Haedar Nashir Tegaskan Peran Kebangsaan Muhammadiyah Melampaui Rezim

Rabu, 01/04/2026 - 22:08
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir

Klikwarta.com, Jakarta – Peran kebangsaan Muhammadiyah tidak tergantung pada rezim. Sebab Muhammadiyah akan tetap mengawal bangsa ini agar tetap di jalur yang benar, maju, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

Penegasan itu disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir pada (31/3) dalam Silaturahmi Syawalan 1447 H di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).

Peran kebangsaan itu meniscayakan dengan kecerdasan dan kearifan Muhammadiyah untuk mendorong dirinya hadir berdialog dengan berbagai komponen bangsa, termasuk dengan elit bangsa di yudikatif, eksekutif, legislatif, dan lainnya.

“Rezim boleh berganti, tetapi Muhammadiyah sebagai ormas yang sejak awal kemerdekaan ikut berjuang dan setelah Indonesia merdeka, kita harus tetap mengawal bangsa ini berada di arah yang benar,” katanya.

Kehadiran Muhammadiyah di ruang-ruang dialog itu, imbuhnya, untuk mengarahkan bangsa sesuai pada jalur yang telah ditentukan. Jangan sampai kekuasaan hanya untuk kekuasaan, tapi membuat melenceng arah bangsa ini.

Pada kesempatan ini Guru Besar Ilmu Sosiologi ini menyampaikan, ruang dialog yang dibangun secara melintas ini untuk menjaga persatuan dan kesatuan di tengah keragaman Indonesia sebagai bangsa majemuk.

“Tetapi kita juga harus seksama dalam dinamika politik yang boleh jadi berat, dalam momen-momen tertentu yang memperoleh pemicu – siapa tahu bahwa di antara komponen bangsa ada yang mulai mengabaikan aspek keutuhan dan persatuan bangsa ini,” katanya.

Kepada semua pihak yang bersitegang, Haedar berpesan supaya mengedepankan wisdom dalam berbangsa dan bernegara, serta menjaga semangat kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.

“Atau dalam nilai luhur agama itu yang mementingkan kemaslahatan, mencegah kedaruratan, menebar rahmat, dan keberkahan dalam kehidupan bangsa kita,” ungkapnya.

Muhammadiyah sebagai ormas tertua yang masih eksis, bahkan lebih tua dari republik ini selalu menjadi pengayom. Namun di sisi lain juga memberikan kritik dan perbaikan yang dibutuhkan bagi setiap kepemimpinan.

Posisi tersebut, kata Haedar, sesuai dengan poin kesepuluh Kepribadian Muhammadiyah yaitu, bersifat korektif ke dalam dan keluar yang dilakukan dengan cara bijaksana.

(Kontributor: Arif)

Berita Terkait