Tradisi Tabot Bengkulu

Senin, 03/09/2018 - 17:12
Festival Tabot Bengkulu
Festival Tabot Bengkulu

Klikwarta.com - Dalam beberapa hari kedepan, masyarakat kota Bengkulu akan segera menyambut festival budaya daerah tahunan yaitu tradisi tabot. 

Dari tahun ke tahun tradisi tabot di Bengkulu tidak sekalipun terlewatkan, selain tetap menjaga dan melestarikan budaya daerah Kota Bengkulu, pemerintah juga tidak ingin budaya daerah tergerus kemajuan zaman dan hanya menyisakan cerita mitos pada generasi penerus. Meski nyatanya tradisi tabot adalah tradisi keagamaan, seiring waktu hal tersebut mengalami pergeseran nilai-nilai budaya.

 

- Latar Belakang

Sebagai pulau terbesar di Indonesia, Sumatera menjadi salah satu pulau dengan destinasi wisata terbesar dan kaya akan keberagaman. Tak hanya unggul dalam wisata keindahan alamnya saja, Sumatera juga unggul dalam pelestarian nilai budaya leluhur sampai pada saat ini.

  Saat kita berkunjung ke provinsi Bengkulu maupun provinsi Sumatra Barat, tidak lengkap rasanya tanpa melihat festival tahunan Tabot. Festival ini diadakan setiap tahun di bulan Islam Muharam, dan menjadi agenda rutin seiring penutupan tahun kalender islam.

Tabot adalah upacara tradisional masyarakat Bengkulu yang diadakan bertujuan untuk mengenang kisah perjuangan dan kematian cucu Nabi Muhammad SAW., Sayidina  Hassan bin Ali  dan Sayidina  Hussein bin Ali RA. dalam peperangan dengan pasukan  Ubaidillah bin Zaid  di Padang  Karbala-Iraq, pada tanggal 10 Muharam 61 Hijrah bersamaan (681 Masehi). 

Pada awalnya inti dari upacara Tabot adalah untuk mengenang usaha pemimpin Syiah dan kaumnya dalam mengumpulkan potongan tubuh Husein, mengarak dan memakamnya di Padang Karbala. Istilah Tabot berasal dari kata Arab Tabut yang secara harfiah berarti "kotak kayu" atau "peti".

Dalam Al-Qur’an kata Tabot telah dikenali sebagai sebuah peti yang berisikan kitab Taurat. Bani Israel di masa itu dipercayai bahwa mereka akan mendapatkan kebaikan bila Tabot ini muncul dan berada di tangan pemimpin mereka. Sebaliknya mereka akan mendapatkan malapetaka bila benda itu hilang.

Tidak ada catatan tertulis sejak kapan upacara Tabot mulai dikenali di Bengkulu. Namun, diduga kuat tradisi yang berangkat dari upacara berkabung para penganut fahaman Syiah ini dibawa oleh para tukang yang membangun Benteng Marlborought (1718-1719) di Bengkulu. Para tukang bangunan tersebut, didatangkan oleh Inggris dari Madras dan Benggala di bagian selatan India yang kebetulan merupakan penganut Islam-Syiah.

Para pekerja yang merasa serupa dan secocok dengan tata-hidup masyarakat Bengkulu, dipimpin oleh Imam Senggolo atau Syeikh Burhanuddin, memutuskan tinggal dan mendirikan pemukiman baru yang disebut Berkas, sekarang dikenali dengan nama Kelurahan Tengah Padang. Tradisi yang dibawa dari Madras dan Bengali diwariskan kepada keturunan mereka yang telah berasimilasi dan padu dengan masyarakat Bengkulu asli serta menghasilkan keturunan yang dikenali dengan sebutan orang-orang Sipai.

Tradisi berkabung yang dibawa dari negara asalnya tersebut mengalami asimilasi dan akulturasi dengan budaya setempat, dan kemudian diwariskan dan dilembagakan menjadi apa yang kemudian dikenali dengan sebutan upacara Tabot. Upacara Tabot ini semakin meluas dari Bengkulu ke Painan, Padang, Pariaman, Maninjau, Pidie, Meuleboh dan Singkil. 

Namun dalam perkembangannya, kegiatan Tabot telah banyak menghilang di banyak tempat. Hingga pada akhirnya hanya terdapat dua tempat yang masih mempertahankan budaya tersebut, yaitu di Bengkulu dengan nama Tabot dan di Pariaman Sumbar (masuk sekitar tahun 1831) dengan sebutan Tabuik. Tujuan upacara  keduanya sama, namun cara pelaksanaannya agak berbeda.

Pada awalnya upacara Tabot (Tabuik) digunakan oleh orang-orang Syiah untuk mengenang kematian Saidina Husein bin Ali bin Abi Thalib, namun sejak orang-orang Sipai bebas dari pengaruh faham Syiah Muslim dan ramai dari mereka berpindah kepada faham Sunni Muslim, upacara ini kemudian dilakukan hanyalah sebagai suatu kewajiban keluarga, yakni bagi memenuhi wasiat leluhur keturunan mereka saja. Atas latarbelakang tersebut masyarakat Sipai ingin terus ikut andil dalam pembinaan dan pengembangan budaya daerah Bengkulu.

Kondisi sosial budaya masyarakat, nampaknya juga menjadi penyebab munculnya perbedaan dalam tatacara pelaksanaan upacara Tabot. Di Bengkulu misalnya, Tabot 17 menunjukkan kepada jumlah keluarga awal yang melaksanakan Tabot, sedangkan di Pariaman hanya terdiri dari 2 jenis Tabot (Tabuik) yaitu Tabuik Subarang dan Tabuik Pasa. Tempat pembuangan Tabot (Tabuik) antara Bengkulu dan Pariaman juga berbeda. Pada awalnya Tabot di Bengkulu dibuang ke laut sebagaimana di Pariaman Sumatera Barat. Namun, pada perkembangannya, Tabot di Bengkulu dibuang di rawa-rawa yang berada di sekitar pemakaman umum yang dikenali dengan nama makam Karbela yang diyakini sebagai tempat dimakamnya Imam Senggolo atau Syeikh Burhanuddin.

Hal ini juga menjadi pengaruh dan banyak kritikan dari berbagai elemen masyarakat terhadap pelaksanaan upacara Tabot. Satu hal yang paling mendasar dari semua kritikan tersebut yaitu berubahnya fungsi upacara Tabot dari ritual bernuansa keagamaan menjadi sekadar festival kebudayaan belaka. Ini nampaknya disebabkan oleh kenyataan bahwa yang melaksanakan upacara Tabot adalah orang-orang bukan Syiah. Hilangnya nilai-nilai sakral upacara Tabot semakin diperparah dengan munculnya Tabot pembangunan (Upacara Tabot yang dimodernkan).

 

- Acara Pelaksaan

Perayaan Tabot  di Bengkulu pertama kali dilakukan oleh Syeikh Burhanuddin yang lebih dikenali sebagai Imam Senggolo pada tahun 1685 M. Syeikh Burhanuddin (Imam Senggolo) telah menikahi wanita Bengkulu kemudian memiliki  keturunan sampai akhirnya mereka disebut sebagai keluarga Tabot. Upacara ini dilaksanakan dari tanggal 1 sampai dengan 10 Muharram (berdasarkan Kalendar Islam Hijrah) pada setiap tahun.

 

- Rangkaian Kegiatan

Selama 10 hari pelaksanaan Festival Tabot, masyarakat dan wisatawan dapat menyaksikan rangkaian upacara ritual Tabot dan menikmati berbagai pegelaran seni-budaya serta lomba-lomba kreasi seni tradisional kota Bengkulu, seperti: lomba Ikan-Ikan, lomba Telong-Telong (mungkin berasal dari kata Tengloleng atau Lampion dalam bahasa Cina), lomba Dol, lomba tari, Lomba Barong Landong (mirip Ondel-Ondel Betawi) dan sebagainya.

Adapun tahapan demi tahapan upacara Tabot adalah sebagai berikut:

Mengambik tanah (mengambil tanah)

Tanah yang diambil harus mengandung unsur-unsur magis oleh karena itu harus diambil dari tempat keramat. Di Bengkulu, hanya ada dua tempat yang dianggap keramat yaitu di Keramat Tapak Padri yang terletak di tepi laut tidak jauh dari Benteng Marlborough di sudut kanan Pelabuhan Laut Bengkulu dan Keramat Anggut yang terletak di pemakaman umum Pasar Tebek dekat Tugu Hamilton, tidak jauh dari Pantai Nala. Upacara ini berlangsung pada malam tanggal 1 Muharam, sekitar pukul 22.00 WIB.

Tanah yang diambil disimpan di Gerga (pusat kegiatan/markas kelompok Tabot bersangkutan), dibentuk seperti boneka manusia dan dibungkus dengan kain kafan putih, lalu diletakkan di Gerga. Gerga tertua di Bengkulu hanya ada dua, yaitu Gerga Berkas dan Gerga Bangsal. Keduanya telah direnovasi dan kini berwujud bangunan permanen.

Di kedua tempat tersebut, mereka memberikan sesajen berupa: bubur merah dan bubur putih, gula merah, sirih 7 subang, rokok nipah 7 batang, kopi pahit 1 cangkir, air serbat 1 cangkir, dadih (susu sapi murni yang mentah) 1 cangkir, air cendana 1 cangkir, air dan selasih 1 cangkir.

 

Duduk Penja (mencuci jari-jari)

Penja adalah benda yang terbuat dari kuningan, perak atau tembaga yang berbentuk telapak tangan manusia lengkap dengan jari-jarinya. Karenanya penja ini disebut juga dengan jari-jari. Menurut keluarga Sipai, Penja adalah benda keramat yang mengandung unsur magis. Ia harus dicuci dengan air limau setiap tahunnya. Upacara mencuci penja ini disebut duduk Penja, yang dilaksanakan pada tanggal 5 Muharram sekitar pukul 16.00 WIB.

Pada acara Penja ini, peralatan yang dibutuhkan adalah: air kembang, air limau nipis, sesajen, dan penja yang akan dicuci. Sesajen yang dipersiapkan terdiri: nasi kebuli 1 porsi, emping beras 1 piring, pisang emas 1 sisir, tebung 1 potong, kopi pahit 1 gelas, air serobat 1 gelas, dan dadih 1 gelas.

 

Menjara (mengandung)

Menjara adalah berkunjung atau mendatangi kelompok lain untuk beruji/bertanding dol, sejenis beduk yang terbuat dari kayu yang dilubangi tengahnya serta ditutupi dengan kulit lembu.

Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 6 dan 7 Muharram mulai pukul 20.00 atau 23.00 WIB. Pada tanggal 6 Muharram, kelompok Tobat Bangsal mendatangi kelompok Tobat Barkas sedangkan pada tanggal 7 Muharram kelompok Tobat Barkas mendatangi kelompok Tobat Bangsal. Kegiatan ini berlangsung dihalaman terbuka yang disediakan oleh masing-masing kelompok.

 

Meradai (mengumpulkan dana)

Meradai adalah pengambilan dana oleh Jola (bahasa Melayu artinya orang yang bertugas mengambil dana untuk kegiatan kemasyarakatan) yang terdiri dari anak-anak berusia 10-12 tahun. Acara ini dilakukan pada siang hari tanggal 6 Muharram antara pukul 07.00-17.00 WIB. Lokasi pengambilan dana biasanya sudah disepakati bersama oleh masing-masing kelompok Tabot. Peralatan yang dibutuhkan diantaranya adalah: bendera panji, tombak bermata ganda, tas atau kambut, karung gandum, dan tessa.

 

Arak Penja (mengarak jari-jari)

Arak Penja atau arak jari-jari merupakan acara mengarak jari-jari yang diletakkan di dalam Tabot dengan di jalan-jalan utama di kota Bengkulu. Kegiatan ini dilaksanakan pada malam ke-8 dari bulan Muharram, yaitu sekitar pukul 19.00 WIB dan berakhir sekitar pukul 21.00 WIB.

Bahan-bahan yang digunakan sebagai bahan sesajen adalah: nasi kebuli 1 porsi, kopi pahit 1 gelas, air serobat 1 gelas, telur dadar 1 buah, lauk pauk 7 piring (7 macam jenis lauk).

Arak Seroban (mengarak Sorban)

Arak Serban merupakan acara mengarak Penja ditambah dengan Serban (Sorban) putih dan diletakkan pada Tabot Coki (Tabot Kecil). Tabot Coki ini dilengkapi dengan bendera/panji-panji berwarna putih dan hijau atau biru yang bertuliskan nama “Hasan dan Husain” dengan kaligrafi Arab yang indah. Kegiatan ini diadakan pada malam ke-9 Muharram sekitar pukul 19.00-21.00 WIB.

Sebagai mana namanya, maka peralatan yang dibutuhkan dalam acara ini adalah Tabot dan seroban. Selain itu, juga dibutuhkan kain khusus dan Tabot Coki (kursi kerajaan/tahta)

Gam (tenang / berkabung)

Satu di antara tahapan upacara Tabot yang harus ditaati adalah “gam”. Gam adalah waktu yang tidak boleh ada kegiatan apapun. Gam berasal dari kata “ghum” yang berarti tertutup atau terhalang. Tanggal 9 Muharram merupakan masa gam ini, yakni sejak pukul 07.00 hingga pukul 16.00 WIB, di mana pada waktu tersebut semua kegiatan yang berkaitan dengan upacara Tabot termasuk membunyikan dol dan tassa tidak boleh dilakukan. Jadi masa gam dapat juga disebut masa tenang.

 

Arak Gedang (taptu akbar)

Pada 9 Muharram malam, sekitar pukul 19.00 WIB dilaksanakan ritual pelepasan Tabot Besanding di gerga (markas) masing-masing. Selanjutnya dilanjutkan dengan arak gedang yakni grup Tabot berarak dari markas masing-masing menempuh rute yang ditentukan. Kemudian mereka akan bertemu sehingga membentuk arak gedang (pawai akbar). 

Arak-arakan ini menjadi ramai karena menyatunya grup-grup Tabot, grup-grup hiburan, para pendukung masing-masing serta masyarakat. Acara ini berakhir sekitar pukul 20.00 WIB. Akhir dari acara arak gedang ini adalah seluruh Tabot dan grup penghibur berkumpul di lapangan Merdeka Bengkulu (Sekarang: Lapangan Tugu Propinsi). Tabot dibariskan bershaf istilah lokal disandingkan, karenanya acara ini dinamakan Tabot Besanding.

Peralatan yang dibutuhkan dalam kegiatan ini adalah gerobak. Gerobak ini digunakan untuk mengangkut Tabot ke tempat Tabot dikumpulkan.

Tabot Tebuang (Tabot terbuang)

Acara terakhir dari rangkaian upacara Tabot adalah acara Tabot tebuang yang diadakan pada tanggal 10 Muharram. Pada pukul 09.00 WIB seluruh Tabot telah berkumpul di lapangan Merdeka dan telah disandingkan sebagaimana malam Tabot besanding. Grup hiburan telah berkumpul pula di sini dan menghibur para pengunjung yang hadir di waktu itu. Pada sekitar pukul 11.00 arak-arakan Tabot bergerak menuju ke Padang Jati dan berakhir di kompleks pemakaman umum Karabela. Tempat ini menjadi lokasi acara ritual Tabot tebuang karena di sini dimakamkan Imam Senggolo (Syekh Burhanuddin) pelopor upacara Tabot di Bengkulu.

Pada sekitar pukul 12.30 WIB acara Tabot Tebuang di makam Senggolo tersebut. Karena dipandang bernilai magis, acara ini hanya bisa dipimpin oleh Dukun Tabot yang tertua. Selesai acara ritual di atas, barulah bangunan Tabot dibuang ke rawa-rawa yang berdampingan dengan komplek makam tersebut. Dengan terbuangnya Tabot pada sekitar pukul 13.30 WIB, maka selesailah seluruh rangkaian upacara Tabot dimaksud.

 

- Perkembangan Sepanjang Tahun

Pada tahun 2010, tradisi Tabot di Bengkulu yang berlangsung 6-16 Desember 2010, menelan biaya Rp 1,2 milyar. Sebesar Rp 500 juta berasal dari dana Pemprov bengkulu, sedangkan sebesar Rp 640 juta lainnya berasal dari Pemkot Bengkulu. Selebihnya diperoleh dari donatur. Biasanya, tradisi Tabot yang kini diberi nama Festival Tabot ini berlangsung pada tanggal 01 hingga 10 Muharram setiap tahunnya.

Secara lebih tegas, tradisi Tabot menjadi festival budaya lokal dengan nama Festival Tabot, sudah berlangsung sejak 1990. Penyelenggaranya, tetap dari komunitas Sipai yang menamakan diri Kerukunan Keluarga Tabot Bengkulu (KTB). Pada tahun 2010 lalu, diselenggarakan di depan Tugu Thomas Parr, Kelurahan Malabero, dan dihadiri oleh seluruh unsur Muspida provinsi Bengkulu. Juga para bupati dan wakil bupati di seluruh kabupaten dankota.

Pada tahun 2010, Pesta Budaya Tabuik Pariaman digelar pada tanggal 7 hingga 19 Desember 2010. Agar terlihat Islami, pesta budaya ini diawali dengan Dzkir Bersama dan Tausiyah. Menurut Mukhlis Rahman (Walikota Pariaman), pesta budaya tabuik tahun 2010 berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, karena pada tahun 2010 ini juga ditampilkan pagelaran Barongsai, yang merupakan budaya khas Cina.

Nampaknya, pemkot Pariaman cukup serius menjadikan tradisi tabuik sebagai bagian dari objek wisata lokal yang bisa dijual. Faktanya, pada tanggal 9 April 2011, pemkot Pariaman meresmikan dua unit Rumah Tabuik, yang dimaksudkan sebagai pusat kebudayaan, seni, dan tradisi Pariaman. Dana pembuatan rumah tabuik ini berasal dari APBN sebesar Rp2,3 miliar dan dana APBD Pariaman Rp1,71 miliar.

Tabot pada 15 November 2013 diisi dengan Festival menyuguhkan berbagai macam kegiatan di antaranya permainan rakyat, rangkaian tari daerah kabupaten dan kota di Provinsi Bengkulu, lomba pemilihan putri busana Muslim, lomba telong-telong.

Di tahun 2014 sendiri, Disparbud Bengkulu mengundang sejumlah daerah di Tanah Air untuk ikut ambil bagian dalam kegiatan bazar tersebut guna memeriahkan Festival Tabot 2014 di daerah ini.

Selanjutnya Festival Tabot 2016 diikuti seluruh kabupaten dan kota di Bengkulu. Setiap kabupaten dan kota tersebut, akan menampilkan berbagai jenis seni budaya masyarakat setempat, termasuk tarian tradisional. Selain menggelar berbagai perlombaan seni budaya setempat, pihak panitia juga mengadakan acara bazar yang diikuti berbagai daerah di Tanah Air.

Di tahun 2018 ini Festival Tabot masuk ke dalam 100 agenda wisata Indonesia kelas dunia. Hal itu disampaikan oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya. Adapun, 100 agenda kelas dunia yang disiapkan oleh Kementerian Pariwisata disebut Prime Events. Event-event tersebut bakal ditetapkan, diluncurkan dan dipromosikan oleh Kemenpar. Selain dikurasi oleh tim, 100 premier events itu akan dikonfirmasi kembali ke masing-masing daerah, untuk dipersiapkan secara matang pada tahun mendatang. Festival lainnya yang telah masuk 100 agenda wisata kelas dunia tahun 2018 adalah Tour de Ijen dan Jember Fashion Carnival.

 

 

- Tanggapan Masyarakat 

Sebagian tokoh syi’ah ada yang pernah mengklaim, bahwa sebenarnya ideologi syi’ah sudah diterima masyarakat Indonesia sejak lama, dengan menunjuk kepada fenomena budaya berupa Tabot di Bengkulu atau Tabuik di Sumatera Barat, juga maraknya praktek nikah mut’ah di sejumlah daerah di Indonesia.

Klaim seperti itu sebenarnya tidak berdasar, karena meski sebagian (kecil) masyarakat Indonesia merayakan  Tabot  atau  Tabuik dan mempraktekkan nikah mut’ah, namun landasannya bukan pemahaman keagamaan, tetapi semata-mata faktor fulus. Tradisi Tabot atau Tabuik menjadi menarik diprogramkan secara berkala karena anggarannya menggiurkan, mencapai milyaran. 

 

- Nilai dan Pesan Moral Acara Tabot

Upacara Tabot bagi masyarakat Bengkulu merupakan nilai agama yang sakral sekaligus mengandung nilai sejarah dan sosial. Ada banyak pesan moral dan sosial dari ritual Tabot bagi masyarakat Bengkulu. Salah satunya adalah selain manifestasi kecintaan dan mengenang kepahlawanan Imam Hussein bin Ali, juga mengingatkan manusia terhadap praktik penghalalan segala cara untuk menuju puncak kekuasaan dan simbolisasi dari sebuah keprihatinan sosial. (Bisri)

Rujukkan : 

www.nahimunkar.org

www.ms.wikipedia.org

www.joefn.wordpress.com

Related News

Loading...

pers

loading...