Pembangunan jalan penghubung desa sepanjang 1.300 meter dengan lebar 6 meter.
Oleh: Letkol Inf. Eko Yulianto, Dansatgas TMMD Ke-127 Kodim 1423/Soppeng
Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti hamparan kebun di Desa Jampu, Kecamatan Liliriaja, Kabupaten Soppeng. Namun di balik sejuknya udara, deru alat berat dan ayunan cangkul mulai memecah kesunyian. Prajurit TNI dan warga tampak menyatu, bekerja tanpa sekat. Di sinilah TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-127 TA 2026 digelar oleh Kodim 1423/Soppeng.
Program yang menjadi wujud nyata kemanunggalan Tentara Nasional Indonesia dengan rakyat ini kembali hadir menjawab kebutuhan mendasar masyarakat: akses, hunian layak, air bersih, dan peningkatan kualitas hidup.
Di bawah komando jajaran Tentara Nasional Indonesia (TNI), TMMD bukan sekadar pembangunan fisik semata. Lebih dari itu, ia menjadi ruang kolaborasi antara prajurit, pemerintah daerah, dan masyarakat untuk menjawab kebutuhan prioritas desa.
Jalan Penghubung 1.300 Meter, Urat Nadi Ekonomi Desa
Sasaran utama TMMD Ke-127 kali ini adalah pembangunan jalan penghubung desa sepanjang 1.300 meter dengan lebar 6 meter. Jalan tersebut menjadi akses vital yang menghubungkan antar desa dan mempermudah mobilitas warga.
Sebelumnya, akses yang terbatas kerap menyulitkan masyarakat, terutama saat musim hujan. Kini, dengan terbukanya jalan baru, distribusi hasil pertanian dan perkebunan menjadi lebih lancar. Anak-anak sekolah pun dapat menempuh perjalanan dengan lebih aman dan nyaman.
Bagi warga Desa Jampu, jalan ini bukan hanya infrastruktur, melainkan simbol perubahan dan kemajuan.

Sasaran fisik TMMD Ke-127 meliputi pembangunan dan peningkatan infrastruktur desa seperti pembukaan jalan, perintisan akses penghubung antar dusun, rehabilitasi rumah tidak layak huni, serta fasilitas umum lainnya. Jalan yang dulunya sulit dilalui, kini perlahan berubah menjadi akses yang layak dan memadai.
Bagi warga, jalan bukan sekadar hamparan tanah yang diratakan. Ia adalah urat nadi ekonomi. Dengan akses yang lebih baik, hasil pertanian dan perkebunan dapat lebih cepat dan mudah dipasarkan. Anak-anak pun dapat bersekolah dengan aman dan nyaman.
“Dulu kalau musim hujan, jalan ini nyaris tidak bisa dilewati. Sekarang sudah jauh lebih baik,” ungkap Kepala Desa Jampu, Ibu Nurhafsah.
Sebagai pemimpin di tingkat desa, ia menjadi motor penggerak partisipasi masyarakat dalam setiap tahapan kegiatan yang dilaksanakan oleh Kodim 1423/Soppeng.
Saya menegaskan pentingnya pembangunan akses tersebut. Perintisan jalan ini menjadi prioritas karena sangat dibutuhkan masyarakat sebagai jalur penghubung antar desa dan dusun serta akses menuju lahan pertanian.
“Perintisan jalan ini adalah bentuk nyata kepedulian TNI terhadap kebutuhan masyarakat. Kami hadir bersama rakyat untuk mempercepat pembangunan dan membuka akses yang selama ini sulit dijangkau.”
Terlihat personel TNI bersama masyarakat bergotong royong menggunakan alat manual maupun alat berat. Keringat yang jatuh ke tanah Desa Jampu menjadi saksi kuatnya kebersamaan.
Gotong Royong yang Menguatkan Persaudaraan
Di lokasi TMMD, prajurit TNI dan masyarakat tampak bekerja berdampingan. Canda dan semangat kebersamaan menjadi warna tersendiri dalam setiap proses pembangunan.
Inilah wujud nyata kemanunggalan TNI dan rakyat-bekerja bersama, berkeringat bersama, demi tujuan yang sama: kesejahteraan desa.
TMMD Ke-127 di Desa Jampu menjadi momentum penting untuk memperkuat fondasi pembangunan dari desa. Karena membangun dari pinggiran berarti memperkokoh masa depan bangsa.
Desa Jampu hari ini sedang berbenah. Jalan terbuka, fasilitas terbangun, kesadaran meningkat. Harapan pun tumbuh, seiring semangat kebersamaan yang terus menyala.
Di lokasi pembangunan fisik, prajurit TNI bersama warga dan mahasiswa juga bahu-membahu membangun plat duiker sebagai bagian dari peningkatan infrastruktur desa.
Plat duiker tersebut dibangun untuk memperlancar aliran air sekaligus memperkuat badan jalan yang menjadi akses vital masyarakat. Sebelumnya, titik tersebut kerap tergenang air saat hujan turun, sehingga menghambat mobilitas warga dan distribusi hasil pertanian.

Dengan semangat gotong royong, personel TNI, masyarakat, dan mahasiswa turun langsung ke lapangan. Ada yang mengaduk semen, menyusun rangka besi, hingga meratakan pengecoran. Kolaborasi lintas elemen ini mencerminkan kuatnya sinergi antara aparat, generasi muda, dan masyarakat dalam membangun desa.
Saya menyampaikan bahwa keterlibatan mahasiswa menjadi energi positif dalam proses pembangunan.
“Kehadiran mahasiswa bersama warga menunjukkan bahwa pembangunan adalah tanggung jawab bersama. TMMD menjadi wadah untuk memperkuat semangat gotong royong dan kepedulian sosial,”.
Pembangunan plat duiker ini diharapkan mampu meningkatkan ketahanan infrastruktur jalan serta memastikan akses tetap lancar di segala musim.
Semangat kebersamaan begitu terasa di lokasi TMMD. Prajurit dan warga serta mahasiswa bekerja bahu-membahu tanpa sekat. Canda tawa di sela pekerjaan mencerminkan kedekatan emosional yang terjalin.
Inilah esensi TMMD: kemanunggalan TNI dan rakyat. Sebuah kolaborasi yang bukan hanya menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga mempererat persaudaraan.
Hunian Layak, Air Bersih, dan Sanitasi
Selain pembangunan jalan, TMMD Ke-127 juga menyasar pembangunan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) bagi warga yang membutuhkan. Pembangunan sumur bor menjadi solusi atas kebutuhan air bersih masyarakat, sementara fasilitas MCK dibangun untuk meningkatkan kualitas sanitasi dan kesehatan lingkungan.
Seluruh sasaran fisik tersebut diarahkan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara langsung dan berkelanjutan.
Melalui program RTLH, prajurit TNI bersama masyarakat bergotong royong membangun dan memperbaiki rumah warga agar menjadi lebih layak huni, sehat, dan aman. Perbaikan dilakukan mulai dari pondasi, dinding, atap, hingga lantai, sehingga rumah yang sebelumnya kurang layak kini berubah menjadi hunian yang lebih representatif.

Amina (penerima rehab RTLH) menceritakan, "Dulu, setiap kali mendengar suara hujan, hati saya langsung berdebar kaget, air akan masuk dari segala arah, dari celah atap, dari celah dinding yang sudah retak seperti jurang kecil,".
"Anak-anak saya harus bergerombol di satu sudut yang sedikit kering, buku tulis mereka seringkali basah dan tidak bisa digunakan lagi", ucapnya penuh haru.
Kini, cerita Ibu Amina mulai berubah, bagian atap dan dinding rumahnya yang kini dibuat setengah permanen telah hampir selesai dikerjakan, "Seperti mendapatkan tempat berteduh yang sesungguhnya, saya bisa memasak dengan tenang, anak-anak bisa belajar tanpa khawatir. Ini bukan hanya rumah baru, ini adalah harapan yang kita rasakan setiap hari."
Sementara itu, di Dusun Lenrang, TMMD ke-127 sulap rumah lapuk jadi layak huni. Rumah yang dulunya berdinding papan rapuh, beratap bocor, dan berlantaikan tanah kini berdiri lebih kokoh. Proses renovasi dilakukan secara bertahap, mulai dari perbaikan pondasi, penggantian rangka atap, pemasangan dinding yang lebih kuat, hingga pembenahan lantai agar lebih sehat dan layak huni.
Bagi warga penerima manfaat, bantuan tersebut bukan sekadar perbaikan bangunan, melainkan perubahan besar dalam kehidupan mereka.
Prajurit TNI bersama masyarakat setempat bergotong royong dalam setiap tahap pengerjaan. Tanpa sekat, mereka bekerja berdampingan, memadukan tenaga dan semangat demi menghadirkan tempat tinggal yang lebih baik bagi sesama.
Pembangunan RTLH merupakan bentuk kepedulian nyata TNI terhadap kesejahteraan masyarakat.
“Melalui program RTLH ini, kami ingin membantu masyarakat agar memiliki tempat tinggal yang lebih layak. Rumah yang sehat dan aman akan memberikan dampak positif terhadap kualitas hidup dan kesejahteraan keluarga,”.
Kehadiran program RTLH tidak hanya memperbaiki bangunan fisik, tetapi juga membangun optimisme. Warga yang menerima bantuan merasa diperhatikan dan didukung, sehingga tumbuh semangat baru untuk meningkatkan taraf hidup mereka.
Gotong royong yang tercipta selama proses pembangunan juga mempererat hubungan antara prajurit dan masyarakat. Kebersamaan tersebut menjadi bukti kuat kemanunggalan Tentara Nasional Indonesia dengan rakyat.
Melalui RTLH dalam TMMD Ke-127, Desa Jampu tidak hanya membangun rumah, tetapi juga membangun harapan-menuju kehidupan yang lebih sejahtera dan bermartabat.
Di sisi lain, kebutuhan air bersih menjadi salah satu perhatian utama dalam pelaksanaan TMMD Ke-127 TA 2026 oleh Kodim 1423/Soppeng di Desa Jampu, Kecamatan Liliriaja, Kabupaten Soppeng.
Melalui pembangunan sumur bor dan pembentangan jaringan pipa air, prajurit TNI bersama masyarakat bekerja tanpa mengenal lelah. Pipa-pipa dibentangkan menyusuri permukiman warga, memastikan air bersih dapat mengalir hingga ke rumah-rumah yang sebelumnya kesulitan mendapatkan pasokan air.

Selama ini, sebagian warga harus menempuh jarak cukup jauh untuk mengambil air, terutama saat musim kemarau. Kondisi tersebut tentu menyita waktu dan tenaga. Kini, dengan adanya sumur bor dan jaringan pipa yang terpasang, kebutuhan dasar masyarakat dapat terpenuhi dengan lebih mudah dan efisien.
Anwar dari Desa Barang mengenang masa ketika ia harus berjalan hingga dua kilometer demi mendapatkan air bersih. Kini, sumur bor lengkap dengan bak penampungan berdiri kokoh di desanya.
“Saya tidak perlu lagi bangun pagi-pagi hanya untuk mencari air,” katanya sambil tersenyum bangga menunjukkan fasilitas tersebut kepada rombongan.
Saya mengarahkan kepada satgas dan masyarakat bahwa penyediaan air bersih merupakan bagian penting dari peningkatan kualitas hidup masyarakat.
“Air bersih adalah kebutuhan dasar. Dengan adanya sumur bor ini, kami berharap masyarakat Desa Jampu tidak lagi mengalami kesulitan air, sehingga kesehatan dan kesejahteraan warga semakin meningkat,”.
Proses pemasangan pipa dilakukan secara gotong royong. Prajurit dan warga bahu-membahu menggali tanah, menyusun instalasi, hingga memastikan aliran air dapat berjalan dengan baik. Kebersamaan itu mencerminkan kuatnya kemanunggalan Tentara Nasional Indonesia dengan rakyat.
Hadirnya sumur bor dalam program TMMD Ke-127 bukan sekadar menghadirkan sumber air, tetapi juga menghadirkan rasa aman dan kepastian bagi masyarakat. Dari tetes air yang mengalir, tumbuh harapan akan kehidupan yang lebih sehat dan sejahtera di Desa Jampu.
Tak hanya itu, soal sanitasi, TNI komitmen menghadirkan pembangunan yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat melalui pembangunan fasilitas Mandi, Cuci, Kakus (MCK) di Desa Barang, Kecamatan Liliriaja, Kabupaten Soppeng.
Pembangunan MCK menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kualitas sanitasi lingkungan. Sebelumnya, sebagian warga masih memiliki keterbatasan akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan permasalahan kesehatan, terutama bagi anak-anak dan lansia.

Melalui program ini, prajurit TNI bersama masyarakat setempat bergotong royong membangun fasilitas MCK yang bersih, aman, dan nyaman digunakan. Mulai dari pengerjaan pondasi, pemasangan dinding, hingga instalasi saluran air dilakukan secara bersama-sama, mencerminkan semangat kebersamaan yang menjadi ciri khas TMMD.
MCK bukan sekadar membangun fasilitas fisik, tetapi juga bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pola hidup bersih dan sehat.
Dengan hadirnya fasilitas MCK di Desa Barang, diharapkan masyarakat dapat menikmati akses sanitasi yang lebih baik, sehingga risiko penyakit berbasis lingkungan dapat ditekan dan kualitas hidup warga semakin meningkat.
Dari sanitasi yang baik, tumbuh masyarakat yang sehat. Dari desa yang sehat, terbangun masa depan yang kuat.
Terpisah, Bupati Soppeng H. Suwardi Haseng, S.E., mengatakan TMMD ini ibarat menancapkan tonggak harapan di bumi Latemmamala. Program yang menyatukan langkah TNI, Pemerintah Daerah, dan Masyarakat ini menjadi jembatan emas menuju Desa yang lebih maju, mandiri, dan sejahtera.
Ia menegaskan bahwa TMMD bukan sekadar rangkaian pembangunan fisik, dan non fisik, melainkan juga rajutan kebersamaan yang menguatkan simpul persatuan.
Jalan yang dibuka adalah urat nadi ekonomi, sementara semangat gotong royong adalah denyut jantungnya.
Tak Hanya Bangunan, Tapi Juga Kesadaran
Pelaksanaan TMMD Ke-127 TA 2026 oleh Kodim 1423/Soppeng di Desa Jampu dan sekitarnya tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik semata. Di balik jalan yang dibuka, rumah yang direnovasi, dan fasilitas yang dibangun, ada misi yang lebih besar: membangun kesadaran dan kualitas sumber daya manusia.
Melalui berbagai kegiatan nonfisik, prajurit Tentara Nasional Indonesia menghadirkan penyuluhan Wawasan Kebangsaan dan Bela Negara untuk menanamkan semangat cinta tanah air serta memperkuat persatuan. Penyuluhan Kamtibmas dan hukum juga diberikan agar masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan.

Tak kalah penting, edukasi di bidang pertanian dan peternakan menjadi bekal bagi warga untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan ekonomi keluarga. Sementara penyuluhan kesehatan dan pencegahan stunting diarahkan untuk menciptakan generasi yang lebih sehat dan berkualitas.
Semua kegiatan ini menjadi bukti bahwa TMMD bukan hanya membangun infrastruktur, tetapi juga membangun pola pikir, memperkuat kepedulian sosial, dan menumbuhkan kemandirian masyarakat.
Karena sejatinya, pembangunan yang kokoh tidak hanya berdiri di atas beton dan semen, tetapi juga di atas kesadaran, persatuan, dan semangat kebersamaan.
Ketua Tim Pengawasan dan Evaluasi TMMD Ke-127 Tahun Anggaran 2026, Brigjen TNI Mukhlis, S.Ap., M.M., menegaskan bahwa TMMD bukan sekadar proyek pembangunan.
“Saya melihat bukan hanya beton dan pasir di sini. Saya melihat identitas yang kuat, rumah panggung Bugis yang indah, keberadaan kalong yang unik, dan semangat masyarakat yang tidak pernah padam. Keunikan kalian adalah kekayaan kalian. TMMD datang bukan untuk mengubahnya, melainkan untuk membantu kekayaan itu bersinar lebih terang,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa setiap anggaran program diberikan langsung kepada masyarakat tanpa melalui kontraktor, sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh warga yang membutuhkan.
Bagi Desa Jampu dan Desa Barang, TMMD Ke-127 bukan sekadar rangkaian kegiatan pembangunan. Ia adalah jembatan antara harapan dan kenyataan, antara keterbatasan dan peluang. Di atas jalan yang kini kokoh, di bawah pohon-pohon yang mulai tumbuh, dan dari sumur yang memancarkan air bersih, terangkai kisah perubahan yang akan terus dikenang sebagai awal kebangkitan desa.
Mewujudkan Desa Mandiri
Pelaksanaan TMMD Ke-127 TA 2026 oleh Kodim 1423/Soppeng di wilayah Kecamatan Liliriaja, Kabupaten Soppeng, bukan sekadar menghadirkan pembangunan fisik dan penyuluhan semata. Lebih dari itu, program ini diarahkan untuk mewujudkan desa yang mandiri, kuat, dan berdaya saing.
Pembangunan jalan penghubung sepanjang 1.300 meter, renovasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), pembangunan sumur bor, MCK, hingga plat duiker menjadi fondasi infrastruktur yang menunjang aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat. Akses yang terbuka memperlancar distribusi hasil pertanian dan mempermudah mobilitas warga.
Di sisi lain, sasaran nonfisik seperti penyuluhan wawasan kebangsaan, bela negara, kamtibmas, hukum, pertanian, peternakan, kesehatan, dan pencegahan stunting menjadi penguat kapasitas sumber daya manusia. Masyarakat tidak hanya menerima pembangunan, tetapi juga dibekali pengetahuan untuk berkembang secara berkelanjutan.

Kepala Desa Jampu, Ibu Nurhafsah menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas kehadiran program TMMD di wilayahnya. Menurutnya, pembangunan jalan, RTLH, sumur bor, MCK, hingga kegiatan penyuluhan sangat membantu menjawab kebutuhan masyarakat Desa Jampu.
“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih atas dipilihnya Desa Jampu sebagai lokasi TMMD. Program ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga, terutama dalam membuka akses jalan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya.
Ia juga menilai bahwa semangat gotong royong yang terbangun selama kegiatan TMMD semakin mempererat hubungan antara warga dan prajurit Tentara Nasional Indonesia. Partisipasi aktif masyarakat menjadi bukti bahwa pembangunan akan berhasil jika dikerjakan bersama.
Sebagai kepala desa, Ibu Nurhafsah berharap hasil pembangunan dari TMMD Ke-127 dapat dijaga dan dimanfaatkan sebaik mungkin oleh masyarakat, sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
“Semoga apa yang dibangun hari ini menjadi fondasi kemajuan Desa Jampu ke depan,” tutupnya penuh harap.
Sinergi antara prajurit Tentara Nasional Indonesia, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan TMMD. Gotong royong yang terbangun menciptakan rasa memiliki dan tanggung jawab bersama terhadap hasil pembangunan.
Desa mandiri bukan hanya tentang tersedianya infrastruktur, tetapi tentang masyarakat yang mampu mengelola potensi, menjaga keamanan lingkungan, serta meningkatkan kesejahteraan secara swadaya.
Melalui TMMD Ke-127, harapan itu ditanamkan. Dari desa yang kuat dan mandiri, lahir ketahanan wilayah yang kokoh. Dari kebersamaan, masa depan yang lebih sejahtera pun diwujudkan.
Karena pada akhirnya, membangun desa berarti membangun Indonesia-dari pinggiran, untuk masa depan yang lebih sejahtera.
Dari desa, pembangunan dirajut. Dari kebersamaan, masa depan dibangun. (**)








