SMPN 2 Bengkulu Selatan Belajar Hak dan TanggungJawab di Ruang Digital

Jumat, 14/04/2023 - 14:45
Webinar Literasi Digital

Webinar Literasi Digital

Klikwarta.com, Bengkulu Selatan - Rangkaian webinar literasi digital di Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu telah bergulir pada Jumat (14/4) pukul 09.00-11.00 WIB. Kegiatan webinar yang bertajuk tema “Belajar Hak dan Tanggungjawab di Ruang Digital” merupakan kerja sama Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dengan SMPN 2 Bengkulu Selatan dengan melibatkan para siswa sebagai audiensnya.

Kegiatan yang diinisiasi dan diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia ini bertujuan mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif sehingga dapat meningkatkan kemampuan kognitifnya untuk mengidentifikasi hoaks serta mencegah terpapar berbagai dampak negatif penggunaan internet.

Pengguna internet di Indonesia pada awal Tahun 2022 mencapai 204,7 juta orang atau meningkat 2,1 juta dari tahun sebelumnya. Namun, penggunaan internet tersebut membawa berbagai risiko, karena itu peningkatan penggunaan teknologi internet perlu diimbangi dengan kemampuan literasi digital yang baik agar masyarakat dapat memanfaatkan teknologi digital dengan bijak dan tepat.

Survei Indeks Literasi Digital Nasional yang dilakukan oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi dan Katadata Insight Center pada tahun 2021 menunjukkan skor atau tingkat literasi digital masyarakat Indonesia berada pada angka 3,49 dari 5,00.

Kemudian pada tahun 2022, hasil survei Indeks Literasi Digital Nasional mengalami kenaikan dari 3,49 poin menjadi 3,54 poin dari skala 5,00. Hasil ini dianggap menunjukkan bahwa literasi digital masyarakat Indonesia saat ini berada di kategori sedang dibandingkan dengan tahun lalu.

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika, Kementrian Komunikasi dan Informatika Semuel Abrijani Pangerapan menilai indeks literasi digital Indonesia belum mencapai kategori baik. “Angka ini perlu terus kita tingkatkan dan menjadi tugas kita bersama untuk membekali masyarakat kita dengan kemampuan literasi digital,” katanya melalui virtual. Dalam konteks inilah webinar literasi digital yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia menjadi agenda yang amat strategis dan krusial, dalam membekali seluruh masyarakat Indonesia beraktifitas di ranah digital.

Pada webinar yang menyasar target segmen pelajar SMP ini, sukses dihadiri oleh sekitar 40 peserta daring, dan juga dihadiri beberapa narasumber yang berkompeten dalam bidangnya. Kegiatan tersebut diawali dengan sambutan dari Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Semuel Abrijani Pangerapan, dihadiri narasumber Dr. Meithiana Indrasari, ST., MM (Sekertaris Yayasan Pendidikan Cendekia Utama), kemudian narasumber Indra Yuwana, S.Pd (Wakil Kepala Sekolah SMPN 02 Bengkulu Selatan), bersama Key Opinion Leader Deola Adene (Putra Batik Nusantara), serta Siti Kusherkatun, S.Pd.I (Asih) sebagai juru bahasa isyarat dan dipandu oleh moderator Diny Brilianti. Para narasumber tersebut memperbincangkan tentang 4 pilar literasi digital, yakni Digital Culture, Digital Ethic, Digital Safety dan Digital Skill.

d

Pada sesi pertama, narasumber Dr. Meithiana Indrasari, ST., MM menyampaikan mengenai cakap bermedia digital, dampak hoaks dalam dunia pendidikan, dan cara menghindari penyebaran hoaks. Dalam kecakapan digital, perlu mengetahui kekurangan dan kelebihan media sosial, kelebihan facebook yaitu jumlah pengguna menduduki peringkat pertama, kekurangan facebook yaitu pengguna terlalu heterogen sehingga informasi yang muncul terlalu beragam, kelebihan instagram memiliki fitur menarik untuk meningkatkan kualitas gambar maupun video, kekurangan instagram yaitu jenis unggahan terbatas gambar dan video, kelebihan twitter yaitu mendistribusikan informasi dengan cepat dan ringkas, kekurangan twitter yaitu karakter huruf dibatasi, kelebihan youtube yaitu menyajikan informasi berupa video dengan durasi yang tidak terbatas, kekurangan youtube yaitu konten video yang terlalu beragam serta pop-up iklan. Hoaks adalah informasi yang sengaja dibuat untuk menyesatkan orang lain, dampak hoaks terhadap proses pembelajaran yaitu dapat menyesatkan siswa dan guru, siswa mungkin akan mengambil tindakan salah jika percaya pada hoaks, sedangkan guru mungkin akan kesulitan memberikan pemahaman yang tepat kepada siswa, hoaks juga dapat mempengaruhi kredibilitas institusi pendidikan, jika institusi terus terkena hoaks, maka masyarakat akan kehilangan kepercayaan pada institusi tersebut. Cara menghindari penyebaran hoaks yakni melakukan verifikasi sebelum menyebarkan informasi, penting untung tidak mudah terpancing emosi ketika membaca informasi yang belum tentu benar.

“Untuk menghindari kesalahpahaman, penting untuk mengungkapkan pendapat dengan jelas dan tepat sasaran, menggunakan bahasa yang mudah dipahami, agar menghindari kalimat-kalimat bersayap yang berpotensi memunculkan opini-opini lagi tertentu, apapun yang kita sampaikan itu didukung oleh fakta dan bukti yang jelas, bukannya mengandalkan perasaan atau pikiran kita sendiri gitu ya, kemudian, perlu kita memiliki kemampuan berkomunikasi dan berkolaborasi, jadi antara guru, teman-teman, kita bisa duduk bersama untuk membahas isu-isu yang terjadi dengan terbuka dan jujur gitu ya, ini dunia pendidikan, tentu semuanya harus dilakukan dengan cara yang baik dan positif, karena kalau dunia pendidikannya sendiri saja kacau, maka bagaimana yang dicetak dari dunia pendidikan ini tadi,” ujar Meithiana.

Giliran narasumber kedua, Indra Yuwana, S.Pd memberikan pemaparan tentang belajar hak dan tanggungjawab di ruang digital, belajar hak dan tanggung jawab di ruang digital tidak hanya sekedar memahami teknologi, tetapi juga memahami etika dan nilai-nilai yang terkait dengan penggunaan teknologi. Selain itu, literasi digital juga menjadi keterampilan yang sangat penting untuk dimiliki di era digital ini, literasi digital meliputi kemampuan untuk memanfaatkan teknologi dengan bijak, memproses informasi secara kritis, serta memahami hak dan tanggung jawab dalam penggunaan teknologi. Masyarakat yang memiliki literasi digital yang baik akan lebih mampu memanfaatkan teknologi dengan efektif dan efisien serta menghindari risiko yang mungkin timbul akibat penggunaan teknologi yang tidak bertanggung jawab.

“Banyak orang yang lupa ruang digital itu hanya cerminan dirinya, jadi kalau kita melakukan hal yang buruk di ruang digital, otomatis meninggalkan jejak yang tercatat selama-lamanya. Itulah yang disebut dengan jejak digital di ruangan ini. Hal ini sangat penting untuk disadari karena jejak digital itu sangat penting untuk masa depan kita, jika akan melamar pekerjaan, zaman sekarang bukan hanya CV atau sesuatu di dunia offline tetapi yang ada pada kehidupan digital seperti akun media sosial,” jelas Indra.

Selanjutnya, giliran Deola Adene selaku Key Opinion Leader menyampaikan bahwa semua yang ada di dunia digital itu perlu dipertanggungjawabkan karena ada UU ITE yang mengaturnya, kita diberikan akses yang cukup luas dalam berinternet, untuk itu, manfaatkanlah dengan melihat konten-konten yang memberikan wawasan dan menghindari konten negatif.

“Di dunia digital hendaknya menjaga sikap sesuai dengan pancasila dasar negara kita yang sudah diatur, karena dengan itu kita mencerminkan bahwa kita adalah orang yang berbudaya, jadi, tidak hanya melek digital, tapi kita juga punya budaya yang mengatur kita di dunia digital, sehingga kita nggak lagi jadi netizen paling tidak sopan di asia tenggara, menurut saya, yang perlu diperhatikan, kita punya hak, tetapi kita harus mempertanggungjawabkan hak kita itu, jadi yang harus diperhatikan adalah bagaimana cara kita bersikap di media sosial, jadilah orang Indonesia yang baik dan benar,” kata Deola.

Para peserta mengikuti dengan antusias seluruh materi yang disampaikan dalam webinar, terlihat dari banyaknya tanggapan dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada para narasumber. Kemudian moderator memilih tiga penanya untuk bertanya secara langsung dan berhak mendapatkan e-money.

Pertanyaan pertama dari Anisyah yang mengajukan pertanyaan Bagaimana cara kita untuk bisa mencegah westernisasi, yang mana pada zaman ini banyak sekali pemuda pemudi dan anak anak yang sudah terpengaruh oleh oleh hal tersebut sehingga adat istiadat yang dibawa oleh nenek moyang kita yang lama kelamaan semakin luntur dan juga bagaimana cara mempertahankan ideologi Pancasila dalam setiap perkembangan zaman bagi para generasi milenial saat ini? Kemudian narasumber Dr. Meithiana Indrasari, ST., MM menanggapi bahwa Karena rata-rata generasi muda sejak kecil sudah memegang gadget, bagaimana cara mengatasi generasi muda tidak kebarat-baratan. dengan cara ajak-ajak generasi muda untuk melihat literasi kominfo ini dan selalu jaga dan pamerkan budaya indonesia ke ruang digital agar budaya kita bisa terkenal dan bisa besar.

Pertanyaan kedua dari Alvi yang mengajukan pertanyaan Bagaimana cara mengedukasi para generasi alpha agar dapat mengaplikasikan nilai-nilai Pancasila saat bermedia sosial? Lalu bagaimana cara menyikapi anak anak yang suka mengucapkan ujaran kebencian dan suka berkomentar buruk di media sosial karena saat ini tidak sedikit anak usia sekolah yang kurang sopan dalam menyampaikan pendapat di media sosial? Bagaimana Cara untuk membangkitkan anak anak agar tetap menjunjung tinggi budaya ketimuran (menjunjung tinggi sopan santun)? Kemudian narasumber Indra Yuwana, S.Pd menanggapi bahwa Generasi Alpha ini banyak sekali bersentuhan dengan media digital maka dari itu mereka harus mengaplikasikan nilai-nilai pancasila yaitu dengan cara membentuk mereka menjadi generasi muda pancasila dengan mencerminkan nilai-nilai pancasila kepada mereka. Banyak sekali di media sosial kali ini anak sekolah yang kurang sopan dalam bermedia sosial, maka dari itu kita sebagai guru dan orang tua harus memberitahu mereka bagaimana cara untuk selalu positif dalam bermedia digital, dan kita harus memastikan mereka untuk menghindarkan dan berhati-hati dalam hal negatif dalam bermedia sosial

Pertanyaan ketiga dari Nirmala Sarah mengajukan pertanyaan Bagaimana cara menggunakan media sosial secara bijak dan bertanggung jawab sehingga tidak merugikan diri sendiri dan orang lain terutama orang yang ada di sekitar kita? Terutama saat kita sedang berekspresi di dunia digital luar yang sama masih banyak yang menjadikan dunia digital sebagai tempat untuk menyalurkan emosi entah dalam bentuk negatif maupun positif, hal yang perlu diperhatikan ialah hal negatif seperti membuat akun Instagram berisikan luapan emosional, bagaimana kita harus bersikap serta bertindak dan hal aman dan nyaman yang mana yang harus dilakukan akan hal itu pak. Kemudian narasumber Dr. Meithiana Indrasari, ST., MM menanggapi bahwa bisa dirangkum jadi 4 pilar digital, seperti pak jokowi bilang kita harus tetap positif dan produktif dalam bermedia sosial, selain itu kita harus tau tentang keamanan digital sehingga kita bisa mengamankan diri kita dalam media sosial dari tindakan kejahatan di media sosial. selain itu kita harus masukan budaya ramah kita didunia asli ke dunia digital. Selanjutnya narasumber Indra Yuwana, S.Pd juga menanggapi bahwa kita harus merhatikan dalam 4 pilar yaitu digital skill agar kita sudah dapat dan handal dalam bermedia digital, selanjutnya digital culture mampu membangun wawasan kebangsaan dalam media sosial, digital ethics dapat menyesuaikan diri dan berpikir rasional sehingga memiliki etika yang baik dalam media sosial, dan terakhir digital safety meningkatkan kesadaran dalam mengamankan data pribadi diri kita.

Sesi tanya jawab selesai. Setelah itu, moderator mengumumkan tujuh pemenang lainnya yang bertanya di kolom chat dan berhasil mendapatkan voucher e-money sebesar Rp. 100.000. Moderator mengucapkan terima kasih kepada narasumber, Key Opinion Leader (KOL) dan seluruh peserta webinar. Pukul 11.00 WIB webinar literasi digital selesai, moderator menutup webinar dengan mengucapkan salam, terima kasih dan tagline Salam Literasi Indonesia Cakap Digital.

Kegiatan Literasi Digital Sektor Pendidikan di Provinsi Bengkulu merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam program Indonesia Makin Cakap Digital yang diinisiasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia untuk memberikan literasi digital kepada 50 juta orang masyarakat Indonesia hingga tahun 2024.

Adapun Informasi lebih lanjut mengenai kegiatan dan info literasi digital dapat diakses melalui website: literasidigital.id (https://literasidigital.id/) dan akun media sosial Instagram: @literasidigitalkominfo (https://www.instagram.com/literasidigitalkominfo/),  Facebook Page: Literasi Digital Kominfo/@literasidigitalkominfo (https://www.facebook.com/literasidigitalkominfo), Youtube: @literasidigitalkominfo (https://www.youtube.com/@literasidigitalkominfo). (*)

Berita Terkait