Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Cahyo Harjo Prakoso
Klikwarta.com, Surabaya - Kementerian Kesehatan atau Kemenkes merilis data yang mengejutkan. Sebanyak 2,21 juta anak usia sekolah dan remaja di Indonesia terdeteksi memiliki tekanan darah di atas normal.
Angka tersebut merupakan hasil dari Program Cek Kesehatan Gratis atau CKG yang digelar pemerintah hingga 31 Juli 2026.
Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Cahyo Harjo Prakoso, menyebut angka itu sebagai cakupan skala nasional yang harus menjadi perhatian bersama pemerintah pusat dan daerah.
"Saya rasa itu se-Indonesia ya. Dan ini juga sudah diperkirakan oleh pemerintah pusat sebetulnya, tidak hanya pemerintah provinsi," ujarnya, Rabu, 5 Agustus 2026.
Cahyo menjelaskan, pemerintah pusat bersama provinsi saat ini terus berkomitmen menjalankan langkah antisipasi. Salah satunya melalui skrining kesehatan masif dan kampanye gaya hidup sehat.
"Bagaimana ke depan, kita bersama tidak hanya ingin CKG sebagai salah satu upaya promotif preventif kita. Kedua, gemar hidup sehat. Kita sedang menggalakkan itu kepada masyarakat," katanya.
Menurutnya, kesehatan generasi muda tidak hanya ditentukan oleh aktivitas fisik atau pola istirahat. Pola makan harian memiliki peran yang sangat besar.
"Pola hidup itu tidak hanya kebiasaan olahraga atau kebiasaan istirahat dari mereka, tetapi pola makan kan juga pengaruh. Sedangkan kalau misalnya senang makan manis-manis dan sembarangan, intinya kan ya pasti potensi penyakitnya banyak," tuturnya.
Ia menyoroti kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi garam, berminyak, dan tinggi gula sebagai pemicu utama berbagai penyakit berbahaya pada anak dan remaja.
Melihat kondisi itu, Cahyo mendorong adanya regulasi yang mewajibkan setiap produk makanan mencantumkan informasi nilai gizi secara jelas.
"Kami secara pribadi berharap adanya regulasi yang mengatur tentang kewajiban mencantumkan nilai gizi dari setiap makanan yang dikonsumsi masyarakat kita. Kandungan gizi, karena itu sangat berpengaruh," tegasnya.
Dengan adanya label gizi, masyarakat diharapkan bisa lebih bijak dalam memilih makanan dan menekan konsumsi gula, garam, serta lemak berlebih.
Cahyo menekankan, edukasi pola hidup sehat tidak bisa hanya dibebankan kepada Dinas Kesehatan dan RSUD milik Pemprov Jatim.
Menurutnya, untuk antisipasi diiperlukan kerja sama lintas sektor hingga ke tingkat paling bawah agar pesan hidup sehat sampai ke masyarakat secara berkelanjutan.
Cahyo menilai tidak hanya dari Dinas Kesehatan dan RSUD di bawah Pemerintah Provinsi Jawa Timur, tetapi juga unit layanan kesehatan yang ada di kampung-kampung seperti puskesmas, posyandu, kader-kader ibu KSH, kader PKH dari Kemensos.
"Ataupun teman-teman media untuk mengingatkan kepada masyarakat kita tentang pentingnya gemar hidup sehat," pungkasnya. (**)








