Hujan Rudal Tanpa Henti, Iran vs Israel–AS di Ambang Perang Besar

Jumat, 13/03/2026 - 23:25
Ilustrasi. AI

Ilustrasi. AI

Klikwarta.com, Timur Tengah - Memasuki hari ke-14, Jumat (13/3/2026), konflik Iran melawan aliansi Israel dan Amerika Serikat (AS) berubah menjadi mimpi buruk bagi kawasan Timur Tengah. Serangan demi serangan terjadi tanpa jeda, menciptakan situasi yang digambarkan pengamat sebagai “mendekati perang regional penuh”.

Sejak malam hingga pagi hari, Iran dilaporkan meluncurkan gelombang serangan terbesar sejauh ini. Rudal balistik dan drone tempur menghujani berbagai titik di Israel, memicu ledakan beruntun dan kepanikan massal.

Sirene meraung hampir sepanjang hari di sejumlah kota, sementara warga terpaksa berlindung dalam bunker di tengah ketidakpastian yang semakin mencekam.

Balasan

Tak butuh waktu lama, Israel dan AS melancarkan serangan balasan yang disebut jauh lebih brutal. Jet tempur dan rudal presisi menghantam target-target strategis di Iran dalam operasi besar-besaran.

Fasilitas militer, pusat komando, hingga jaringan logistik dilaporkan menjadi sasaran. Ledakan besar terjadi di berbagai wilayah, memperlihatkan bahwa perang telah memasuki fase penghancuran sistematis.

Beberapa sumber menyebutkan, intensitas serangan hari ini menjadi salah satu yang paling dahsyat sejak konflik dimulai.

Api Perang Menjalar ke Mana-Mana

Yang paling mengkhawatirkan, konflik kini semakin meluas. Dari utara, kelompok Hizbullah meningkatkan serangan roket ke Israel, memperkuat ancaman perang dua bahkan tiga front.

Di kawasan Teluk, ketegangan mencapai titik kritis. Aktivitas militer meningkat tajam, sementara ancaman terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz membuat jalur energi dunia berada di ujung tanduk.

Situasi ini memicu kekhawatiran bahwa lebih banyak negara bisa terseret ke dalam konflik.

Dunia Mulai Panik

Dampak global kian terasa. Harga minyak melonjak tajam, pasar keuangan bergejolak, dan kekhawatiran krisis energi semakin nyata.

Sejumlah negara mulai mengambil langkah darurat, termasuk evakuasi warga dan peningkatan status siaga militer.

Hingga Jumat malam, belum ada tanda-tanda meredanya konflik. Justru sebaliknya, eskalasi hari ke-14 menunjukkan perang bergerak menuju fase yang jauh lebih berbahaya.

Dunia kini berada di persimpangan: apakah konflik ini masih bisa dikendalikan atau justru akan meledak menjadi perang besar yang melibatkan lebih banyak negara?. (*)

Berita Terkait