Candi Budha Era Majapahit. Foto Istimewa
Klikwarta.com, Malang - Dalam kitab Negarakertagama, tercantum nama "Kasuranggan", dan nama ini diyakini sebagian orang, adalah nama lain dari Candi Sumberawan. Kasuranggan diterjemahkan, taman yang dipenuhi bidadari, atau "Garden of Angels".
Dilihat bentuknya yang berwujud stupa, dapat dipastikan Candi Sumberawan berlatarbelakang Budha. Uniknya, Candi Sumberawan tidak memiliki tangga naik turun.
Candi Sumberawan terletak di Dusun Sumberawan, Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, atau tepatnya berada di titik koordinat 7°51'20.5" lintang selatan 112°38'40.2" bujur timur, dengan ketinggian 662 mdpl (meter diatas permukaan laut).
Sebagaimana tertulis dalam kitab Negarakertagama, tahun 1281 Saka atau 1359 Masehi, Raja Hayam Wuruk melakukan perjalanan di teritorial Majapahit atau "Wilwatika", dan mengunjungi di Candi Sumberawan.
Hayam Wuruk atau Maharaja Sri Rajasanagara, menerintah Kerajaan Majapahit tahun 1350 hingga 1389, dan berstatus raja keempat setelah Raden Wijaya atau Kertarajasa Jayawardhana, Kalagamet atau Sri Jayanagara, serta Sri Gitarja Tribhuwana Wijayatunggadewi.
Disekitar Candi Sumberawan, terdapat telaga, dan menurut "literasi lokal", dari telaga inilah cikal bakal penamaan pemukiman penduduk disekitarnya.
Penduduk "perdana" sekitar candi, menyebutnya "rowoan", karena adanya sumber air yang membentuk rawa. Dari kata "sumber" dan "rawa", dinamailah pemukiman disekitar candi tersebut, Sumberawan.

Menurut kacamata supranatural, sumber di bawah Candi Sumberawan mengalirkan air suci, akibat begitu kuatnya para pertapa tempo dulu, yang melakukan ritual, hingga membuat sumber air ini menjadi air "amerta" atau air keabadian.
Candi Sumberawan ditemukan pada tahun 1845, dan usai penemuan tersebut, pengungkapan historis dilakukan oleh arkeolog Belanda di tahun 1904 dan 1928.
Tahun 1933, "Oudheidkundige Dienst" atau Dinas Purbakala Hindia Belanda, melakukan kunjungan, sekaligus penelitian. Hasil kunjungan dan penelitian itu, di tahun 1937, Dinas Purbakala Hindia Belanda melakukan pemugaran pada bagian kaki candi, sedangkan sisanya direkonstruksi secara darurat.
Dinas Purbakala Hindia Belanda, dibentuk pada 14 Juni 1913 melalui "Gouvernementsbesluit" atau Keputusan Pemerintah dan "Staatsblad van Nederlandsch Indie" atau Lembaran Negara Hindia Belanda nomor 62 tahun 1913.
Berdasarkan bentuk yang tertulis pada bagian "batur" dan "dagoda", diperkirakan Candi Sumberawan dibangun sekitar abad 14. Candi tersebut terbuat dari batu andesit, yang berukuran panjang 6,25 meter, lebar 6,25 meter, dan tinggi 5,23 meter.
Candi Sumberawan terdiri dari kaki, dan badan berwujud stupa. Pada batur candi yang tinggi terdapat "selasar", dan kaki candi memiliki "penampil" di keempat sisinya.
Di atas kaki candi, berdiri stupa yang terdiri atas "lapik" bujur sangkar, dan lapik berbentuk segi delapan dengan bantalan padma. Sedangkan bagian atas berbentuk genta, yang puncaknya telah hilang.
Diduga, karena ada kesulitan dalam pemugaran bagian teratas dari tubuh candi, maka terpaksa bagian tersebut tidak dipasang kembali. Kemungkinan, puncaknya dulu tidak dipasang atau dihias dengan payung atau "chattra", karena sisa-sisanya tidak ditemukan sama sekali.
Chattra adalah anatomi stupa yang posisinya berada paling atas, yang berbentuk payung bersusun tiga di atas "yasti".
Sebuah stupa terdiri atas sebuah kubah, diletakan di atas sebuah alas yang ditinggikan dalam satu atau dua tingkat, dan di atas kubah tersebut, terdapat sebuah "harmika" yang terdiri atas dasar, dan sebuah as roda atau batang yang menopang payung-payung (roda-roda berbentuk bulat).
Bila dilihat bentuknya hanya berupa stupa, tidak seperti lazimnya stupa yang sesungguhnya, diperkirakan candi Sumberawan memang dibangun untuk pemujaan.
(Pewarta: dodik)








