Launching Konsorsium Perguruan Tinggi di Yogyakarta, Rabu (9/9)
Klikwarta.com, Sleman - Persoalan pembangunan daerah semakin kompleks dan membutuhkan keterlibatan berbagai bidang keilmuan. Perguruan tinggi memiliki pengetahuan, sumber daya manusia, serta kapasitas riset yang dapat berkontribusi dalam menjawab persoalan tersebut. Namun, kekuatan itu perlu dihimpun dan diarahkan secara bersama agar mampu menghasilkan solusi yang lebih terukur dan berkelanjutan.
Tantangan tersebut menjadi penting untuk dijawab bersama, salah satunya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat persentase penduduk miskin DIY pada September 2025 sebesar 10,08%, sementara tingkat pengangguran terbuka pada November 2025 tercatat sebesar 3,30%.
Di tengah persoalan tersebut, DIY juga memiliki ekosistem pendidikan tinggi yang kuat dengan perguruan tinggi dan sumber daya akademik yang tersebar di berbagai wilayah. Kondisi ini membuka ruang bagi perguruan tinggi untuk menyatukan kepakaran dan sumber daya yang dimiliki dengan kebutuhan pembangunan daerah.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan, menegaskan bahwa perguruan tinggi perlu mengubah orientasi dari sekadar menghasilkan capaian akademik menjadi lembaga yang mampu memberikan solusi atas persoalan masyarakat. Hal tersebut disampaikannya dalam Sarasehan Sains dan Teknologi Yogyakarta (SSTY) 2026, yang diselenggarakan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah V dengan fokus kontribusi perguruan tinggi terhadap pembangunan daerah melalui riset, Rabu (9/9).
“Konsorsium bukan sekadar kumpulan institusi yang menandatangani nota kesepahaman. Konsorsium adalah pengakuan bahwa tidak ada satu perguruan tinggi, yang sanggup menjawab persoalan daerah itu secara sendirian. Misalnya stunting tidak bisa diselesaikan oleh fakultas kedokteran saja, ia butuh ahli gizi, ahli pertanian, ahli komunikasi, ahli ekonomi, dan ahli-ahli yang lain,” tegas Wamen Fauzan.
Menurut Wamendiktisaintek, konsorsium menjadi wadah untuk mempertemukan berbagai kepakaran dan sumber daya perguruan tinggi dengan pemerintah daerah, dunia usaha dan dunia industri, serta pemangku kepentingan lainnya.
Pendekatan tersebut juga telah dikembangkan di sejumlah wilayah, antara lain Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tengah, Kalimantan Barat, DKI Jakarta, Sumatera Barat, dan Jawa Barat. Melalui model ini, perguruan tinggi didorong memulai kerja dari persoalan yang dihadapi daerah, kemudian mengidentifikasi kepakaran dan sumber daya yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya secara bersama.
Di DIY, pendekatan tersebut telah diterjemahkan melalui pembentukan 22 konsorsium yang melibatkan 14 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Konsorsium tersebut telah berkoordinasi dengan lima pemerintah kabupaten/kota di DIY dan menyelaraskan kepakaran perguruan tinggi dengan klaster prioritas pembangunan daerah.
Beberapa fokus yang dikembangkan antara lain kemiskinan dan layanan dasar, kesehatan, ketahanan iklim, ketahanan pangan, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dan ekonomi kreatif, pariwisata dan budaya, lingkungan, persampahan, pendidikan, hingga ruang publik.
Kepala LLDikti Wilayah V, Setyabudi Indartono menyampaikan bahwa konsorsium tersebut diarahkan untuk mempertemukan kepakaran perguruan tinggi, dengan kebutuhan pembangunan yang telah diidentifikasi pemerintah daerah. Konsorsium juga melibatkan para doktor dan profesor serta telah memetakan klaster pembangunan di lima kabupaten/kota.
“Kegiatan ini adalah momentum strategis untuk menguatkan posisi Yogyakarta sebagai pusat inovasi dan tempat perguruan tinggi sebagai motor penggerak pembangunan bangsa. Sarasehan ini hadir sebagai wadah implementasi kolaborasi saintis dan inovator untuk mempercepat pembangunan bangsa melalui konsorsium PTN dan PTS se-DIY,” ujar Setyabudi.
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menekankan pentingnya memastikan ilmu pengetahuan memiliki jalan pulang kepada masyarakat. Menurutnya, kedekatan fisik antara kampus dan masyarakat tidak otomatis berarti kedekatan antara pengetahuan dan persoalan yang dihadapi warga.
“Ilmu pengetahuan yang bertanggung jawab pada akhirnya selalu membawa kita kepada satu pertanyaan sederhana: siapa yang hidupnya menjadi lebih baik karena pengetahuan itu hadir?” ujar Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Penguatan konsorsium perguruan tinggi tersebut menjadi bagian dari upaya Kemdiktisaintek menerjemahkan semangat Diktisaintek Berdampak, yakni memastikan pendidikan tinggi, riset, dan inovasi memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Agenda ini juga sejalan dengan arah pembangunan nasional dalam Asta Cita yang menempatkan peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pembangunan yang inklusif menuju Indonesia Emas 2045.
Melalui konsorsium, perguruan tinggi diharapkan dapat menggabungkan kekuatan keilmuan, sumber daya, dan jejaring yang dimiliki untuk menjawab persoalan daerah secara lebih terarah dan berkelanjutan.
Pengalaman DIY melalui 22 konsorsium tersebut sekaligus membuka ruang bagi penguatan ekosistem pendidikan tinggi yang menghubungkan pengetahuan, kebijakan, dan kebutuhan masyarakat.
(Kontributor : Arif)








