Segelas Harapan di Tengah Terpaan

Minggu, 18/05/2025 - 19:57
 Pak Hernu, tukang es cincau yang telah mengabdikan 43 tahun hidupnya untuk menjajakan kesegaran di tengah hiruk-pikuk kota

Pak Hernu, tukang es cincau yang telah mengabdikan 43 tahun hidupnya untuk menjajakan kesegaran di tengah hiruk-pikuk kota

Klikwarta.com - Di sudut kota, pinggir jalan mayestik jl. Tebah III di bawah terbitnya matahari, seorang pria paruh baya dengan senyum ramah menyambut pagi dengan semangat untuk mencari selembar yang berharga. Dialah pak Hernu, tukang es cincau yang telah mengabdikan 43 tahun hidupnya untuk menjajakan kesegaran di tengah hiruk-pikuk kota.

"Jualan cincau sudah berlangsung 43 tahun, dari tahun 1982," ungkapnya dengan nada yang terengah engah. Menydeskripsikan perjalanan yang di tempuh sangatlah jauh. Dalam setiap sendokkan es cincau yang disajikannya, tersimpan cerita yang tak lekang oleh waktu. 

Pak Hernu tinggal bersama istri dan dua anaknya di sebuah rumah kontrakan sederhana, dengan tanggungan sewa 700 ribu per bulan. Semua itu dibayarkan "Dari hasil cincau ini? Iya," jawabnya, meski nada suaranya menyiratkan tantangan hidupnya. 

Kehidupan berjalan tak terus mulus. Sedihnya “sehari hanya laku dua bungkus," keluhnya.

"Kalau lakunya dua ya buat ngopi aja," humornya  untuk menutupi kesulitannya. Dua anaknya telah beranjak dewasa, namun hanya satu yang masih tinggal bersamanya, sementara yang lain berjuang dengan sakit yang tak kunjung sembuh.

"Kadang-kadang buat makan, nggak ada," katanya, menggambarkan realitas pahit yang harus dihadapi. Namun, di balik kesedihan itu, ada harapan.

"Kalau puasa, alhamdulillah orang pada beli," ceritanya, menggambarkan momen-momen indah saat Ramadan tiba, ketika es cincau menjadi takjil favorit.

Pak Hernu harus mengeluarkan setiap bulan: "Ada bayar buat Satpol PP 100 ribu, preman 200, ruko 200." Meskipun hidupnya penuh tantangan, ia tetap berusaha.

"Dari pada dirumah diem doang, capek badan pada sakit-sakit, mending jualan sambil olahraga," ujarnya, menunjukkan semangat juang yang tak pernah padam.

Pendidikan anak-anaknya pun tak seberuntung harapannya.

"Anak-anak mah, kalau saya ga sekolah," ungkapnya, menandakan bahwa meski pendidikan tak selalu terjangkau, harapan untuk masa depan tetap ada.

Kisah Pak Hernu merupakan gambaran nyata dari ketahanan dan semangat hidup. Dalam setiap gelas es cincau yang disajikannya, tersimpan harapan, perjuangan, dan cinta yang tak lekang oleh waktu. Sebuah cerita yang mengingatkan kita bahwa di balik setiap usaha, ada jiwa yang berjuang untuk bertahan.

Tags

Berita Terkait