Foto ilustrasi tangan bayi yang baru lahir (Foto: Pinterest)
Oleh: Muhammad Farhan Fahrezi mahasiswa Penerbitan (Jurnalistik) Politeknik Negeri Jakarta
Dunia menyambutku dengan pelukan dingin dan aroma asing. Aku terlahir diiringi drama, diselimuti cairan ketuban berwarna hijau yang tak biasa. Rasa pahit cairan itu memenuhi mulut mungilku saat aku tak sengaja menelannya. Tangisan yang dinanti-nantikan tak kunjung hadir, membuat orang-orang di sekitarku dilanda kebingungan dan kekhawatiran.
Dua hari aku lalui di rumah sakit, diawasi dengan penuh perhatian. Suster-suster yang telaten membersihkan tubuhku, membungkusku dengan selimut hangat, dan berusaha memancing tangisan pertamaku. Namun, aku tetap diam, tak bersuara, seolah terpaku dalam keheningan.
Dokter yang memeriksa menenangkan orang tuaku. Katanya, kondisiku wajar dan tidak perlu dikhawatirkan. Cairan ketuban berwarna hijau memang jarang terjadi, tapi tidak berbahaya bagi kesehatan bayi. Tangisan yang tertunda pun dijelaskan sebagai efek samping dari obat perangsang persalinan yang diberikan kepada ibuku.
Meskipun begitu, rasa cemas dan khawatir tak kunjung hilang dari wajah orang tuaku. Mereka terus memantau keadaanku dengan penuh kasih sayang, tak henti-hentinya mendoakan kesehatan dan keselamatan putranya yang mungil ini.
Akhirnya, setelah dua hari yang menegangkan, aku diizinkan pulang ke rumah. Kehangatan pelukan ibu bagaikan pelabuhan setelah badai. Di sanalah, untuk pertama kalinya, tangisan itu pecah. Tangisan yang tertunda, tumpah ruah bagaikan air bah, seolah melepaskan semua beban dan rasa sakit yang selama ini terpendam.
Tangisan itu bagaikan musik indah di telinga orang tuaku. Air mata kebahagiaan membasahi pipi mereka, lega dan bersyukur atas keselamatan buah hati mereka. Aku pun merasakan kedamaian dan ketenangan dalam dekapan ibu, seolah dunia ini hanya milik kami berdua.
Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Di malam yang sama, saat ibuku tengah berbuka puasa, tubuh mungilku kembali dilanda kejang. Tubuhku menegang, kejang-kejang, dan teriakan panik menggema di seluruh rumah. Aku kembali dilarikan ke rumah sakit, meninggalkan rasa cemas dan ketakutan di hati orang tuaku.
Hari-hari berikutnya diwarnai dengan bolak-balik ke rumah sakit. Dokter mendiagnosisku dengan kondisi medis yang berpotensi kambuh di masa depan. Kabar itu bagaikan petir di siang bolong, menghantam hati orang tuaku dengan rasa duka dan kekhawatiran.
Dokter berusaha menenangkan mereka. Katanya, dengan pengobatan dan perawatan yang tepat, kondisi ini bisa dikontrol dan aku bisa tumbuh dan berkembang seperti anak-anak lainnya. Namun, dia mengingatkan bahwa aku perlu diawasi dengan ketat dan segera dibawa ke rumah sakit jika menunjukkan gejala kejang.
Sejak saat itu, hidupku tak lagi sama. Orang tuaku selalu siaga di sisiku, mengawasiku dengan penuh perhatian. Setiap kali aku menunjukkan tanda-tanda kejang, mereka segera membawaku ke rumah sakit. Ketakutan dan kecemasan selalu membayangi mereka, namun mereka tak pernah menyerah untuk memberikan yang terbaik bagiku.
Beruntungnya, hingga saat ini, kejang-kejang itu tak pernah terulang lagi. Aku tumbuh dan berkembang seperti anak-anak lainnya, penuh tawa dan keceriaan. Meskipun begitu, kenangan masa kecil itu selalu terukir dalam benakku, menjadi pengingat akan ketangguhan dan perjuangan hidup yang aku lalui sejak detik pertama di dunia ini.
Kisahku ini mungkin tak seheroik cerita pahlawan, tak seindah dongeng pengantar tidur. Tapi, ini adalah kisah nyata, kisah tentang seorang bayi mungil yang dihadapkan pada berbagai rintangan sejak awal kehidupannya. Kisah tentang ketangguhan, tentang kasih sayang orang tua, dan tentang harapan yang tak pernah padam.
Aku bagaikan tunas kecil yang bertumbuh di tengah badai. Aku belajar untuk bertahan, untuk bangkit dari keterpurukan, dan untuk menemukan kebahagiaan dalam setiap momen hidup. Kisahku ini mungkin tak begitu istimewa, tapi bagiku, ini adalah perjalanan yang penuh makna. Setiap langkah kecilku, setiap tawa dan tangisku, adalah bukti dari cinta yang tulus dan tak kenal lelah dari orang tua yang selalu ada untukku.
Orang tuaku adalah pahlawan sejati dalam hidupku. Mereka memberikan segalanya, dari tenaga, waktu, hingga doa yang tiada henti. Ketangguhan mereka menjadi inspirasi bagiku untuk terus maju, meski badai menghadang. Setiap hari adalah perjuangan, tetapi juga hadiah yang tak ternilai, karena aku tahu aku dicintai tanpa syarat.
Kini, aku menjalani hari-hari dengan penuh syukur. Setiap kali aku melihat senyum di wajah orang tuaku, aku tahu bahwa semua perjuangan dan pengorbanan mereka tidak sia-sia. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk selalu berusaha menjadi yang terbaik, sebagai balasan atas cinta dan kasih sayang yang mereka berikan. Aku mungkin terlahir dengan drama, tetapi aku akan hidup dengan harapan dan cinta yang tak pernah padam.
Aku tidak tahu apa yang masa depan pegang untukku, tapi satu hal yang pasti, aku akan terus berjuang. Karena aku telah belajar dari yang terbaik—orang tuaku. Mereka adalah pilar yang tak tergoyahkan, yang selalu ada, memberikan dukungan tanpa henti. Aku adalah bukti hidup dari ketangguhan mereka, dan dengan dukungan mereka, aku tahu aku bisa mencapai apa pun.
Kisahku ini, meskipun sederhana, adalah bukti dari kekuatan cinta dan ketangguhan manusia. Ini adalah cerita tentang harapan, perjuangan, dan cinta yang tak pernah pudar. Setiap hari adalah hadiah, dan aku akan menjalani setiap momen dengan penuh rasa syukur.
Terlahir dengan drama, mungkin, tapi hidupku akan kujalani dengan penuh semangat dan harapan, karena aku tahu aku tidak sendiri. Aku memiliki orang tua yang luar biasa, dan dengan mereka di sisiku, aku siap menghadapi dunia. (mff)








