Ada 5 Ponpes Besar di Jombang, DPRD Jatim Nilai Transjatim Solusi Mobilitas Wali Santri

Senin, 05/10/2026 - 22:21
Wakil Ketua DPRD Jatim, Hidayat

Wakil Ketua DPRD Jatim, Hidayat

klikwarta.com, Jatim - Transportasi publik menjadi kebutuhan masyarakat seiring ekonomi lesu dan harga BBM yang mahal. Untuk itu, DPRD Jawa Timur terua matangkan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Transportasi Publik Terintegrasi Jawa Timur.

Wakil Ketua DPRD Jatim, Hidayat, menegaskan Perda tersebut sangat penting karena kebutuhan masyarakat terhadap transportasi publik terus meningkat, namun harus dikelola secara terintegrasi.

"Perda ini bagi Komisi D sangat penting, karena transportasi publik hari ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Tetapi juga harus terintegrasi," ujar Hidayat usai paripurna.

Ia menjelaskan, maksud terpadu dalam Raperda tersebut adalah penataan seluruh moda transportasi antarmoda atau intermodal agar layanan menjadi lebih efektif dan efisien.

"Terpadu artinya apa? Artinya bahwa seluruh intermodal transportasi harus ditata, harus dikelola agar layanan transportasi publik bisa lebih efektif dan efisien. Bagaimana orang berangkat dari rumah menuju titik tujuannya itu harus terlayani dengan baik," jelasnya.

Menurut Hidayat, konsep integrasi tersebut mencakup layanan dari rumah warga menuju angkutan penghubung (feeder), kemudian terhubung ke simpul transportasi publik seperti terminal, stasiun, hingga tujuan akhir dan sebaliknya.

Politisi asal Partai Gerindra ini menyebut dalam perda ini diatur semua komponen, semua pihak harus mempunyai pandangan yang sama bahwa transportasi publik terintegrasi itu penting dan harus didukung bersama. 

" Agar apa? Agar masyarakat berbondong-bondong beralih dari transportasi pribadi kepada transportasi publik. Dari kendaraan roda dua pindah ke transportasi publik yang lebih aman dan nyaman," tegasnya.

Hidayat mencontohkan kesuksesan Bus Transjatim yang saat ini okupansinya mencapai lebih dari 100 persen di setiap pemberangkatan sebagai bukti tingginya animo masyarakat.

Terkait penolakan pembukaan koridor baru Transjatim yang sempat terjadi di Malang dan Mojokerto, Hidayat meminta Dinas Perhubungan (Dishub) Jatim lebih mengakomodasi pelaku transportasi eksisting.

Ia menegaskan, kehadiran Transjatim bertujuan melayani masyarakat, bukan mematikan transportasi yang sudah berjalan dan dikelola oleh masyarakat.

"Penolakan koridor baru tidak hanya di Malang, di awal-awal dulu di Mojokerto juga ada penolakan. Karena transportasi publik ini, terutama Transjatim hadir untuk melayani masyarakat dan jangan sampai Transjatim ini meniadakan transportasi yang sudah jalan," ujarnya.

Solusinya, lanjut dia, adalah kolaborasi dengan memanfaatkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang sudah ada. Salah satunya adalah kolaborasi dengan feeder.

"Kalau butuh feeder, maka disubsidi oleh pemerintah, SDM-nya dari sopir yang dulu bekerja di trayek yang digantikan oleh Transjatim, beralih ke situ. Sehingga selama tidak ada yang dikorbankan, saya kira masyarakat tidak akan protes," jelasnya.

Hidayat meminta Dishub untuk melibatkan seluruh sumber daya transportasi di daerah dalam merumuskan kepentingan transportasi publik.

Khusus untuk kebutuhan Transjatim koridor Jombang, Hidayat menilai hal itu sangat mendesak. Mengingat Jombang merupakan bagian dari lingkar Surabaya dan bus antar kota dari Jombang menuju Surabaya sudah mulai penuh. Selain itu, Jombang memiliki potensi wisata religi yang sangat besar.

Jombang mempunyai titik-titik wisata religius, dimana ada lima pondok besar , makam-makam para muassis. Per pondok ribuan jumlahnya. Misalnya di Peterongan memiliki lebih dari 10 ribuan santri dari luar daerah.

"Apalagi di Tebuireng, Denanyar dan tempat-tempat lain itu luar biasa orang menggunakan transportasi. Oleh karena itu, kalau Trans Jatim ada di sana, saya kira akan sangat membantu mobilisasi para wali santri yang mondok di Jombang," pungkasnya.

Tags

Berita Terkait