Menelan Pahit Hidup Sebatang Kara di Usia Senja

Senin, 23/05/2022 - 06:46
ilustrasi
ilustrasi

Oleh: Mita Harianti (Mahasiswa Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan, Politeknik Negeri Jakarta)

            Ingar bingar Kota Jakarta terdengar bising di telinga. Orang-orang tampak terus berjalan di bawah panas terik tanpa peduli apa yang dilaluinya. Ada yang gegas berjalan, ada yang keteteran mengurus barang bawaan, dan ada juga yang berlari berlomba dengan waktu agar tidak ketinggalan kereta. Suasana di stasiun Manggarai siang ini ramai seperti biasanya. 

            Orang-orang yang berada di dalam gerbong sana, tentu sedang menuju tempat tujuannya masing-masing. Pulang dari tempat kerja, pergi melamar kerja, pulang dari tempat ia menimba ilmu, bahkan mungkin hanya sekadar ingin bermain mencari kesenangan semata. Namun, sejauh apapun mereka pergi keluarga adalah rumah tempat mereka kembali. 

            Di kursi ketiga sebelah kanan tangga, peron datangnya kereta dari arah Bogor, Depok, Tebet, dan beberapa stasiun lainnya yang ia lalui. Ada seorang pria menggunakan baju bermotif kotak-kotak dengan garis biru dipadukan dengan celana dasar abu-abu. Memakai topi berwarna coklat, masker biru tua, dan jam tangan yang melengkapinya. Lelaki tersebut duduk membelakangi arah datang dan pergi kereta, menghadap ke rumah-rumah beton dan gedung-gedung tinggi yang terhampar sejauh mata memandang. 

            Walaupun badannya kurus, tapi secara keseluruhan fisiknya beliau bagus dan terjaga karena rutin check-up 3 bulan sekali dan dari SMA beliau tidak pernah merokok karena tahu efek dari rokok itu bahaya. Namanya Anton, diumur beliau yang sudah 60 tahun ini kakinya masih kuat melangkah membawa ke mana dirinya ingin pergi. Seperti saat ditemui di stasiun ini, beliau baru saja pulang dari Tebet untuk bertemu temannya.

            Setelah turun dari kereta yang membawa beliau dari Tebet ke Manggarai, Anton tidak langsung pulang ke rumah. Beliau malah duduk berlama-lama menikmati pemandangan. Katanya, di rumah tidak ada seorang pun yang menunggu dia pulang. Saat ini, beliau tinggal sendiri, sehari-hari ditemani kucing karena beliau belum berkeluarga. Selain itu, beliau juga sudah tidak memiliki bapak dan ibu. 

            Anton anak kedua dari dua bersaudara, namun kakaknya lebih dulu menghadap sang pencipta karena menderita kanker. Setelah kedua orang tua meninggal, awalnya beliau tinggal dengan kakak laki-lakinya tersebut di rumah almarhum orang tua di Klender bersama keluarga dan anak-anak kakaknya. Barulah setelah kakaknya meninggal, beliau menempuh pahitnya hidup sebatang kara.

            Sanak saudara dari orang tuanya masih ada, seperti anak paman dan anak bude. Mereka berada di Semarang, Purworejo, dan ada juga yang bertempat tinggal di Jakarta. Hanya saja, saudara kandung beliau tidak punya. Beliau hidup sendiri dalam rumah yang ditinggalkan orang tuanya di Klender. 

            “Keluarga orang tua ada, seperti anak Paman, anak Bude. Ada yang di Semarang, ada yang di Purworejo, di Jakarta ini juga ada. Cuma yang saudara kandung tidak punya. Saya hidup sendiri sekarang,” urainya dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca.

            Dulu, beliau bekerja di Badan Pengelola Hutan yang ada di Kalibata, kantornya di Gedung Manggala Wanabakti. Dirinya bekerja selama 20 tahun, lalu memutuskan untuk pensiun dini. Walaupun ibunya seorang pegawai negeri, setelah lulus SMA beliau tidak kuliah, tapi mengikuti kursus komputer karena dulu beliau menganggap orang tuanya tidak punya cukup uang untuk menguliahkannya. Sehingga, selepas dari kursus tersebut beliau langsung bekerja. Ibunya meninggal diumur 74 tahun. 

            Rasa sedih kian mengerubungi Anton, sedih ditinggalkan orang tua dan kakak yang dicintainya. Beliau punya dua rumah, satu ada di Kebun Jeruk dan ia kontrakkan, kemudian yang kedua di Klender yang ia tempati bersama kucing-kucingnya. Ada 6 ekor kucing yang setia menemani Anton setiap hari. Sementara, uang untuk makan dan kebutuhan sehari-harinya ia dapatkan dari uang sewa rumah yang dikontrakkan.

            Beruntung kedua orang tuanya meninggalkan beliau dengan rumah, lahan, dan uang. Jika tidak, mungkin sekarang beliau sudah menjadi gembel karena tidak punya keluarga yang bisa dijadikannya rumah untuk pulang. Diumur beliau yang sudah berkepala enam ini, belum berkeluarga sudah takdir yang harus ia hadapi. Sama seperti tantenya yang tidak menikah sampai ia meninggal. 

            “Saya sedih, karena meskipun banyak uang tapi saya hidup sendiri, tidak punya orang tua dan keluarga. Umur 60 tahun ini belum berkeluarga mungkin karena takdir, sama seperti tante saya yang tidak menikah sampai meninggal. Saya rindu orang tua saya.” Air mata tak dapat ia bendung lagi, kini mengalir seperti anak sungai di kedua pipinya.

         Menghabiskan hari dengan kucing-kucing atau biasanya keluar bertemu teman, lalu pulang setelah magrib. Sesampainya di rumah nonton tv, kemudian tidur. Begitu pola aktivitasnya tiap hari. Rumah menjadi tujuan setiap orang setelah bepergian dan perjalanan panjang. Namun, keluarga adalah sebaik-baiknya rumah untuk pulang. (mh)

Related News