Artis dangdut menggoyang Kartasura
Klikwarta.com, Kartasura – Malam itu, bukan hanya langit Kartasura yang berpendar bintang, tetapi juga hati warga yang bersinar penuh kegembiraan. Halaman depan Petilasan Karaton Kartasura dipenuhi warga dari berbagai penjuru, berkumpul dalam suasana hangat untuk merayakan Hari Jadi Kartasura ke-345. Sorot lampu panggung berpadu dengan aroma kuliner khas dari stan UMKM yang berjajar rapi, menghadirkan suasana seperti pasar malam tempo dulu yang penuh warna dan tawa. Kamis (9/10)
Di atas panggung utama, Orkes Melayu Bhend Gedhe tampil memukau. Grup musik kebanggaan warga Kartasura ini menyuguhkan lagu-lagu dangdut klasik yang menggugah kenangan masa silam. Suara kendang berpadu dengan tepuk tangan dan teriakan penonton, menciptakan irama kebersamaan yang menghangatkan hati. Tak hanya orang tua, anak-anak muda pun larut dalam joget gembira. Beberapa bahkan tampil dengan busana jadul, menambah semarak dan nuansa nostalgia malam itu.
Dipandu dengan piawai oleh Andrian , suasana kian hidup saat biduanita Ambar Safira dan Sita Aditya membawakan tembang-tembang bernada riang. Namun sorotan utama malam itu jatuh pada Yovita Sanjaya KDI, yang tampil penuh pesona. Lagu “Tambal Ban” yang ia bawakan membuat seluruh penonton bergoyang serentak, disusul “Pacar Dunia Akhirat” dan “Lukaku” yang menghadirkan suasana syahdu dan menyentuh hati.

Kejutan besar datang ketika Staso Prasetyo, putra dari almarhum maestro campursari Didi Kempot, naik ke panggung. Begitu bait pertama lagu “Suket Teki” dilantunkan, penonton serempak ikut bernyanyi, seakan kerinduan pada sang “Godfather of Broken Heart” kembali menemukan tempatnya. Suasana haru sekaligus bahagia mengalir ketika Staso menutup penampilannya dengan “Pamer Bojo”. Sorak-sorai membahana, menandai bahwa semangat musik dan warisan seni Didi Kempot masih terus hidup di hati masyarakat Kartasura.
Perayaan Hari Jadi Kartasura yang berlangsung sejak 1 hingga 12 Oktober ini bukan sekadar pesta musik. Beragam kegiatan turut digelar: pertunjukan seni budaya lokal, bazar UMKM, hingga gelaran komunitas kreatif yang melibatkan warga dari berbagai lapisan. Semua bersatu dalam semangat gotong royong dan cinta tanah kelahiran.
Malam ke-7 perayaan menjadi bukti bahwa Kartasura bukan hanya kaya sejarah, tetapi juga memiliki semangat hidup yang selalu menyala. Irama dangdut Bhend Gedhe malam itu bukan sekadar hiburan, melainkan penegasan bahwa kegembiraan, kebersamaan, dan kebanggaan sebagai warga Kartasura akan terus berdentang dari masa ke masa.
(Kontributor: Widyo)








