Rembuk Stunting Desa Bantur
Klikwarta.com, Malang - Pemerintah Desa Bantur, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, menggelar rembuk stunting di Pendopo Desa Bantur, Selasa (15/9/2026).
Kegiatan tersebut menjadi forum untuk mengevaluasi sekaligus merumuskan langkah strategis dalam upaya pencegahan dan penanganan stunting di Desa Bantur.
Rembuk stunting dihadiri Camat Bantur Bayu Jatmiko, S.STP., Kepala Desa Bantur Nanang Kosim, serta para kader posyandu.
Dalam sambutannya, Camat Bantur Bayu Jatmiko menegaskan bahwa rembuk stunting bukan sekadar kegiatan seremonial. Forum tersebut merupakan bagian dari agenda yang wajib dilaksanakan desa sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan pembiayaannya dapat bersumber dari Dana Desa.
Menurut Bayu, rembuk stunting harus mampu menghasilkan keputusan dan rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti. Karena itu, keterlibatan kader posyandu bersama tenaga kesehatan menjadi penting untuk memastikan persoalan stunting dapat ditangani secara tepat.
“Rembuk stunting merupakan kegiatan yang bersifat mandatory, termaktub dalam aturan dan didanai oleh Dana Desa,” ujar Bayu.
Ia berharap pelaksanaan rembuk stunting di setiap desa dapat berjalan secara optimal. Para kader posyandu, kata dia, perlu mendapatkan pendampingan dari bidan dan perawat desa agar hasil musyawarah dapat menghasilkan program yang benar-benar dibutuhkan masyarakat.
Bayu juga mendorong agar rekomendasi yang dihasilkan dalam rembuk tersebut menjadi pijakan dalam menentukan langkah pencegahan dan penanganan stunting pada 2027.
“Harapannya, rembuk stunting di setiap desa bisa berjalan maksimal. Para kader posyandu, didampingi bidan dan perawat desa, bisa menghasilkan rekomendasi hasil musyawarah terkait langkah pencegahan dan penanganan stunting di tahun 2027 agar lebih baik dan maksimal,” katanya.
Sementara itu, Kepala Desa Bantur Nanang Kosim menyampaikan apresiasi kepada para kader, khususnya para ibu yang selama ini turut membantu menjalankan berbagai kegiatan di masyarakat.
Nanang mengatakan, peran kader sangat penting dalam mendukung program kesehatan di tingkat desa. Mereka menjadi salah satu ujung tombak dalam mendampingi masyarakat, termasuk dalam upaya memantau kondisi dan tumbuh kembang anak.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf atas keterbatasan anggaran yang dihadapi pemerintah desa pada tahun ini. Kondisi tersebut membuat dukungan terhadap sejumlah kegiatan belum dapat dilakukan secara maksimal.
“Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada ibu-ibu yang hadir, termasuk ibu-ibu yang selama ini ikut bekerja dan melaksanakan tugas-tugas. Kami juga meminta maaf karena keterbatasan anggaran tahun ini,” kata Nanang.
Nanang berharap kondisi keuangan desa pada tahun depan dapat kembali stabil seperti tahun-tahun sebelumnya. Dengan dukungan anggaran yang lebih memadai, berbagai program pelayanan masyarakat, termasuk kegiatan para kader, diharapkan dapat berjalan lebih optimal.
Di sisi lain, Ayu, bidan yang bertugas di Puskesmas Bantur, mengungkapkan bahwa saat ini terdapat 41 anak yang mengalami stunting di Desa Bantur.
Data tersebut menjadi perhatian bersama sehingga diperlukan penanganan secara berkelanjutan dengan melibatkan pemerintah desa, kader posyandu, serta tenaga kesehatan.
“Untuk anak yang terkena stunting di Desa Bantur saat ini ada 41 anak. Mudah-mudahan semuanya bisa cepat teratasi,” ujar Ayu.
Melalui rembuk stunting, pemerintah desa bersama kader dan tenaga kesehatan diharapkan dapat memperkuat koordinasi serta menyusun langkah penanganan yang lebih terukur. Upaya tersebut diharapkan mampu menekan angka stunting sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan dan tumbuh kembang anak di Desa Bantur.
Pewarta : Edy








