Anggota Komisi E DPRD Jatim Rasiyo
Klikwarta.com, Jatim - Peringatan Hari Sumpah Pemuda dimaknai sebagai momentum untuk memperkuat kembali jati diri generasi muda di tengah tantangan globalisasi yang semakin kompleks.
Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Rasiyo, menilai peran pemuda sangat vital, terutama dalam menyongsong bonus demografi dan Generasi Emas 2045. Namun, ia mengingatkan bahwa pengaruh negatif dari perkembangan teknologi dan pergaulan bebas menjadi ancaman nyata.
"Pengaruhnya luar biasa. Pengaruh Google dan lain sebagainya, pergaulan yang sudah keterlaluan. Kalau anak-anak dibiarkan terus, dampaknya akan kembali pada kita sendiri," ujar Rasiyo, Rabu (28/10/2026).
Menurut politisi senior itu, semua kembali pada kesadaran individu pemuda itu sendiri. Orang tua, pemerintah, dan lingkungan hanya bisa mengarahkan, namun keputusan untuk berbuat baik atau buruk ada pada diri pemuda.
"Makanya orang itu akan kembali pada dirinya. Kalau pemudanya tidak tahu diri, ya harus hati-hati. Orang lain itu paling hanya mengarahkan. Kalau yang diarahkan tidak mau berbuat baik, sulit juga," tegasnya.
Rasiyo membandingkan pola pembinaan pemuda zaman dulu yang lebih terstruktur. Jika dulu pembinaan generasi muda masuk melalui segmen sekolah yang paling dalam, hingga kegiatan positif seperti Pramuka, kini tantangannya jauh berbeda.
"Definisi pemuda sekarang itu dari usia 1 sampai 36 tahun. Mau belajar apa saja buka Google bisa. Buka pembelajaran lewat Google bisa. Jadi tergantung dirinya sendiri," kata dia.
Ia menekankan bahwa pemuda harus memiliki kepekaan sosial, mampu berkreasi, mau belajar mandiri, dan mampu membaca situasi lingkungan untuk membedakan mana yang baik dan buruk.
"Buka HP saja gambarnya sudah macam-macam. Jadi harus kembali kepada dirinya sendiri," imbuhnya.
Untuk membentengi hal tersebut, Rasiyo menekankan pentingnya peningkatan iman dan takwa kepada Allah SWT sebagai fondasi utama. Ia mendorong agar pendidikan agama di sekolah tidak hanya terbatas pada jam formal.
"Kalau di sekolah, pelajaran agamanya harus ditambah. Tidak hanya 2 jam pelajaran agama, tetapi ditambah dengan pelajaran madin, pelajaran agama lainnya, dan lain-lain. Itu untuk penguatan karakter," pungkasnya.








