Anggota Komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur, Puguh Wiji
Klikwarta.com, Jawa Timur - Anggota Komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur, Puguh Wiji Pamungkas menyoroti tingginya angka hipertensi pada anak dan remaja di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan lewat program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Nn pada Agustus 2026, sekitar 2,2 juta anak dan remaja terdeteksi memiliki tekanan darah di atas normal.
"Angka kesakitan pada anak-anak dan remaja yang memiliki hipertensi atau tekanan darah di atas normal angkanya cukup tinggi sekitar 2,2 juta. Ini menjadi salah satu kekhawatiran yang perlu dimitigasi," ujar Puguh.
Politisi PKS menilai situasi ini berbahaya karena Indonesia menuju masa bonus demografi. Gen Z dan Gen Alpha yang jumlahnya mendominasi, kelak akan menjadi penerus bangsa.
Kalau situasi ini tidak segera dilakukan langkah-langkah persuasif dan mitigasi, tentumenjadi ancaman bagi eksistensi demografi. Mengingat Gen Z dan Gen Aplha akan menjadi penerus perjalanan Bangsa Indonesia.
Puguh menekankan Jawa Timur perlu mendapat perhatian khusus. Mengingat jumlah penduduk 42 juta jiwa, Jatim merupakan provinsi dengan penduduk terbanyak kedua di Indonesia.
"Satu diantara empat penduduk Jawa Timur itu anak muda. Angkatan kerja kita sekitar 23-24 juta. Ini menjadi situasi yang perlu disikapi dengan bijak dan persuasif oleh pemerintah," ucapnya.
Menurut Puguh, salah satu pemicu utama hipertensi pada anak adalah pola makan tidak sehat. Data menunjukkan hampir 50% anak Indonesia gemar mengonsumsi makanan manis dan junk food.
"Minuman-minuman menggunakan perisa ini juga menjadi penyumbang tingginya tekanan darah," ungkapnya.
Untuk menekan angka tersebut, politisi asal dapil Malang Raya itu mendorong pemerintah melakukan promosi kesehatan secara terencana, terukur, dan berkelanjutan. Sasarannya adalah sekolah mulai SD, SMP, hingga SMA karena di sanalah Gen Z dan Gen Alpha berada.
Promosi kesehatan dengan memberikan edukasi kepada anak-anak tentang budaya hidup sehat, termasuk di dalamnya pola makan. Proses ini tidak bisa dilakukan sekali dua kali karena mengubah lifestyle seseorang tidak bisa seperti membalikkan telapak tangan.
Ia juga meminta fungsi Unit Kesehatan Sekolah (UKS) direvitalisasi kemanfaatannya. Mengingat selama ini UKS hanya bersifat kuratif. Maka, ke depan UKS harus difungsikan untuk preventive medicine dan bisa bekerja sama dengan Puskesmas, rumah sakit, hingga perguruan tinggi kesehatan.
"Butuh kerja ekstra dari Kemenkes, Dinkes Provinsi, Dinkes kabupaten kota sampai Puskesmas, Puskesmas pembantu, posyandu, dan kader kesehatan di desa. Difungsikan sebagai infrastruktur untuk melakukan promosi kesehatan," ujarnya.
Puguh menambahkan, edukasi tidak hanya untuk siswa tetapi juga orang tua, karena yang menyiapkan menu makanan sehari-hari anak. Namun, promosi kesehatan tidak hanya ditujukan ke para siswa saja, tetapi juga edukasi menyasar para orang tua.
"Paling tidak secara periodik diundang, diberikan edukasi tentang ancaman budaya hidup tidak sehat terhadap keberlangsungan generasi muda," pungkasnya. (**)








