Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir
Klikwarta.com, Jember – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengajak warga Muhammadiyah untuk terus memaknai kehidupan dan ber-Muhammadiyah sebagai bagian dari ibadah sekaligus pengabdian kepada Allah SWT.
Pesan tersebut disampaikan Haedar dalam Tabligh Akbar Hari Ber-Muhammadiyah yang dirangkaikan dengan Peresmian Gerai Mentari Mart ke-7 di Jember, pada Sabtu (1/8).
Menurut Haedar, setiap manusia harus meyakini bahwa hidup memiliki tujuan dan makna. Ia mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an, fa aina tadzhabun (فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ), sebagai pertanyaan mendasar yang harus dijawab setiap insan.
“Itu adalah pertanyaan retorik yang harus kita jawab. Pertanyaan dari Allah untuk kita,” ujarnya.
Haedar menjelaskan bahwa tujuan utama manusia adalah beribadah kepada Allah. Karena itu, seluruh aktivitas kehidupan, termasuk bermuamalah dan ber-Muhammadiyah, harus diniatkan sebagai bentuk pendekatan diri kepada-Nya.
“Sehingga tidak pernah ada satu butir pun perbuatan kita yang tidak bernilai dan bermakna. Itu menjadi motivasi bagi diri kita,” katanya.
Menurut Haedar, ketika ibadah menjadi fondasi setiap amal, maka seluruh aktivitas akan menghadirkan manfaat yang luas sekaligus bernilai ibadah.
Selain sebagai hamba Allah, manusia juga mengemban amanah sebagai khalifah fil ardh, yakni memakmurkan bumi tanpa merusaknya. Amanah tersebut, lanjut Haedar, dijalankan melalui pemanfaatan akal pikiran yang dianugerahkan Allah.
“Manusia diberikan akal pikiran karena Tuhan mendesainnya memang untuk menjadi khalifah. Maka optimalkan akal pikiran itu semaksimal mungkin,” tuturnya.
Haedar menegaskan bahwa Islam memadukan qalb (hati) dan ‘aql (akal). Menurutnya, Muhammadiyah menjadi wadah untuk mengaktualisasikan kedua aspek tersebut secara bersama-sama.
“Di Muhammadiyah kita mengoptimalkan ibadah dan menjalankan fungsi khalifah secara berjamaah. Ibadah secara individu itu hebat, tetapi ketika dilakukan berjamaah menjadi dahsyat,” ungkapnya.
Ia menambahkan, tujuan akhir ber-Muhammadiyah adalah meraih ridha Allah. Karena itu, kehidupan dunia tidak boleh membuat manusia melupakan bekal menuju kehidupan akhirat. Haedar mengajak umat Islam memperbanyak amal jariyah melalui infak, sedekah, pendidikan anak, dan penyebaran ilmu yang bermanfaat.
Pada kesempatan tersebut, Haedar juga menyinggung pentingnya penguatan ekonomi sebagai salah satu pilar strategis Muhammadiyah. Ia mengingatkan bahwa sejak Muktamar Muhammadiyah 2015, bidang ekonomi dan bisnis ditetapkan sebagai pilar keempat gerakan Muhammadiyah, sejajar dengan pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial.
Menurutnya, masih terdapat pandangan negatif terhadap aktivitas ekonomi dan bisnis di kalangan umat Islam. Padahal, ekonomi merupakan instrumen penting untuk memperkuat kemandirian umat.
“Salah satu cara agar kita menjadi kuat dalam ekonomi adalah membenahi pemahaman kita terkait bisnis. Masih banyak umat kita yang memandang ekonomi sebagai hal negatif,” ujarnya.
Haedar menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara orientasi dunia dan akhirat. Menguasai dunia, katanya, bukan berarti menjadi budak dunia, melainkan memanfaatkan seluruh potensi yang dimiliki untuk menjalankan amanah sebagai khalifah di muka bumi.
Ia juga mengajak umat Islam memandang sumber daya alam sebagai anugerah Allah yang harus dikelola secara bertanggung jawab.
“Seluruh sumber daya yang kita miliki adalah anugerah. Maka harus kita kelola dengan baik. Yang dilarang adalah merusaknya,” tegasnya.
Dalam konteks penguatan ekonomi Muhammadiyah, Haedar mengapresiasi kolaborasi yang dibangun melalui pengembangan jaringan Mentari Mart. Menurutnya, kolaborasi dalam kebaikan merupakan syarat penting untuk membangun kemandirian ekonomi umat.
“Selama kolaborasi itu dalam kebajikan (birri wat-taqwa), maka harus terus diperkuat. Kita tidak akan berkembang jika hanya bergerak sendiri,” katanya.
Haedar menambahkan, Muhammadiyah telah membangun ekosistem tata kelola organisasi yang profesional, termasuk melalui Lembaga Pembina dan Pengawas Keuangan (LPPK) yang mengelola sistem keuangan organisasi secara akuntabel.
“Para pimpinan tidak memegang uang organisasi. Semua dikelola oleh lembaga yang memang diberi amanah. Inilah salah satu kekuatan tata kelola Muhammadiyah,” ujarnya.
Diakhir Haedar menegaskan bahwa makna kemandirian dalam Muhammadiyah bukan berarti berjalan sendiri, melainkan mampu berdiri di atas kekuatan sendiri sembari membangun kolaborasi yang luas demi kemaslahatan umat dan bangsa.
(Kontributor : Arif)








