Toleransi dan Kearifan Lokal Efektif Lawan Paham Radikal

Kamis, 18/08/2022 - 17:57
ilustrasi
ilustrasi

Oleh : Alif Fikri )*

Radikalisme merupakan paham berbahaya yang mampu menciptakan perpecahan bangsa. Oleh sebab itu, diperlukan penguatan toleransi dan kearifan lokal yang efektif melawan paham radikal.

Salah satu hal yang menjadi keunikan dari Bangsa Indonesia adalah karena masyarakatnya memiliki nilai kearifan lokal yang kuat dan juga unik. Bahkan masyarakat Tanah Air sendiri sejatinya memang merupakan masyarakat yang sangat cinta akan perdamaian dan terus menganut hidup rukun berdampingan dengan nilai toleransi yang sangatlah tinggi karena sudah sejak dulu Indonesia terdiri dari banyak latar belakang kkebudayaan namun nyatanya masih tetap bisa bersatu untuk mengusir penjajah.

Bahkan para pendiri Bangsa pun kemudian menyematkan sebuah semboyan, yakni Bhinneka Tunggal Ika, yang mana merupakan cerminan asli dari Bangsa Indonesia karena masyarakatnya yang begitu beragam, namun ternyata tetap bisa menjadi satu kesatuan yang begitu kuat.

Namun belakangan dengan mulai menggeliatnya para propagandis kelompok dan juga paham radikal, ternyata hal tersebut pastinya akan sangat berdampak dan mengikis kearifan lokal hingga nilai-nilai intoleransi yang sudah dimiliki oleh Bangsa Indonesia sejak lama. Karena ketika agenda kelompok radikal berhasil disebarkan, maka perlahan masyarakat akan menjadi semakin intoleran dan ujungnya bisa saja akan menciptakan kekacauan dengan tindak terorisme.

Maka dari itu sangatlah penting sebenarnya upaya untuk terus bisa menangkal paham yang sangat bertentangan dengan ideologi Pancasila tersebut, yakni salah satunya adalah dengan Gerakan Sigap Sosial Kemanusiaan (GASSAK) dengan diskusi yang mereka gelar termasuk juga untuk terus menggelorakan semangat kebhinnekaan.

Mengenai hal tersebut, Ketua GASSAK, Zan Yuri Faton mengatakan bahwa gerakan radikalisme dan intoleran bahkan yang bermuara pada tindak terorisme belakangan sangat rentan untuk muncul di tengah masyarakat. Bahkan sudah beberapa kali ada warga yang terindikasi terlibat dalam gerakan radikal dan intoleran.

Namun untungnya Pemerintah dan pihak Kepolisian memiliki kesiapsiagaan yang sangat tanggap sehingga indikasi tersebut bisa langsung dengan jelas diketahui. Beberapa contoh dari temuan adanya masyarakat yang terindikasi radikalisme diungkapkan. Faton menjelaskan bahwa mulai ada masyarakat yang tiba-tiba menentang budaya dan juga tradisi atau kearifan lokal dengan menyebutnya sebagai perbuatan yang syirik. Mereka terkesan selalu memaksakan agama, kepercayaan atau keyakinannya dengan menganggap diri sebagai pihak yang paling benar dan mudah menuding orang lain sebagai kafir atau sesat.

Ketua GASSAK tersebut juga menjelaskan bahwa seharusnya masyarakat harus terus melestarikan kebudayaan dan juga kearifan lokal dalam daerah masing-masing, termasuk juga terus menggelorakan semangat untuk menjaga budaya gotong-royong, guyub rukun dan saling peduli dengan tetap memegang tradisi leluhur.

Akan tetapi dengan adanya paham radikal dan intoleran ini ternyata terus mencoba untuk bisa mengikis budaya serta kearifan lokal di masyarakat sehingga jelas Faton menegaskan bahwa hal itu sangatlah membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, serta sangatlah bertentangan dengan nilai sosial dan mencederai kemanusiaan secara universal.

Untuk itu, menjadi sangatlah penting untuk terus menyemarakkan edukasi dengan pendekatan kebudayaan dan kearifan lokal, serta kegiatan kemanusiaan. Seluruh pihak harus turut aktif untuk saling mengajak masyarakat demi bisa melawan dan menolak segala bentuk radikalisme serta intoleransi, apalagi upaya terorisme demi terjaganya suasana yang kondusif di Tanah Air.

Ketua Aliansi Bela Garuda (ABG), Totok Ispurwanto juga turut menegaskan bahwa intoleransi memang sangatlah membahayakan bangsa Indonesia yang mengusung semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Menurutnya radikalisme dan sikap intoleran adalah budaya asing yang menyasar budaya dan kearifan lokal untuk dihancurkan.

Selanjutnya jika sudah bisa menghilangkan budaya asli Indonesia, maka lama-lama paham asing tersebut akan merubah ideologi hingga mengganti sistem pemerintahan. Jadi memang radikalisme dan intoleransi itu harus dilawan dengan budaya serta kearfian lokal khas masyarakat sendiri.

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Gunungkidul, Saban Nuroni juga mengatakan bahwa agama sejatinya tidak akan pernah mengajarkan kekerasan, sehingga radikalisme dan intoleransi yang akhirnya mengarah pada aksi terorisme memang sangat bertentangan dengan nilai-nilai agama sehingga sangat penting dilakukan moderasi beragama.

Pada kesempatan lain, Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Irfan Idris juga menegaskan bahwa memang radikalisme dan terorisme adalah sebuah ancaman yang sangat luar biasa karena hal itu adalah sebuah kejahatan kemanusiaan, kejahatan lintas negara hingga kejahatan yang sangat serius.

Lebih lanjut, Irfan juga menyampaikan bahwa memang sangat penting BPIP mengangkat Undang-Undang mengenai perlindungan Pancasila sehingga menurutnya RUU BPIP sangatlah dibutuhkan karena nantinya akan menciptakan payung hukum sangat kuat dalam upaya melawan intoleransi radikalisme sebagai gerakan yang mengancam ideologi negara.

Sudah sepatutnya masyarakat bersinergi untuk melawan paham radikal dengan penguatan toleransi dan kearifan lokal. Dengan adanya sinergitas melalui kearifan lokal dan toleransi paham radikal yang umumnya berasal dari budaya impor tersebut akan terkikis dengan sendirinya.

)* Penulis adalah kontributor Nusa Bangsa Institute   

Related News