Kemendikdasmen Dorong Budaya Peduli Lingkungan di Sekolah

Rabu, 14/10/2026 - 20:07
Wamendikdasmen, Atip Latipulhayat, menghadiri peluncuran gerakan program Sekolah Adiwiyata yang merupakan bentuk kolaborasi Kementerian Lingkungan Hidup, Kemendikdasmen, dan Kementerian Agama. Gedung Sasono Utomo, TMII, Jakarta, Senin (12/10)

Wamendikdasmen, Atip Latipulhayat, menghadiri peluncuran gerakan program Sekolah Adiwiyata yang merupakan bentuk kolaborasi Kementerian Lingkungan Hidup, Kemendikdasmen, dan Kementerian Agama. Gedung Sasono Utomo, TMII, Jakarta, Senin (12/10)

Klikwarta.com, Jakarta, 14 Oktober 2026 - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mendukung upaya membangun budaya peduli lingkungan di satuan pendidikan melalui kolaborasi bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Agama. Inisiatif ini mendorong perubahan perilaku ramah lingkungan yang dimulai dari kebiasaan sehari-hari, terutama di sekolah-sekolah yang belum pernah mengikuti Program Sekolah Adiwiyata.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian dari kebijakan inti pendidikan yang perlu diwujudkan melalui penguatan kompetensi lulusan, pembelajaran, pembiasaan karakter, dan penyediaan sarana sekolah yang layak.

“Sekolah adalah tempat kebiasaan dibentuk. Kebiasaan yang tumbuh di sekolah akan dibawa murid ke rumah, ke lingkungan tempat tinggalnya, dan ke tempat kerjanya,” ujar Wamen Atip dalam kegiatan Taubat Ekologis untuk Sekolah Berbudaya Lingkungan, di Jakarta, Senin (12/10).

Wamen Atip menjelaskan, kepedulian terhadap lingkungan tercermin dalam dimensi keimanan dan ketakwaan pada delapan dimensi profil lulusan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 10 Tahun 2025 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Kepedulian tersebut juga dapat diperkuat melalui pembelajaran mendalam (Deep Learning), kegiatan kokurikuler, Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, serta Gerakan Sekolah Bersih yang mendorong lingkungan sekolah aman, sehat, rapi, dan indah.

Untuk itu, Wamen Atip mengajak sekolah memulai perubahan dari kondisi nyata di lingkungan masing-masing, seperti mengidentifikasi jumlah sampah harian, memperbaiki pengelolaan sampah, menjaga kebersihan toilet dan saluran air, serta menghemat penggunaan energi dan air. Hasil identifikasi tersebut diharapkan menjadi dasar perbaikan yang terintegrasi dalam rencana kerja dan anggaran sekolah.

“Perubahan tidak boleh bergantung pada satu atau dua orang saja. Oleh karena itu, diperlukan komitmen seluruh warga sekolah dan dukungan pemerintah daerah agar kepedulian terhadap lingkungan tumbuh menjadi budaya,” tambahnya.

.

Semangat tersebut dirasakan Dini Purnama Sari, guru SMKN 17 Jakarta. Sekolahnya telah membiasakan murid dan warga sekolah membawa botol minum serta tempat makan sendiri, sekaligus memilah dan mengolah sampah organik maupun anorganik melalui kegiatan kokurikuler. Sekolah juga menyediakan fasilitas pengisian air minum mandiri agar murid dapat mengurangi penggunaan minuman kemasan.

Sementara itu, Annisa ul Chasanah, guru SDN Malaka Jaya 10 Jakarta, menyampaikan komitmen sekolah untuk membiasakan pemilahan sampah, mengurangi plastik sekali pakai, merawat tanaman, dan membuat kompos dari sisa makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta daun kering.

Melalui kolaborasi lintas kementerian dan partisipasi aktif warga sekolah, Kemendikdasmen berharap Taubat Ekologis tidak berhenti pada deklarasi, tetapi berlanjut menjadi aksi nyata dan kebiasaan sehari-hari. Dengan demikian, sekolah dapat menjadi ruang tumbuhnya generasi yang berkarakter, bertanggung jawab, dan peduli terhadap kelestarian lingkungan. 

(Kontributor : Arif)

Berita Terkait