Fenomena: Hebatnya Pertemanan di Sosial Media Zaman Sekarang

Senin, 23/07/2018 - 13:16
Ilustrasi (net)

Ilustrasi (net)

Oleh: #Bismi

Ketika kita melihat sebuah fenomena pertemanan, apa yang tergambar dari seorang manusia yang netral berteman dengan siapa saja?
Jawaban yang paling tepat adalah sedikit orang yang berpihak padanya.

Saya memiliki seorang teman di Facebook dengan latar budaya-nya yang netral, tidak memihak kiri-kanan, tidak berat sebelah, suka menyambung tali silaturahmi namun sukar memperoleh tanggapan positif dari semua postingannya. 

Dia berteman dengan semua elemen masyarakat dan kasta; berteman dengan orang yang ber-basic penulis, berteman dengan penyair, cerpenis, novelis, prosais, dan genre sastra lainnya. Ia juga berteman dengan warga NU, Muhammadiyah, Liberalis dan lain semacamnya. Berteman dengan kalangan politis juga ia terapkan tanpa pandang bulu, seperti halnya; pertemanannya dengan politikus-politikus PKS, Demokrat, Perindo, Golkar, PBNU, PPP, Gerindra, dan sebagainnya. Tak urung juga pertemanannya dari berbagai agama yang ada di Indonesia. Jelas sikap Nasionalisnya dirasa lebih mantab dari sekedar ber-Sosialis. 

Setelah beberapa tanggapan yang ia peroleh dari sekedar postingan-postingannya di Facebook (entah itu sekedar status, caption, quote, artikel-artikel, syair-syair, dll), ternyata ada beberapa kesimpulan yang telah dijabarkan di atas, yang menyangkut siapa saja kelompok penanggap tersebut.  

"Sedikit orang yang berpihak padanya tentang apa yang ia posting ketika statusnya mengarah ke-Netral-an, namun berbeda cerita ketika ia mem-posting status/caption yang mengarah pada kelompok tertentu."

Sampel; 
Saat ia menulis sebuah syair atau puisi, beberapa temannya dari sekian ratus yang aktif, hanya puluhan yang menanggapi dan berkomentar. Kelompok novelis dan cerpenis menyanggah dan no Reaction

Ketika ia menulis sebuah cerpen maupun artikel-artikel menarik, beberapa puluh teman saja yang membaca dan menanggapinya, sedang pada saat itu yang aktif dari kalangan penulis genre lainnya, menyatakan no komen karna bukan dianggap sebagai mahzab-nya. 

Kalanya ia mulai menulis statmen tentang politik yang mengarah pada satu partai (misal, PAN), secara konsekuen, yang menanggapinya positif adalah dari kalangan partai yang disinggungnya, kalangan lain no Komen (jika bersinggungan negative, jelas misuh-misuh sendiri; dan jika merasa berlebihan memuji kelompok tersebut, bakalan ketawa mencemooh/HOAX) tanpa mengindahkan sisi sosial lainnya. 

Kala ia mulai ber-argumen pada keadaan masyarakat melalui status panjangnya, entah apa itu, atau saya misalkan adalah tanggapan beredarnya politik SARO (baca; SA-RA), pro dan kontra menjadi sebuah senjata tajam menganalisa opininya yang bersifat bias dan membuat salah satu kalangan masyarakat koprol kepanasan. Lebih menakutkan lagi adalah kalangan politik dan agama menjadi terkena imbasnya. Sedang kalangan penulis, penyair, liberalis, dan sosialis; NO KOMEN. Pun kita tahu, bahwa kalangan netizen yang benar-benar menanggapi adalah minus pengalaman dan edukasi, yang menjadikan opini tersebut menjadi tersiar kalang kabut menimbulkan selisih faham dan argumen baru. 

Namun, lain hal ketika ia memulai menulis tentang status yang biasa-biasa saja, tidak ada keindahan estetika dan realita, ngga berbobot, ngga berpendidik-pendudukan, maka reaksi yang diperoleh dari teman-temannya yang aktif dari ratusan netizen, hanya akan menimbulkan beberapa like-coment, saja, dan jelas, orang-orangnya dari kalangan intelektual berfikir kebawah atau awam. 

Nah, lantas bagaimana caranya menyatukan perbedaan kasta dan elemen sehingga membuat semuanya bereaksi? 

Dengan Viralitasi dan Bal-balan (baca: sepakbola) tentunya!

Siapa yang tak kenal aplikasi tik-tok; sarana viralitasi instan yang ketika penggunannya bersikap dan bertingkah idiot. Reaktornya jelas dari kalangan manapun yang menganggapnya NOOB (labil), kasihan, dan prihatin tanpa memperhatikan orang tersebut adalah kelompok, penulis, penyair, politikus, agamis, dan sosialis. 

Pun begitu ketika Tim-Nas berlaga dalam gerne olahraga Bal-balan, siapapun masyarakatnya; awam maupun intelektual, agamis atau non agamis, politikus pun liberalis, maka hasilnya adalah SATU NUSA SATU BANGSA, sepakbola harga mati dari rekayasa pemecah-belah persatuan non Nasionalis. 

Dan akhir kata; teman saya tersebut mulai lebih giat untuk mengisi kolom sepakbola ketimbang mencari penggemar dari satu golongan. 

"Lebih afdol memposting pemberitaan-pemberitaan para skuad Tim-Nas dan club-club elit luar negeri ketimbang lurus-lurus aja di Facebook, memang gaji dari om Mark lebih besar daripada harus mantengin rubrik sepakbola" katanya ketika kutemui di kediamannya, Kosan Tercinta.

Bengkulu, Juli 2018

Berita Terkait