Warisan Cagar Budaya Kawasan Tradisional Rumah Marga Tjhia

Senin, 05/02/2024 - 23:25
Kawasan Tradisional Rumah Marga Tjhia

Kawasan Tradisional Rumah Marga Tjhia

Klikwarta.com, Kota Singkawang, Kalbar - Kota Singkawang yang multietnis dihuni tiga etnis besar, yaitu Tionghoa, Dayak, dan Melayu. Di antara ketiganya yang hidup berdampingan ini, etnis Tionghoa yang paling besar jumlah warganya. Tidak heran kalau budaya Tionghoa begitu kental di Singkawang. Senin (5/2),

Satu tempat wisata yang kental budaya Tionghoa-nya adalah Kawasan Tradisional Rumah Marga Tjhia.

Pedagang kaya di Singkawang

Kawasan Tradisional Rumah Marga Tjhia merupakan kompleks rumah berarsitektur khas Tionghoa. Rumah ini milik keluarga Tjhia dan sudah berdiri sejak tahun 1902. Rumah ini dibangun warga Tionghoa marga Chia Siu Si dari Fujian China yang merantau ke Singkawang.

Kala itu, Singkawang yang lahannya subur masih belum banyak penduduknya. Chia mulai mengubah lahan hutan jadi kebun sayur, karet, kelapa dan buah-buahan. Perkebunan ini membawa kesuksesan dan juga membantu meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.

Chia lalu membuat armada khusus untuk menjual hasil kebunnya ke Malaysia dan Singapura. Dari bisnis inilah secara perlahan Chia dikenal sebagai pedagangan dan orang kaya di Singkawang.

Dia kemudian membangun rumah besar di atas tahan seluas 5.000 meter, hasil hibah pemerintah kolonial Belanda. Di tempat inilah keluarganya hidup sampai keturunan ke tujuh hingga sekarang.

Rumah Marga Tjhia

Menjadi cagar budaya

Rumah Marga Tjhia ini masih terus dipelihara dan dijaga bentuknya sejak awal dibangun. Karena umurnya yang sudah tua dan arstitekturnya yang unik, rumah ini dinobatkan sebagai cagar budaya di Singkawang.

Rumah Marga Tjhia ini terdiri atas tiga bangunan. Ada bangunan utama yang terdiri atas dua aula besar. Aula pertama untuk kantor dagang dan sekarang berubah menjadi aula untuk berbagai acara. Sedangkan aula kedua lokasinya sedikit di belakang, untuk tempat altar abu leluhur marga Tjhia.

Dua dari tiga bangunan berfungsi sebagai tempat tinggal. Keturunan keempat dan ketujuh dari marga Tjhia pun masih tinggal di sana. Kadang pengunjung pun masih bisa bertemu dengan mereka.

Setelah mendapat status sebagai cagar budaya, Rumah Marga Tjhia ini dibuka untuk umum.

Pengunjung bisa datang untuk melihat-lihat dan berfoto. Masuk ke tempat ini gratis. Namun karena masih ada keluarga yang tinggal di sini, harus tetap sopan dan menghormati penghuni. Umumnya, orang datang ke sini pun untuk membeli choi pan buatan keluarga Tjhia.

Walaupun di Singkawang banyak penjual, tetapi choi pan di sini yang paling terkenal enak. Kalau ingin membeli choi pan sebaiknya datang sepagi mungkin.

Anda berkesempatan untuk melihat proses pembuatannya sekaligus memborong banyak. Di tempat ini juga disediakan meja dan bangku bagi pengunjung yang ingin menikmati choi pan.

Selain itu, ada pula kuliner khas Singkawang lainnya. Seperti bongko, talam ebi, minuman jeruk namong (jeruk yang difermentasi) dan air tahu.

Rumah Marga Tjhia beralamat di jalan Budi Utomo, Singkawang. Buka dari jam 08.00 -17.30 WIB. (*)

Kontributor: Arif

Berita Terkait