Muhammadiyah Perkuat Difabel Lewat Ekonomi dan Kesehatan Mental

Minggu, 29/03/2026 - 13:49
Foto istimewa

Foto istimewa

Klikwarta.com, Yogyakarta – Amanat Muktamar ke-48 Muhammadiyah menegaskan pentingnya penguatan kelompok akar rumput, terutama kelompok rentan, untuk diberdayakan secara berkelanjutan.

Komitmen tersebut menjadi tanggung jawab bersama seluruh komponen Persyarikatan, termasuk civitas akademika Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA). Salah satu implementasinya dilakukan oleh Anggota Bidang Daerah 3T dan Komunitas Khusus Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Arni Surwanti.

Arni, yang juga dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), secara konsisten mengembangkan program pemberdayaan difabel, baik di bidang ekonomi maupun kesehatan mental.

Dalam aspek ekonomi, Arni bersama MPM dan tim pengabdian masyarakat dosen UMY mendampingi Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM) Difabel di Sleman yang bergerak di sektor peternakan ayam petelur.

Ia menjelaskan bahwa JATAM Difabel merupakan model kewirausahaan sosial yang mengintegrasikan pemberdayaan ekonomi, kesejahteraan hewan, serta keberlanjutan lingkungan.

“Seiring meningkatnya permintaan pasar terhadap produk pangan sehat dan beretika, usaha ini memiliki potensi untuk dikembangkan ke skala yang lebih besar,” ujar Arni dalam keterangan yang diterima, Sabtu (28/3).

Bersama dosen UMY lainnya, Ahim Abdurahim, Arni memberikan pendampingan untuk mengatasi persoalan manajerial dalam pengelolaan peternakan yang dikelola kelompok difabel tersebut.

Penguatan dilakukan pada delapan aspek, meliputi perencanaan usaha, pengorganisasian dan sumber daya manusia, operasional, pengendalian dan evaluasi, pengelolaan keuangan dan akuntabilitas, hingga manajemen risiko dan biosekuriti.

Melalui pendekatan audit manajemen, program ini diharapkan mampu meningkatkan kinerja usaha peternakan sekaligus memperkuat dampak sosial bagi pemberdayaan difabel.

Menjaga Kesehatan Mental Difabel

Selain aspek ekonomi, Arni juga menaruh perhatian pada isu kesehatan mental difabel di Indonesia yang masih memerlukan penguatan literasi dan akses layanan.

Ia menekankan bahwa gangguan mental seperti depresi, kecemasan, maupun skizofrenia bukanlah aib, melainkan kondisi yang membutuhkan penanganan tepat dan dukungan sosial.

“Diperlukan kerangka masyarakat dan kebijakan yang inklusif agar penyandang disabilitas mental tidak mengalami diskriminasi, pasung, atau isolasi sosial,” tegasnya.

Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah terapi berbasis aktivitas fisik dan psikologis untuk meningkatkan fokus, empati, serta regulasi emosi.

Dalam konteks ini, Arni bersama Retno Widodati (Dosen UMY) menginisiasi pengabdian masyarakat melalui implementasi Equine-Assisted Therapy (EAT) atau terapi berbasis kuda.

EAT merupakan metode terapi yang memanfaatkan interaksi antara manusia dan kuda untuk meningkatkan kondisi fisik, psikologis, sosial, dan kognitif penyandang disabilitas.

Program ini juga menghadirkan kolaborasi internasional dengan melibatkan Prof. Ryuhei Sano dari Hosei University, Jepang, serta Muthusamy dari Riding for Disability Association Malaysia yang telah berpengalaman dalam penerapan terapi serupa.

Melalui berbagai inisiatif tersebut, diharapkan pemberdayaan difabel tidak hanya berfokus pada aspek ekonomi, tetapi juga mencakup kesehatan mental dan kualitas hidup secara menyeluruh.

(Kontributor: Arif)

Berita Terkait