Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, menyapa 30 murid baru pada Kamis (16/7)
Klikwarta.com, Wakatobi - Di Kampung Mola, Kabupaten Wakatobi, bukan hanya rumah-rumah masyarakat Suku Bajo yang berdiri di atas laut. SMP Maritim Mola, salah satu tempat anak-anak menempuh pendidikan menengah, juga berada di kawasan perairan yang sama. Di sekolah inilah para murid baru memulai perjalanan mereka melalui Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah.
Mereka disambut bukan hanya oleh guru dan teman-teman baru, tetapi juga oleh lingkungan belajar yang kini jauh lebih baik berkat berbagai program pemerintah. Mulai dari ruang kelas hasil revitalisasi, papan interaktif digital (_Interactive Flat Panel/IFP), Program Makan Bergizi Gratis (MBG), perpustakaan baru, hingga dua unit toilet baru, seluruhnya menjadi bagian dari pengalaman pertama mereka di sekolah.
Suasana hangat langsung terasa ketika Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, menyapa 30 murid baru pada Kamis (ketika
Alih-alih menyampaikan ceramah panjang, ia memilih berdialog santai. Pertanyaan sederhana tentang asal daerah, teman baru, hingga menu makan siang membuat para murid antusias menjawab dan perlahan mencairkan suasana.
Perhatian itu juga diberikan kepada Bayu, murid berkebutuhan khusus yang juga sedang mengikuti MPLS. Wamen Fajar mengajak guru dan seluruh murid untuk mendampingi murid berkebutuhan khusus agar ia merasa diterima dan memiliki ruang yang sama untuk belajar.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan MPLS Ramah di SMP Maritim Mola. Bagi sekolah, masa pengenalan lingkungan bukan hanya memperkenalkan tata tertib, tetapi juga menanamkan budaya saling menghargai sejak hari pertama.
“Kami sangat menekankan _anti bullying_ saat MPLS. Hal ini juga agar mereka merasa tidak terintimidasi dan merasa diterima di sekolah,” ujar Satria, salah seorang guru di SMP Maritim Mola
Suasana ramah itu kini didukung lingkungan belajar yang semakin nyaman. Sebelum direvitalisasi, kondisi sekolah mengalami banyak kerusakan. Atap bocor, lantai rapuh, hingga struktur bangunan yang mulai lapuk membuat proses belajar mengajar berlangsung dalam kondisi yang kurang aman. Melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan, SMP Maritim Mola memperoleh anggaran sekitar Rp2,96 miliar untuk membangun empat ruang kelas baru, perpustakaan, ruang administrasi, ruang UKS, dua unit toilet, serta merehabilitasi laboratorium IPA.
"Sebelum rehabilitasi, ruang kelas kami memang luar biasa rusak. Saat ini kami lebih nyaman melaksanakan pembelajaran dan murid juga merasa lebih aman. Dulu kalau hujan proses belajar sering terganggu, tetapi sekarang sekolah jauh lebih nyaman," ujar Satria.
Tidak hanya lingkungan belajar yang berubah, para murid juga merasakan perhatian pemerintah melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam dialog bersama Wamen Fajar, beberapa murid mengaku baru pertama kali mencicipi buah melon dan semangka dari menu yang disajikan di sekolah. Bagi Fajar, pengalaman sederhana tersebut menunjukkan bahwa MBG tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga memperkaya pengalaman mereka dalam mengonsumsi makanan bergizi.
Pengalaman belajar murid juga semakin menarik dengan hadirnya IFP. Salah seorang murid mengaku pembelajaran kini menjadi lebih mudah dipahami.
"Kalau pakai IFP, pelajaran bisa lebih jelas, nyaman, dan lebih nampak. Kalau dulu belajar biasanya harus maju ke depan untuk melihat gambar," ungkapnya.
Menurut Wamen Fajar, teknologi pembelajaran tersebut menjadi bukti bahwa kualitas pendidikan tidak lagi ditentukan oleh letak geografis sekolah.
"Adik-adik yang tinggal di Wakatobi bisa jadi orang-orang hebat di Indonesia. Jangan kalah sama orang Jakarta," ujarnya. Ia menegaskan bahwa materi pembelajaran yang dipelajari murid melalui IFP di Wakatobi sama dengan yang dipelajari anak-anak di Jakarta, Bandung, maupun Surabaya.
SMP Maritim Mola berdiri di tengah permukiman masyarakat Suku Bajo. Banyak murid yang sepulang sekolah membantu orang tua melaut atau memancing. Karena itu, menghadirkan sekolah yang aman, nyaman, dan menyenangkan menjadi bagian penting dalam memastikan anak-anak di wilayah kepulauan memiliki kesempatan belajar yang sama.
Usai dari SMP Maritim Mola, Wamendikdasmen melanjutkan peninjauan ke SMA Muhammadiyah 1 Wakatobi yang juga terletak di atas perairan dan telah menerima revitalisasi pada 2025. Kunjungan tersebut memperlihatkan bahwa MPLS Ramah tidak hanya menghadirkan suasana yang hangat pada hari pertama sekolah, tetapi juga didukung oleh lingkungan belajar yang terus diperkuat melalui berbagai program pemerintah.
Dari sekolah yang berdiri di atas laut, pemerataan pendidikan terus dihadirkan agar setiap anak Indonesia memperoleh kesempatan belajar yang aman, nyaman, dan bermutu, di mana pun mereka tinggal. (**)








