Wakil Menteri Koperasi (Wamenkop) Farida Farichah
Klikwarta.com, Blitar - Wakil Menteri Koperasi (Wamenkop) Farida Farichah, menegaskan bahwa pemerintah tengah melakukan reposisi dalam arah pembangunan ekonomi nasional. Salah satu langkah konkretnya adalah mengembalikan kedaulatan sumber daya alam dan produktivitas masyarakat desa ke tangan mereka sendiri melalui wadah koperasi.
Hal itu disampaikannya saat menjadi pembicara kunci dalam Seminar Ilmiah bertajuk 'Strategi Pemberdayaan Ekonomi Keluarga' di Kampus Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Minggu (5/7).
Di hadapan ratusan mahasiswa dan civitas akademika, Wamenkop menyoroti realitas pahit ekonomi hilir seperti bagaimana petani di desa menanam padi, namun penentuan harga jual justru didikte oleh para tengkulak karena keterbatasan modal tunai masyarakat lokal.
Acara tersebut dihadiri oleh Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Blitar Sri Wahyuni, Kepala UPT Pelatihan Koperasi, UKM Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Timur Anjik Sudiyantoro, Kapolres Blitar AKBP Rivanda, S.I.K., Kokarum 511 Kodim 0808/Blitar Kapten Inf. Budiyanto, dan Ketua PCNU Kabupaten Blitar KH. Muqorrobin.
Dalam rangka memutus rantai ketergantungan tersebut, Wamenkop memaparkan bahwa Presiden Prabowo Subianto menginisiasi kelahiran Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Program ini didesain sebagai ekosistem lengkap yang membawa modal perbankan dan teknologi pengolahan langsung ke tingkat desa.
Tujuannya adalah memastikan adanya added value (nilai tambah) yang berputar di desa, bukan ditarik ke kota-kota besar.
"Kita ingin gabah itu dibeli melalui Koperasi Desa Merah Putih, dikeringkan, lalu dikemas menjadi beras premium di desa itu sendiri. Ketika ada kenaikan nilai jual 30 hingga 50 persen, pertumbuhan ekonomi dan lapangan pekerjaan itu terjadinya di desa, bukan dibawa keluar oleh pabrik-pabrik besar," jelasnya.
Kemudian secara khusus, Wamenkop menantang mahasiswa UNU Blitar agar memiliki mindset kewirausahaan. “Tujuan utamanya adalah tidak melahirkan pengangguran baru setelah lulus, ucap Wamenkop.
Ia meminta perguruan tinggi seperti UNU Blitar untuk mengintegrasikan literasi keuangan sejak mahasiswa baru masuk perkuliahan, serta mengoptimalkan program magang dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai ruang nyata pemberdayaan masyarakat.
Wali Kota Blitar, Syauqul Muhibbin, berpesan agar generasi muda, khususnya mahasiswa UNU Blitar, mulai membangun mentalitas 'entrepreneur' dengan target-target yang terukur secara bertahap.
"Mengejar Rp100 juta pertama itu susah, Rp1 miliar pertama super susah. Tapi semua ada tahapannya. Mulai dengan menetapkan prioritas keluarga dan siapkan tabungan masa depan agar kita tumbuh menjadi generasi yang sukses," jelas Wali Kota. (**)








