ilustrasi
'Sinau' Bareng Gus Shiva'ul Haq
Setiap manusia di dalam menjalankan kehidupannya di dunia ini tentunya ingin hidup bahagia.
Akan tetapi bahagia sendiri terkadang disalah artikan oleh sebagian dari kita dan sebagian dari kita menganggap bahwa kebahagiaan dalam hidup adalah ketika kita memiliki harta yang berlimpah dan kedudukan ataupun jabatan yang tinggi.
Padahal, kata bahagia bagi manusia tidaklah selalu bisa diukur melalui harta maupun jabatan. Banyak diantara kita yang fokusnya hanya dunia saja, malah melupakan akhirat.
Untuk itu, maka kita harus mempunyai strategi untuk membangunnya, membangun bahagia dunia maupun akhirat.
Demikian ditegaskan Gus Shiva'ul Haq, Penggagas Suluk Ndalanan dalam ngaji rutinan di Dusun Pasean Joho, Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang, Kamis (06/02/20) malam.

Terkait strategi menundukkan dunia, untuk mencapai kebahagiaan, Gus Shiva (panggilan akrabnya) mengutip Hadits Qudsi, “Wahai dunia, layanilah orang yang melayani-Ku (Allah) dan buatlah capek orang yang melayanimu (dunia)”
“Manusia sebagai hamba Allah seyogyanya menjadi pemimpin dunia (khalifah fil ardli), bukan malah menjadi hamba dunia. Orang yang mengabdi kepada Allah dengan menegakkan ajaran-ajaran Allah di muka bumi ini, sudah tentu dia akan menjadi pemimpin bumi dan bumi secara otomatis akan menjadi pelayannya, sesuai perintah Allah,” tegas Gus Shiva.
“Namun, manusia yang memburu dunia sampai melupakan tugas dan tanggungjawabnya kepada Allah dan kepada sesama manusia, maka hidupnya akan jauh dari kebahagiaan, sibuk, capek, penuh cobaan, dan dia tidak merasakan kebahagiaan hakiki dalam hidup,” lanjut Gus Shiva'ul Haq, Cucu KH. Achmad Tamamuddin Munji.
Di dalam acara ngaji rutinan tersebut juga dihadiri Kiai Abdul Muhaimin yang diakhir acara membacakan do'a. (red)








