Literasi Digital Bekali Etika Digital Bagi Siswa SMP Kota Batam

Kamis, 13/04/2023 - 18:02
Webinar Literasi Digital

Webinar Literasi Digital

Klikwarta.com, Kota Batam - Rangkaian webinar literasi digital di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau telah bergulir pada Kamis (13/4) pukul 10.00-12.00 WIB. Kegiatan webinar yang bertajuk tema “Etika Pelajar di Dunia Digital” merupakan kerja sama Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dengan seluruh SMP Kota Batam dengan melibatkan para siswa sebagai audiensnya.

Kegiatan yang diinisiasi dan diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia ini bertujuan mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif sehingga dapat meningkatkan kemampuan kognitifnya untuk mengidentifikasi hoaks serta mencegah terpapar berbagai dampak negatif penggunaan internet.

f

Pengguna internet di Indonesia pada awal Tahun 2022 mencapai 204,7 juta orang atau meningkat 2,1 juta dari tahun sebelumnya. Namun, penggunaan internet tersebut membawa berbagai risiko, karena itu peningkatan penggunaan teknologi internet perlu diimbangi dengan kemampuan literasi digital yang baik agar masyarakat dapat memanfaatkan teknologi digital dengan bijak dan tepat.

Survei Indeks Literasi Digital Nasional yang dilakukan oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi dan Katadata Insight Center pada tahun 2021 menunjukkan skor atau tingkat literasi digital masyarakat Indonesia berada pada angka 3,49 dari 5,00.

Kemudian pada tahun 2022, hasil survei Indeks Literasi Digital Nasional mengalami kenaikan dari 3,49 poin menjadi 3,54 poin dari skala 5,00. Hasil ini dianggap menunjukkan bahwa literasi digital masyarakat Indonesia saat ini berada di kategori sedang dibandingkan dengan tahun lalu.

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika, Kementrian Komunikasi dan Informatika Semuel Abrijani Pangerapan menilai indeks literasi digital Indonesia belum mencapai kategori baik. “Angka ini perlu terus kita tingkatkan dan menjadi tugas kita bersama untuk membekali masyarakat kita dengan kemampuan literasi digital,” katanya melalui virtual. Dalam konteks inilah webinar literasi digital yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia menjadi agenda yang amat strategis dan krusial, dalam membekali seluruh masyarakat Indonesia beraktifitas di ranah digital.

Pada webinar yang menyasar target segmen pelajar SMP ini, sukses dihadiri oleh sekitar 1000 peserta daring, dan juga dihadiri beberapa narasumber yang berkompeten dalam bidangnya. Kegiatan tersebut diawali dengan sambutan dari Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Semuel Abrijani Pangerapan, dihadiri narasumber Arief Rama Syarif (Founder - Yayasan Komunitas Open Source), kemudian narasumber Qurniadi, M.Pd (Sekretaris Dinas Pendidikan), serta Reni Risti Yanti (Presenter) bertindak sebagai Key Opinion Leader (KOL), Siti Kusherkatun, S.Pd.I (Asih) sebagai juru bahasa isyarat dan dipandu oleh moderator Sonaria. Para narasumber tersebut memperbincangkan tentang 4 pilar literasi digital, yakni Digital Culture, Digital Ethic, Digital Safety dan Digital Skill.

Pada sesi pertama, narasumber Arief Rama Syarif menyampaikan mengenai budaya digital, tantangan budaya digital yaitu menipisnya kesopanan dan kesantunan, berkurangnya toleransi dan penghargaan pada perbedaan. Budaya bermedia digital merupakan kemampuan individu dalam membaca, menguraikan, membiasakan, memeriksa, dan membangun wawasan kebangsaan, nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari. Menjadikan nilai-nilai pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai landasan kecakapan digital, mewujudkan nilai-nilai pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai panduan karakter dalam beraktivitas di ruang digital.

“Kalau melihat sesuatu harus bisa menahan diri, kalaupun ingin memberikan komen, berikanlah komen yang positif, jangan yang negatif, kenapa? Budaya digital merupakan suatu hal yang membentuk cara kita berinteraksi, berperilaku, berpikir, dan berkomunikasi dalam lingkungan masyarakat menggunakan teknologi internet, walaupun jarak kita jauh, dan kita tidak mengenal orang lain di bagian lain, atau kita melihat suatu hal yang kurang baik, sebaiknya kita tidak usah berkomentar negatif, kenapa? kalau kita berkomentar negatif, kita tidak mencerminkan budaya kita gitu, budaya seharusnya seperti di dunia nyata, sopan santun, ramah tamah, padahal budaya digital itu sama seperti budaya di dunia nyata,” ujar Arief.

Giliran narasumber kedua, Qurniadi, M.Pd  memberikan pemaparan bahwa sebagai pelajar perlu memiliki etika yang baik saat berinteraksi dengan orang lain di dunia digital karena etika menentukan dalam berinteraksi di dunia maya, etika tersebut meliputi menghargai pendapat orang lain dan dapat menghindari konflik yang terjadi. Sebagai pelajar perlu menghindari perundungan di dunia maya (cyberbullying) karena tindakan tersebut dapat merusak emosional dan akan melanggar prinsip beretika dalam berintegrasi di dunia digital, jika menemukan kasus cyberbullying perlu segera melapor ke guru, atau ke pihak yang berwenang. Di dalam beretika mencakup menghargai privasi orang lain, mengetahui batasan-batasan privasi, dan tidak membagikan informasi pribadi orang lain, seorang pelajar juga perlu memastikan bahwa data pribadi dirinya aman, dan terlindungi dari orang yang tidak bertanggung jawab. Pelajar juga perlu berpikir kritis untuk memastikan bahwa informasi yang dibagikan di media sosial adalah benar dan dapat dipertanggungjawabkan bukan informasi palsu (hoax). Pelajar perlu menghargai kekayaan intelektuan dan hak cipta dengan tidak melakukan pembajakan perangkat lunak dan penggunaan merek dagang tanpa izin, serta dilarang menyebarkan dan mengunduh karya orang lain secara ilegal termasuk musik, film, buku, dan perangkat lunak.

“Sebagai seorang pelajar, harus memiliki kesadaran akan dampak dari tindakan teman-teman kita di dunia digital ini, dimana setiap tindakan yang dilakukan di internet itu memiliki konsekuensi jangka panjang terhadap diri sendiri dan orang lain, oleh karena itu, dengan memahami dampak dari tindakan, dapat memilih dan bertindak dengan bijak dan bertanggung jawab dalam berinteraksi di dunia digital, jadi reputasi kita juga harus dipertaruhkan di dunia maya,” kata Qurniadi.

Selanjutnya, giliran Reni Risti Yanti selaku Key Opinion Leader yang menyampaikan bahwa ruang digital tidak hanya milik personal, tetapi milik bersama, perlu saling mengingatkan terhadap tindakan buruk orang lain jika kita berada di sebuah forum agar orang lain sadar dan tidak melanjutkan komentar negatif. Dampak etika di dunia digital itu ada, dan dampaknya panjang yaitu disebut rekam jejak digital, rekam jejak digital tidak bisa dihapus dengan begitu saja, mungkin bisa dihapus dengan sendirinya, tetapi bisa saja sudah ada orang lain yang mengcapture atau merekam sebelum dihapus. Rekam jejak digital perlu dijaga karena mempunyai dampak untuk masa depan seperti bekerja atau melanjutkan kuliah.

“Saya kasih sebuah contoh, jadi ada seorang siswa, yang dia dapat beasiswa di sekolah terkenal di luar negeri, tapi pada akhirnya batal mendapatkan beasiswa, karena apa, karena ternyata dia pernah melakukan perundungan terhadap kucing, jadi waktu itu dia bikin video, bercandaan menurut dia, videonya tuh dia sedang menyiksa kucing, yang dia anggap itu kucing milik dia, tapi gara-gara satu postingan itu, pada akhirnya dia tidak bisa mendapatkan beasiswa ke luar negeri, bayangkan dampaknya luar biasa banget, hanya gara-gara lupa bahwa yang namanya etika di media sosial itu ternyata ada,” kata Reni.

Para peserta mengikuti dengan antusias seluruh materi yang disampaikan dalam webinar, terlihat dari banyaknya tanggapan dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada para narasumber. Kemudian moderator memilih tiga penanya untuk bertanya secara langsung dan berhak mendapatkan e-money.

Pertanyaan pertama dari suhartono yang mengajukan pertanyaan Bagaimana kita mengontrol budaya di masyarakat agar tidak membudaya karena banyak sekali  keamanan data para guru akan terancam? Kemudian narasumber Arief Rama Syarif menanggapi bahwa Memulai dari keluarga kita masing-masing bahwa media sosial itu juga nyata seperti di lingkungan sehari-hari.

Pertanyaan kedua dari Neni Sehwanti yang mengajukan pertanyaan Bagaimana upaya yang tepat untuk meningkatkan kesadaran anak terhadap pentingnya etika digital? kemudian apakah lingkungan dengan etika yang tidak baik akan mempengaruhi kepribadian anak? jika berbicara untuk siswa/anak bagaimana cara mengedukasi para siswa agar memiliki etika berinternet di era digital saat ini serta bagaimana memaksimalkan penggunaan media sosial sebagai sarana penggunaan teknologi pendidikan? Kemudian narasumber Qurniadi, M.Pd menanggapi bahwa Penting untuk meningkatkan kesadaran kita untuk etika yang ada di era digital ini. Produk yang dihasilkan bisa untuk memberi dampak positif dalam kontennya.

Pertanyaan ketiga dari Fatima Ganina Haya mengajukan pertanyaan bagaimana cara mengajarkan etika berdigital yang baik agar tidak terpengaruh oleh cyberbullying dan provokasi kepada keluarga khususnya orang tua yang aktif di medsos tapi masih minim sekali ilmu tentang literasi digital. sementara jika anak yang ngasih tau cenderung tidak pernah direspon, malah dikira ngatur orang tua, apa yang harus saya lakukan? Kemudian narasumber Arief Rama Syarif menanggapi bahwa hal yang dilakukan di media sosial ada dampak positif dan negatif. Lakukan dari hal yang terdekat dari kita untuk berperilaku positif di media sosial. Selanjutnya narasumber Qurniadi, M.Pd juga menanggapi bahwa tentulah kita berperilaku sopan dan santun di media sosial, tidak berpengaruh dengan cyberbullying dan terprovokasi. Kemudian Key Opinion Leader Reni Risti Yanti juga menanggapi bahwa jika berada di media sosial jangan menjadi sosok yang berbeda ketika dengan di dunia nyata, diharapkan semakin dewasa usia seseorang, semakin bisa memilah dan memilih bagaimana dia bersikap di media sosial, tetapi secara fakta tidak semua pengguna media sosial itu seusai dengan usia mereka, ada yang perlu pendampingan orang tua. Dalam meminimalisir cyberbullying kita harus terliterasi dengan baik, salah satu caranya dengan ikut webinar, mendengarkan ilmu-ilmu yang dipaparkan oleh narasumber, tidak hanya didengarkan tetapi diaplikasikan di kehidupan sehari-hari. Perlu saring sebelum sharing, apakah hal tersebut ada manfaatnya atau tidak, jika tidak ada manfaat, tidak perlu disharing, cukup disimpan di kita saja.

Sesi tanya jawab selesai. Setelah itu, moderator mengumumkan tujuh pemenang lainnya yang bertanya di kolom chat dan berhasil mendapatkan voucher e-money sebesar Rp. 100.000. Moderator mengucapkan terima kasih kepada narasumber, Key Opinion Leader (KOL) dan seluruh peserta webinar. Pukul 12.00 WIB webinar literasi digital selesai, moderator menutup webinar dengan mengucapkan salam, terima kasih dan tagline Salam Literasi Indonesia Cakap Digital.

Kegiatan Literasi Digital Sektor Pendidikan di Provinsi Kepulauan Riau merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam program Indonesia Makin Cakap Digital yang diinisiasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia untuk memberikan literasi digital kepada 50 juta orang masyarakat Indonesia hingga tahun 2024.

Adapun Informasi lebih lanjut mengenai kegiatan dan info literasi digital dapat diakses melalui website: literasidigital.id (https://literasidigital.id/) dan akun media sosial Instagram: @literasidigitalkominfo (https://www.instagram.com/literasidigitalkominfo/),  Facebook Page: Literasi Digital Kominfo/@literasidigitalkominfo (https://www.facebook.com/literasidigitalkominfo)Youtube: @literasidigitalkominfo (https://www.youtube.com/@literasidigitalkominfo). (*)

Berita Terkait