pembelajaran sejarah dengan informasi risiko saat ini dan tindakan nyata di masyarakat, seperti mengenali ancaman di sekitar tempat tinggal, menentukan jalur evakuasi, menyepakati rencana komunikasi keluarga, menyiapkan tas siaga, serta memahami akses informasi dan layanan darurat.

Melalui kolaborasi pemerintah pusat dan daerah, akademisi, komunitas, dan masyarakat, BNPB mendorong pemanfaatan teknologi informasi dan dokumentasi sejarah untuk memperkuat literasi kebencanaan demi mewujudkan masyarakat yang lebih tangguh.

(Kontributor : Arif)

Berita Terkait