Dari Kelas Bocor ke Sekolah Nyaman: Revitalisasi Pendidikan di Gorontalo Libatkan Masyarakat dan Percepat Perubahan

Rabu, 29/04/2026 - 20:46
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, meresmikan revitalisasi 30 satuan pendidikan dari berbagai jenjang, mulai dari sekolah dasar hingga menengah

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, meresmikan revitalisasi 30 satuan pendidikan dari berbagai jenjang, mulai dari sekolah dasar hingga menengah

Klikwarta.com, Gorontalo - Upaya memperbaiki satuan pendidikan di daerah terus dipercepat pemerintah. Di Provinsi Gorontalo, program revitalisasi satuan pendidikan tidak hanya menghadirkan bangunan sekolah yang lebih nyaman dan ASRI, tetapi juga menggerakkan partisipasi masyarakat dan ekonomi lokal. Pada kesempatan tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, meresmikan revitalisasi 30 satuan pendidikan dari berbagai jenjang, mulai dari sekolah dasar hingga menengah.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, menegaskan bahwa revitalisasi sekolah merupakan langkah cepat pemerintah dalam menjawab persoalan klasik dunia pendidikan, yakni kondisi sarana prasarana yang belum memadai.

“Banyak sekolah yang kondisinya belum tersentuh perbaikan sejak lama. Cat yang memudar, atap bocor, toilet bau, hingga ruang belajar yang tidak layak. Ini yang sedang kami ubah secara bertahap dan masif,” ujarnya saat meresmikan revitalisasi satuan Pendidikan di Gorontalo yang turut dihadiri oleh Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail; Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie; serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), pada Selasa (28/4).

Program ini merupakan bagian prioritas nasional yang diusung Presiden Prabowo Subianto melalui agenda pembangunan sumber daya manusia. Pemerintah memandang bahwa kualitas pendidikan tidak bisa dilepaskan dari kondisi fisik sekolah yang aman dan nyaman.

Wamen Atip juga menyampaikan perbedaan program ini bukan hanya pada skalanya, melainkan pendekatan pelaksanaannya. Melalui skema swakelola, sekolah diberikan peran langsung dalam mengelola proses revitalisasi. Kepala sekolah menjadi penanggung jawab, sementara masyarakat sekitar dilibatkan dalam pengadaan material hingga pengerjaan. Pendekatan ini dinilai tidak hanya mempercepat pembangunan, tetapi juga menumbuhkan rasa memiliki. “Ketika sekolah dan masyarakat terlibat langsung, ada tanggung jawab bersama untuk menjaga hasilnya,” kata Wamen Atip.

Di Gorontalo, revitalisasi juga menyasar wilayah yang masuk kategori tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta daerah yang membutuhkan penanganan cepat. Sehingga pemerintah menargetkan ribuan satuan pendidikan dapat diperbaiki pada tahun 2026, dengan dukungan tambahan yang terus diupayakan.

Menariknya, dari program revitalisasi dan rehabilitasi satuan Pendidikan, Wamen Atip mengatakan jika pemerintah juga membuka ruang partisipasi publik dengan masyarakat didorong untuk melaporkan kondisi sekolah yang rusak atau belum tersentuh program, bahkan turut berkontribusi dalam pemenuhan fasilitas tambahan.

“Kalau ada kebutuhan yang belum terpenuhi, masyarakat bisa ikut membantu. Ini menjadi gerakan bersama untuk memperbaiki pendidikan,” ungkapnya.

Selain pembangunan fisik, perhatian juga diberikan pada aspek kebersihan dan kenyamanan lingkungan sekolah. Fasilitas sanitasi, seperti toilet, disebut sebagai indikator penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan beradab.

Wamen Atip juga mengingatkan bahwa revitalisasi tidak berhenti pada pembangunan, tetapi harus diikuti dengan pemeliharaan yang konsisten. Sekolah diharapkan tetap menjaga kebersihan, kerapian, dan kenyamanan agar manfaatnya berkelanjutan.

"Sekolah yang baik bukan hanya dibangun, tetapi juga dirawat. Ini tanggung jawab kita bersama,” tegasnya.

Dukungan terhadap program ini juga datang dari satuan pendidikan penerima manfaat yakni Kepala SMP Negeri 4 Telaga, Gorontalo, Aysa Utiarahman, menyampaikan bahwa revitalisasi yang diterima sekolahnya membawa perubahan signifikan terhadap kenyamanan dan kualitas pembelajaran.

“Alhamdulillah , kami mendapatkan lima paket revitalisasi, mulai dari pembangunan laboratorium komputer, pembangunan toilet baru beserta sanitasi, rehabilitasi ruang kelas, hingga laboratorium IPA dan dampaknya luar biasa,” ujarnya.

Ia mengungkapkan bahwa sebelum revitalisasi dilakukan, fasilitas sanitasi di sekolah sangat terbatas. “Dulu toilet hanya tersedia untuk guru, sementara murid harus menumpang di rumah warga sekitar. Sekarang kondisi jauh lebih baik sudah ada penambahan bangunan toilet baru sehingga lebih aman dan nyaman bagi murid,” tambahnya.

Menurut Aysa, lingkungan belajar yang lebih layak turut menciptakan suasana belajar yang kondusif dan mendukung proses pembelajaran. Meski demikian, ia berharap pemerintah terus memberikan perhatian, khususnya bagi sekolah-sekolah yang berada di wilayah pinggiran.

“Kami masih membutuhkan fasilitas seperti perpustakaan yang representatif dan ruang UKS yang memadai. Harapannya ada sinergi berkelanjutan antara pemerintah pusat, daerah, dan sekolah untuk menghadirkan pendidikan yang bermutu dan terjangkau,” tuturnya.

Ungkapan yang sama dirasakan langsung oleh salah satu murid kelas VIII, Ismail Husein, mengungkapkan bahwa perubahan kondisi sekolah membuat proses belajar menjadi lebih nyaman dan menyenangkan.

“Senang sekali karena kelas kami ikut direnovasi. Sebelumnya dindingnya retak-retak dan ada bagian yang berlubang, sekarang sudah rapi dan bagus. Kami jadi lebih nyaman, aman, dan bisa belajar lebih fokus,” ujarnya.

Ismail juga mengapresiasi penambahan fasilitas sekolah, seperti toilet dan laboratorium komputer, yang semakin menunjang kegiatan belajar.

“Sekarang toiletnya sudah lebih banyak dan kami juga sering belajar di lab IPA dan lab komputer,” tambahnya. (**)

Berita Terkait