Asa Tunggal Petungsinarang

Sabtu, 08/11/2025 - 05:18
Menderap semangat kegotong-royongan, aku meninjau sasaran fisik TMMD (pembuatan talud) sekaligus memberi arahan satgas dan masyarakat untuk memperhatikan kualitas pembangunan.

Menderap semangat kegotong-royongan, aku meninjau sasaran fisik TMMD (pembuatan talud) sekaligus memberi arahan satgas dan masyarakat untuk memperhatikan kualitas pembangunan.
Oleh: Letkol Arh Imam Musahirul, S.H., M.I.P. (Dansatgas TMMD ke-126, Kodim 0801/Pacitan)

Di sudut desa kecil di tepian bukit lanskap pegunungan, pagi selalu dimulai dengan suara sapaan yang akrab. Anak-anak berlari menuju sekolah, para ibu menyiapkan hasil kebun untuk dibawa ke pasar, sementara para lelaki berkumpul di Balai Desa Petungsinarang, membicarakan rencana gotong royong dalam Program TMMD (TNI Manunggal Membangun Desa) Reguler ke-126, Kodim 0801/Pacitan.

Bagi mereka, kebersamaan bukan hanya tradisi, ia adalah napas kehidupan. Bak hidup dengan prinsip asa tunggal petungsinarang. “Artinya, satu harapan dalam kebersamaan. Seberat apa pun persoalan, akan lebih ringan kalau dihadapi bersama.”

Ungkapan itu mungkin terdengar sederhana, namun di baliknya tersimpan filosofi mendalam. Asa berarti harapan, sedangkan petungsinarang berarti kebersamaan atau saling menolong. Dua kata yang menjadi panduan hidup, di tengah dunia yang kian sibuk mengejar diri sendiri. Uniknya, semangat kegotong-royongan itu terbungkus pada program TMMD yang digelar di Desa Petungsinarang, Kecamatan Bandar, Kabupaten Pacitan kurun waktu satu bulan.

Kekuatan di Tengah Perubahan

Di era modern yang serba cepat, nilai seperti itu perlahan tergerus. Di kota-kota besar, orang lebih sering menunduk menatap layar ponsel daripada menatap sesama. Namun, hal itu tidak terjadi di Desa Petungsinarang. Menghidupkan kearifan lokal penuh semangat seperti ini di tengah krisis sosial sekarang, bukan sekadar gotong royong fisik, tapi kepedulian emosional, menjadi harapan yang menyala.

Di Desa Petungsinarang, semangat itu nyata. Ketika ratusan prajurit TNI bersatu padu (manunggal) bersama masyarakat desa, mengerjakan sasaran fisik dan non fisik TMMD. Seluruh warga turun tangan mencari solusi bersama. Mengingat kondisi desa yang terpencil dan terisolir, masuk wilayah Kecamatan Bandar tetapi lebih dekat menuju Kecamatan Tegalombo sehingga Kegiatan pendidikan, pelayanan kesehatan dan aktifitas perekonomian warga masyarakat sebagian besar dilaksanakan di Kecamatan Tegalombo. Sebelumnya memang sudah ada akses jalan menuju Kecamatan Tegalombo tetapi relatif jauh, terjal dan curam (16,7 Km jarak tempuh 33 menit). Bahkan, Desa Petungsinarang merupakan wilayah yang sering terjadi bencana longsor.

  • Tni
    *Satgas TMMD berjibaku menarik mobil angkut material yang terperosok disisi jalan*

Atas pertimbangan itu, sasaran fisik TMMD dikerjakan mulai dari membuka jalan baru sepanjang 2 Km dengan lebar 4 meter, disertai pengerasan rabat beton jalan sepanjang 2.105 meter dengan lebar 2,5 meter. Kemudian pada sisi bukit yang curam dilakukan pembangunan Talud di 3 titik, rincinya Talud 1 ukuran panjang 12 meter dan tinggi 5 meter,  Talud 2 ukuran panjang 25 meter dan tinggi 5 meter, serta Talud 3 ukuran panjang 12 meter dan tinggi 3 meter.

Tidak hanya itu, untuk memaksimalkan akses jalan, pembuatan jembatan juga dibangun di 2 titik, yakni Jembatan 1 ukuran panjang 2 meter, lebar 5 meter dan tinggi 1,5 meter, Jembatan 2 ukuran panjang 5 meter, lebar 5 meter dan tinggi 6 meter.

Disamping itu juga, mengantisipasi genangan air hujan ke badan jalan, dibangun Gorong-gorong di 18 titik. Kemudian untuk pintu gerbang, satu Gapura juga dibangun dengan ukuran panjang 5 meter, lebar 1,5 meter dan tinggi 4 meter.

Sebagai sasaran tambahan 1 Km jalan desa pun diaspal. Selanjutnya untuk memberikan setuhan kesejahteraan masyarakat desa juga dilakukan rehab RTLH (Rumah Tidak Layak Huni) sebanyak 9 unit, rehap Mushola, serta Pemasangan PJU untuk penerangan.

Pengerjaan sasaran fisik ini melibatkan seluruh elemen masyarakat desa, manunggal bersama prajurit TNI. Teriring harapan mempermudah kegiatan pelayanan kesehatan dan Pendidikan desa, dapat meningkatkan perekonomian masyarakat, mempersingkat jarak dan waktu  tempuh (semula 16,7 km, 33 menit) menjadi (4,5 km, 13 menit), sebagai akses jalan penanggulangan apabila terjadi bencana longsor, serta dapat meningkatkan kemanunggalan TNI – Rakyat.

Gotong-royong dalam kemanunggalan itu selaras dengan tujuan mewujudkan Pemerataan Pembangunan dan Ketahanan Nasional.

Kebersamaan Sebagai Akar Hidup

Di tengah modernisasi yang tak bisa dihindari, mungkin inilah saatnya kita kembali belajar dari akar budaya sendiri. Asa tunggal petungsinarang merupakan pelita moral. Ia mengingatkan bahwa harapan sejati hanya bisa tumbuh ketika kita mau berbagi langkah.

  • Tni
    *Menampung aspirasi warga, aku tergerak untuk mewujudkan kemudahan akses jalan demi geliatkan ekonomi*

Di penghujung sore, ketika matahari perlahan tenggelam di balik pegunungan Pethel, suara tawa warga terdengar dari halaman mushola. Di sana, kebersamaan bukan sekadar wacana, ia hidup, hangat, dan nyata. Dan dari tempat sederhana seperti itu, dunia mungkin bisa belajar satu hal: harapan tak akan pernah padam, selama kita masih mau berjalan bersama.

Satgas TMMD pun tampak membaur dengan masyarakat desa di kediaman orang tua asuh. ‘Ngopi bareng’ dengan suguhan gorengan khas Desa Petungsinarang. Lestari (40), selaku orang tua asuh menyajikan hidangan dengan penuh keramahtamahan. Membuka cerita, sembari mempromosikan wisata terbaik di desanya, yakni Panorama Curug Watu Senthe, yang merupakan air terjun di aliran pertemuan sungai yang berasal dari Desa Mujing Kecamatan Nawangan, Desa Ngunut dan Sungai Weru Theklok di Desa Petungsinarang Kecamatan Bandar.

“Untuk menuju ke Curug Watu Senthe ini hanya bisa dengan mengendarai sepeda motor, melewati jalan setapak. Namun dijamin tidak rugi jika mengunjunginya, sebab, hitsnya kawasan ini karena latar belakang tebing yang indah. Panorama itu adalah bebatuan di tebing-tebing curug yang tertata rapi, mirip seperti tumpukan belahan kayu bakar yang menjulang ke atas. Di berbagai titik di kawasan ini, bebatuan tersebut jika dilihat sekilas adalah kayu bakar yang ditata rapi. Nah, bagaimana dulur, tertarik melhat fenomena batu pilar di Curug Watu Senthe?”, candanya saat bercengkrama dengan satgas TMMD.

Menyalakan Harapan  

Di antara kaki-kaki bukit yang sejuk dan rimbun, panorama alam Curug Watu Senthe  kian tampak indah. Kabut tipis di pagi hari belum sepenuhnya terangkat ketika dentuman mesin ekskavator mulai memecah keheningan perbukitan desa. Suara mesin itu bukan sekadar pertanda aktivitas berat, melainkan harapan baru yang mulai digali.

Tampak ratusan prajurit meratakan bukit dan bebatuan (pecah mengudara memanggil kemudahan). Satgas dan masyarakat manunggal memulai pekerjaannya. Berjibaku dalam sasaran fisik, membersihkan ‘karat’ dari ketertinggalan, menembus keterisolasian desa. Mulai dari membelah bukit, memecah bebatuan untuk membentuk badan jalan.

Bak gelombang demi kebebasan, kesulitan kian mereda, jalan itu dilengkapi dengan pembuatan jembatan dan pembuatan talud, guna memudahkan pengangkutan hasil pertanian masyarakat desa.

  • Tni
    *Kondisi awal, jalan desa sebelum tersentuh pembangunan lewat program TMMD ke-126*

Kesulitan itu bak berlari di padang rumput, ratusan prajurit terus memacu semangatnya memperjuangkan harapan rakyat, berdiri gagah berani bersatu padu dalam kemanunggalan, membuka jalur badan jalan dengan merobohkan pohon-pohon dan menyibak semak belukar menggunakan escavator dan bulldozer.

Bersama masyarakat desa, bukit terjal ditembus hingga membentuk jalur yang presisi sesuai aspirasi masyarakat agar mudah dilewati saat mengangkut hasil pertanian.

Tampak bebatuan besar ikut dipecahkan dan singkirkan ke area badan jalan yang berlumpur untuk memperkuat medan jalan. Semak belukarpun disingkap, membentuk jalur parit badan jalan, agar kala musim penghujan tiba, air tidak menggenang di tengah badan jalan.

Di dataran rendah jalur badan jalan pun dirapikan, membentuk titik pembuatan gorong-gorong. Tak ayal, luka gores duri sering menghujam tubuh prajurit, bahkan sesekali prajurit terperosot, karena sepatu boothnya tidak menapak dengan baik kala pembentukan jalan di area bukit. Namun, hal itu tak menyurutkan semangatnya, pedihnya duri, teriknya matahari tak dirasanya demi mewujudkan asa masyarakat Desa Petungsinarang.

Hari demi hari berganti, pembentukan jalan itu menunjukan progres dengan baik. Tiba waktunya melakukan pengecoran rabat jalan dan gorong-gorong, dibantu masyarakat dan tukang, rakitan besi disusun dengan baik diatas papan cor. Cor beton diaduk dalam mesin molen, satgas bergantian mengangkutnya menggunakan gerobak sorong untuk pengecoran.

Dengan memastikan kepadatan titik cor, mereka menghamparkan material cor secara rata. Ketebalannya pun menjadi perhatian, sehingga hasilnya akan awet dan tahan lama.

Tak hanya itu, sebagai penguat badan jalan di titik rendah dan kontur tanah timbunan, pembangunan talud juga dilakukan, agar nantinya, badan jalan kokoh, tidak amblas saat dilewati kendaraan pengangkut hasil pertanian dengan tonase besar.

“Pastikan kualitasnya bagus, ketebalannya pas sesuai perencanaan dan adukan cor menyatu dengan baik, sehingga hasilnya maksimal”, ucapku mengarahkan prajurit untuk memastikan kualitas pembangunan merata.

  • Tni
    *Satgas TMMD dan Masyarakat bergotong royong melakukan pengecoran rabat jalan*

Sambil memperhatikan pengerjaan pengecoran itu, aku menjelaskan kepada masyarakat dan satgas, bahwa pembangunan ini harus dilakukan dengan serius dan tepat waktu, agar berbagai kesulitan masyarakat desa teratasi. Keluhan yang selama ini dirasakan masyarakat, terjawab dan teratasi langsung dari giat TMMD ini.

Selain itu, perekonomian masyarakat akan meningkat, karena akses jalan baru dapat memangkas waktu jarak tempuh ke kecamatan dan juga memudahkan menjual hasil pertanian ke luar.

Menderap semangat kegotong-royongan, satgas dan masyarakat juga dibagi menjadi beberapa regu untuk mengerjakan sasaran fisik tambahan, yakni, Bedah RTLH 9 unit,  rincinya, Rumah bapak Jemu dan Rumah bapak Jangkung di Dusun Ngagrik, Rumah bapak Zaenal Abidin di Dusun Ngasem, Rumah ibu Jumirah, Rumah bapak Pesan dan Rumah ibu Kiyem di Dusun Kaliwungu, Rumah ibu Sumirah, Rumah ibu Surati dan Rumah bapak Paeno di Dusun Panjing.

Rumah itu tampak reot, tiang lapuk, dinding papan kusam, atap genting bocor. Sehingga direhab menjadi rumah permanen. Tiang dicor beton, dinding permanen dan lantai keramik.

  • Tni
    *Satgas TMMD godem coran beton yang tidak lagi layak untuk direhab*

Kemudian Rehab Muhola Nurul Huda, dibagian area kamar mandi dan atap serta dinding dicat. Kemudian Pemasangan PJU untuk penerangan titik jalan yang rawan. Untuk pengaspalan jalan 1 Km juga dilakukan dengan baik.

Guna menjaga stamina tetap stabil, satgas dan masyarakat juga dicek kesehatannya secara berkala.

Sasaran fisik tambahan ini bentuk kepedulian TNI terhadap masyarakat kurang mampu. Berkolaborasi dengan pemerintah daerah untuk membantu masyarakat yang kurang mampu, khususnya hunian layak.

Di sisi lain, Satgas TMMD juga melaksanakan Program Unggulan Kasad, yakni Manunggal Air (5 titik), Bersatu dengan alam (Penanaman Pohon Trembesi, Mahoni dan Sengon), Penanaman Porang dan Empon-Empon, pembuatan MCK 2 Titik, Penurunan Angka Stunting, serta Pembersihan Lingkungan.

Untuk manunggal air dibangun sumur bor di Dusun Krajan dan Desa Petungsinarang. Salah seorang warga Desa Petungsinarang Suyitno, dengan senyum bahagia menyampaikan, "Kami sangat berterima kasih atas kerja keras tim Satgas TMMD Ke 126 Desa Petungsinarang. Dengan sumur bor yang ini nantinya kami sebentar lagi akan mendapatkan akses air bersih yang sangat kami butuhkan. Semoga sumur ini bermanfaat bagi seluruh masyarakat Desa Petungsinarang," tuturnya.

Sementara itu dalam program penanaman pohon melibatkan berbagai unsur, sebanyak 200 bibit pohon di tanam. Manfaat yang bisa diambil yakni sebagai upaya untuk memperbaiki kualitas udara. Selain itu, sebagai langkah untuk mengembalikan fungsi hutan sebagai pengendali banjir, longsor dan erosi. Adapula keanekaragaman hayati yang akan tercipta dengan menanam pohon selain berfungsi memeningkatkan daya tampung daerah aliran sungai.

Kemudian pada sasaran non fisik, satgas TMMD melaksanakan giat Pengobatan Gratis, masyarakat sangat antusias dan bersyukur atas adanya layanan kesehatan tanpa biaya. Banyak warga yang jarang memeriksakan kesehatannya karena keterbatasan ekonomi, akhirnya bisa mendapatkan pemeriksaan dan obat secara cuma-cuma.

Melalui kegiatan ini, menyadarkan masyarakat pentingnya kesehatan, bahwa sehat bukan hanya milik mereka yang mampu, tetapi hak setiap orang.

  • Tni
    *Satgas TMMD membantu tim medis mengangkat salah satu pasien yang mendapat pengobatan gratis*

Kemudian Pelayanan KB (Keluarga Berencana), yakni dalam upaya untuk membantu pasangan suami istri mengatur jumlah dan jarak kelahiran anak sesuai dengan keinginan dan kemampuan mereka, demi kesejahteraan keluarga dan masyarakat. Jenis Pelayanan yang dilakukan seperti Metode Kontrasepsi Jangka Pendek (Non MKJP), Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) serta Pelayanan Non-Medis dengan Penyuluhan dan konseling KB, Edukasi kesehatan reproduksi, Distribusi alat kontrasepsi.

Satgas TMMD juga mengadakan giat Wawasan Kebangsaan, mengedukasi masyarakat terkait cara pandang dan pemahaman bangsa Indonesia tentang diri dan lingkungannya yang berlandaskan pada Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Wawasan ini menekankan persatuan, kesatuan, dan kepentingan nasional di atas kepentingan pribadi atau golongan.

  • Tni
    *Masyarakat desa antusias mengikuti sosialisasi dalam program sasaran non fisik*

Kemudian juga dilakukan bazar Pasar Murah, Bantuan Sosial, Fogging, Penyuluhan peningkatan kapasitas Linmas, Pelayanan Administrasi Kependudukan, Sosialisasi penguatan tugas Destana, Pelayanan Perpustakaan Keliling, Pelayanan Sim, STNK, Sos Narkoba, Sosialisasi Pupuk Faba (PLTU), Yan Kes Hewan, serta Sosialisasi Koperasi Merah Putih dengan Mengenalkan visi dan misi Koperasi Merah Putih kepada masyarakat, Meningkatkan pemahaman tentang manfaat koperasi, Mengajak masyarakat bergabung sebagai anggota koperasi, Mendorong partisipasi aktif dalam kegiatan ekonomi berbasis kebersamaan.

Refleksi dari Sebuah Desa 

Sore itu, angin perbukitan berhembus lembut, membawa aroma tanah dan kayu basah. Warga mulai berkumpul di halaman mushola untuk rapat mingguan. Tidak ada agenda besar, hanya membicarakan perbaikan jalan dan tiap sasaran fisik dan non fisik TMMD. Namun dari pertemuan sederhana itulah, makna asa tunggal petungsinarang terus dipelihara.

Kepala Desa Petungsinarang Suryadi mengatakan bahwa kehadiran TMMD Reguler ke-126 telah membawa perubahan besar bagi desanya, terutama dalam peningkatan kualitas infrastruktur dan semangat gotong royong warga.

“TMMD ini bukan hanya membangun jalan, tapi juga membangun semangat kebersamaan antara TNI dan masyarakat. Dulu akses pertanian dan perkebunan warga sangat sulit untuk akses jalannya, sekarang dengan jalan yang dicor sepanjang lebih dari 2 kilometer ini, mobilitas hasil pertanian dan perkebunan jauh lebih mudah. Dampaknya langsung terasa bagi perekonomian warga”, jelas Kades Suryadi.

Melalui kegiatan ini, diharapkan kemanunggalan antara TNI dan rakyat semakin kuat serta menjadi contoh nyata sinergi positif dalam membangun daerah pedesaan menuju kesejahteraan.

  • Tni
    *Pengecoran rabat jalan dengan semangat kegotong-royongan*

Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji, S.S., melalui Asisten pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Pacitan Kemal Pandu Pratikna, S.T.T.P  mengungkapkan, pemerataan pembangunan harus dirasakan masyarakat langsung. Maka, dengan kolaborasi, saya harapkan warga mendukung kegiatan ini sehingga sasaran yang ingin dicapai dapat terealisasikan dengan baik.

"Mari kita bersama-sama tingkatkan kesejahteraan serta kualitas hidup masyarakat untuk menuju Pacitan yang semakin sejahtera dan bahagia", tandasnya.

Sementara itu, Danrem 081/DSJ, Kolonel Arm Untoro Hariyanto mengungkapkan Program TMMD ke-126 ini memperkokoh kemanunggalan TNI dan Rakyat, dalam mewujudkan pemerataan pembangunan dan ketahanan nasional.

“Melalui berbagai sasaran pembangunan, diharapkan memperkuat semangat gotong royong, manunggal mewujudkan harapan masyarakat Desa Petungsinarang”, ungkapnya.

  • Tni
    *Memaksimalkan pengecoran rabat jalan, jajaran perwira TNI turut serta membantu*

Senada dikatakan, Ketua Tim Wasev Brigjen TNI (Mar) Bambang Hadi Suseno, S.E., M.M., bahwa pembangunan sasaran fisik TMMD dapat dirasakan manfaatnya langsung oleh masayarakat. Sehingga, membangkitkan perekonomian di desa.

“Infrastruktur jalan yang dibangun sangat luas, memudahkan masyarakat mengangkut hasil pertanian maupun perkembunan. Tentu ini akan semakin meningkatkan perekonomian masyarakat Desa Petungsinarang. Maka dari itu, saya mengajak untuk bersama-sama memelihara dan merawat hasil daripada program TMMD tersebut. Sehingga dapat memiliki masa pakai lebih lama untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat ke arah yang lebih baik, maju, sejahtera dan mandiri," jelasnya sembari mengapresiasi satgas dan masyarakat dalam memperkokoh kemanunggalan di lokasi TMMD.

  • Tni
    *Memastikan hasil pembangunan sesuai perencanaan, aku meninjau lokasi pembangunan talud*

Terpisah, Pangdam V/Brawijaya, Mayjen TNI Rudy Saladin, M.A., juga mengapresiasi atas terlaksananya TMMD di Desa Petungsinarang. “Kemanunggalan TNI-Rakyat yang terjalin membawa perubahan di desa, memutus berbagai kesulitan dan mewujudkan kemajuan dan kemandirian desa”, singkatnya.

Menjaga Nyala yang Sama

Kini, ketika dunia terus berubah, ketika berita tentang perpecahan dan konflik mudah ditemukan di layar ponsel- mungkin sudah waktunya kita kembali belajar dari desa-desa kecil seperti Petungsinarang.

Nilai asa tunggal tidak sekadar warisan budaya, tapi cermin dari kemanusiaan yang sejati. Bahwa harapan hanya bisa bertahan jika kita menjaga nyala itu bersama.

Kemanunggalan yang tercipta itu, dirasakan manfaatnya secara nyata oleh masyarakat Desa Petungsinarang, seperti halnya Mbah Jemu dan istrinya (penerima rehab RTLH). Lansia yang tinggal berdua dengan istrinya karena di tinggal anaknya merantau, mengenang rumahnya dulu reot berdinding kayu dan bambu, kini sudah menjadi bagus, berdinding tembok dan berlantai keramik.

Mereka mengungkapkan rasa bersyukur dan senang dengan adanya program TMMD di Desanya, sehingga rumahnya juga terkena program pembangunan rumah tidak layak huni (RTLH).

"Saya sangat senang rumah kami sudah di perbaiki sehingga rumah kami jadi bagus dan nyaman, sekali lagi kami ucapkan terima kasih sebesar besarnya pada bapak TNI yang membantu memperbaiki rumah kami, semoga bapak-bapak TNI sehat semua dan dalam lindungan Allah", ujar mbah Jemu penuh ucap syukur, air mata hangat memenuhi kelopak matanya.

  • Tni
    *Senyum bahagia Pasutri penerima rehab RTLH, Mbah Jemu dan Istrinya*

Keberadaan prajurit TNI di tengah-tengah masyarakat memberikan bukti nyata bahwa di saat-saat yang sulit, kita tidak pernah sendiri. Ada tangan-tangan yang siap mengulurkan bantuan, dan hati yang tak lelah memberikan harapan.

Di luar sana, kehidupan terus bergerak cepat. Banyak orang berganti arah ketika jalan terasa berat. Namun, masyarakat Desa Petungsinarang tetap memilih bertahan di lintasan yang sama. “Menjaga nyala yang sama”, “bukan berarti tidak berubah. Justru artinya, berubah tanpa memadamkan cahaya yang dulu membuatnya dimulai”. (*)

Berita Terkait