Pendidikan : Ilmu Pengetahuan Dasar dalam Kehidupan

Jumat, 07/07/2023 - 17:57
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Klikwarta.com - Apa pentingnya ilmu dalam kehidupan?, dalam ucapan Imam Syafi'i mengatakan “  jika ingin sukses di dunia mesti pintar, mesti punya ilmu, belajar”. Seperti dalam Alquran, wahyu pertama ialah Iqra (Baca), dengan membaca, memberikan banyak pengetahuan, potensi tinggi dalam peningkatan peningkatan status kedudukan tinggi di dunia. Dalam ukuran materi duniawi, status kedudukan ilmu sangat melekat, S1, S2, S3, akan sangat berbeda dalam kehormatannya bukan?

Ilmu bukan sekedar pengetahuan, melainkan kumpulan pemahaman tentang hal hal kecil yang dapat disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut ilmu filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berpikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya.

Dalam kehidupan, manusia lahir ke dunia dalam beberapa kecenderungan dan kemampuan tertentu. Oleh karena itu pandangan manusia terhadap jiwa berbeda beda. Lebih dari 2000 tahun yang lalu, manusia belum memiliki pengetahuan sama sekali tentang ini. Dalam ilmu filsafat Ilmu pengetahuan adalah produk dari epistemologi, dengan kata lain ilmu terbentuk dari 3 cabang filsafat yakni ontologi, epistemologi dan aksiologi, jika ketiga cabang itu terpenuhi berarti sah dan diakui sebagai sebuah ilmu.

Sebelum manusia lahir, jiwa manusia telah disiapkan dalam suatu tempat, kemudian mereka diberi sifat dan potensi untuk manusia nanti di dunia. Sedikit banyak hal tersebut terlintas dalam pandangan manusia, “saya lahir untuk jadi apa? ‘, “seharusnya hidup saya buat jadi apa? “. Mungkin beberapa dari kita sebagai manusia sudah beruntung karena sejak kecil sudah memiliki pandangan dalam hidup untuk menjadi seperti apa, namun tidak semua manusia memiliki keberuntungan itu.

Sebagian besar dari kita sebagai manusia tidak memiliki bakat yang cukup, atau bahkan sebagian besar lainnya bingung karena memiliki banyak bakat yang membuatnya bingung untuk menjadi seperti apa. Dalam pandangan Apriorism klasik, ketika jiwa dikirim ke dunia dalam tubuh manusia, semuanya sudah lengkap dengan pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki untuk digunakan dalam dunia ini, sehingga belajar hanya sebagai proses untuk mengeluarkan dan mengasah potensi tersebut di dalam kehidupan.

Pandangan ilmu menurut beberapa filsuf terdapat berbagai penjelasan, adapun dalam pandangan Ibnu Sina, ilmu pengetahuan itu Hierarkis. Masing-masing memiliki tingkatannya sendiri, dimana yang satu lebih tinggi dari yang lainnya. ia mengklasifikasikan ilmu menjadi dua yaitu ilmu teoritis dan ilmu praktis. Untuk ilmu Teoritis dimaksudkan sebagai ilmu yang mencari tentang kebenaran, sedangkan ilmu praktis dimaksudkan sebagai ilmu yang mencari kebaikan.

Di dunia Islam, selain Ibnu Sina sebetulnya terdapat filsuf lain yang terkait tema klasifikasi ini, seperti Al-Ghazali. Al-Ghazali banyak menekankan persoalan ilmu-ilmu intelektual dan ilmu-ilmu religious. Yang dimaksud dengan ilmu-ilmu intelektual adalah ilmu yang dicapai oleh intelek manusia semata, sedangkan ilmu-ilmu religious adalah ilmu-ilmu yang diperoleh para Nabi melalui wahyunya.

Klasifikasi ilmu pada dasarnya memiliki banyak pengertian, tergantung bagaimana manusia dapat memahami makna yang sebenarnya mengenai ilmu pengetahuan, dan pikiran kita sebagai manusia sebenarnya bisa memikirkan sesuatu yang benar benar baru dalam menambah pengetahuan kita diluar hal daripada hal yang pernah kita alami, lihat, dan pelajari secara langsung.

Berita Terkait