Ikhlas adalah Kunci dari Hidup Berkecukupan

Sabtu, 16/05/2020 - 14:22
ilustrasi
ilustrasi

(Oleh : Faza Nidwana Ribhan/Politeknik Negeri Jakarta)

Aku adalah seorang anak yang beruntung karena lahir dari keluarga yang penuh dengan keikhlasan. Kedua orangtuaku adalah seorang tunanetra. Mungkin mereka tidak bisa melihat keindahan dunia, akan tetapi keindahan hati mereka selalu terpancar.

Ibu dan Ayah adalah sosok paling tulus dan jujur yang pernah kukenal. Dari ketulusan dan kejujuran mereka, keikhlasan disetiap langkah menjadi kunci kehidupan kami.

Pada setiap langkah itu mereka mengajarkan bahwa keikhlasan membawa kami pada kalimat syukur yang terucap dibibir kami agar selalu merasa cukup di dalam kehidupan ini.

Keluargaku adalah penjual kerupuk udang. Kami biasa berjualan menggunakan gerobak sederhana yang dikaitkan pada sepeda lamaku.

Sepulang sekolah tugasku adalah membantu mengayuh sepeda sambil menuntun Ayah dan Ibu. Mereka berjalan sambil berpegangan dengan gerobak.

Sesekali teman-teman mengajakku bermain sepulang sekolah. Namun aku merasa orangtuaku jauh lebih membutuhkanku.

Tak apa jika aku tidak banyak bermain seperti anak seumuranku pada umumnya. Aku ikhlas membantu Ayah dan Ibu. Karena hanya dengan menjual kerupuk inilah kami bisa menyambung hidup.

"Nak, uang ini warna nya apa?" Ibu selalu bertanya padaku setiap ada pembeli. Tak jarang pula Ibu bertanya kepada pembeli akan nominal uang-uang tersebut.

Aku pernah bertanya pada Ibu, "apa Ibu tidak takut dibohongi orang lain? Bagaimana jika ia bilang itu warna biru padahal aslinya warna hijau?" Dengan wajah tenang Ibu berkata bahwa ia sama sekali tidak takut. Jika memang ia tertipu, maka itu bukan rezeki kami dan anggaplah sebagai sedekah.

Dari keikhlasan orangtuaku, aku merasa malu jika aku tidak bersyukur, padahal Ibu sudah menyekolahkanku dengan harapan agar aku mempunyai cita-cita tinggi yang akan kugapai. Aku berjanji akan membahagiakan mereka suatu hari nanti.

Related News

Loading...

pers

loading...