Ibu Sri Astuti Brilliyans Batik
Klikwarta.com, Jakarta, 8 Mei 2026 - Suara percakapan pengunjung bercampur dengan langkah kaki yang terus berlalu-lalang memenuhi area di Jakarta. Di antara deretan stan Wastra Nusantara yang memamerkan karya terbaik dari seluruh penjuru Indonesia, Booth nomor 18 terlihat paling hidup sejak pagi hari.
Di balik tumpukan kain batik tulis yang tertata rapi, seorang perempuan tampak tak berhenti tersenyum. Ia adalah Sri Astuti atau yang akrab disapa Mbak Beb. Tangannya sibuk melayani pengunjung, matanya sesekali berbinar saat melihat orang-orang terpikat pada setiap detail batik buatannya.
Tak ada kesan mewah berlebihan di booth itu. Namun justru kesederhanaannya menghadirkan daya tarik tersendiri. Motif batik tulis yang dikerjakan manual menggunakan canting dan malam panas membuat banyak pengunjung berhenti cukup lama hanya untuk memperhatikan detail demi detail guratan tangan di atas kain.

Bagi Sri Astuti, hari pertama pameran ini bukan sekadar kesempatan berjualan. Ini adalah perjalanan panjang yang akhirnya menemukan panggungnya. Semua karya yang dipajang lahir dari sebuah sudut sederhana di asrama Yonkes 2/2 Kostrad, Karangploso, Malang. Tempat di mana ia memulai semuanya dengan kesabaran dan ketekunan.
Proses membatik yang dijalani Sri Astuti bukan pekerjaan singkat. Ia harus menggambar pola terlebih dahulu, kemudian mencanting secara perlahan agar malam tidak melebar. Setelah itu, kain harus melalui tahap pewarnaan hingga pelarutan malam atau nglorod yang membutuhkan ketelitian tinggi. Kesalahan kecil saja bisa merusak keseluruhan motif.
Namun dari proses panjang itulah lahir Brilliyans Batik, nama yang diambil dari putranya, Abrilliyan. Nama sederhana yang kini mulai dikenal luas melalui motif-motif eksklusif yang tidak ditemukan di pasaran.

Keramaian di Booth 18 semakin terasa ketika jajaran pimpinan datang berkunjung. Ketua Umum Persit KCK, Ny. Uli Pandjaitan, bahkan sempat berfoto di depan stan Brilliyans Batik. Kehadiran para pimpinan itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Sri Astuti dan seluruh anggota Persit yang mendukung usahanya.
Di tengah ramainya pengunjung yang datang silih berganti, Sri Astuti tampak beberapa kali menarik napas panjang sambil menatap booth miliknya. Ada rasa haru yang sulit disembunyikan. Baginya, melihat karya dari asrama mendapat apresiasi di Jakarta adalah sesuatu yang dulu mungkin hanya sebatas mimpi.
“Saya sangat bahagia karya dari asrama bisa diterima begitu hangat di Jakarta,” ucapnya pelan dengan mata berkaca-kaca.

Kalimat itu terdengar sederhana, namun menyimpan cerita panjang tentang perjuangan seorang istri prajurit yang tetap berkarya di tengah kehidupan asrama. Dari tangan yang terbiasa memegang canting, lahir karya yang kini mampu mencuri perhatian di panggung nasional.
Persit Bisa Vol II 2026 akhirnya bukan hanya menjadi ajang pameran semata. Bagi Sri Astuti, ini adalah bukti bahwa ketekunan, kreativitas, dan kecintaan terhadap budaya mampu membawa mimpi sederhana menuju keberhasilan yang membanggakan.
(Kontributor : Arif)








