SAC II 2026 di Solo
Klikwarta.com, Surakarta – Komitmen menekan angka gangguan pendengaran di Indonesia terus diperkuat. Perhimpunan Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan Leher Indonesia (Perhati-KL) Cabang Solo kembali menggelar Solo Audiology Course (SAC) II pada 7–8 Februari 2026 di The Sunan Hotel Surakarta.
Kegiatan ilmiah ini menjadi bagian dari upaya peningkatan kompetensi tenaga kesehatan dalam melakukan skrining dan diagnosis gangguan pendengaran secara komprehensif, sejalan dengan program pemerintah dan target global Sound Hearing 2030.
Ketua Panitia, Dr. dr. Novi Primadewi, Sp.T.H.T.B.K.L, Subsp. NO (K), M.Kes, menjelaskan bahwa SAC II terbagi dalam dua agenda utama, yakni simposium pada hari pertama dan workshop praktik pada hari kedua.
“Fokusnya adalah skrining dan penegakan diagnosis gangguan pendengaran mulai dari bayi baru lahir, anak usia sekolah, dewasa hingga lansia. Deteksi dini sangat krusial, terutama pada bayi, agar tidak berdampak pada perkembangan komunikasi dan bicara,” ujarnya.
Antusiasme peserta terlihat dari kehadiran puluhan tenaga kesehatan dari berbagai daerah di Indonesia. Tidak hanya dokter spesialis THT-KL, kegiatan ini juga diikuti dokter umum, perawat, hingga bidan yang ingin memperdalam keterampilan pemeriksaan audiologi.
Perwakilan Perhati-KL Cabang Solo, Dr. dr. Hadi Sudrajad, Sp.T.H.T.B.K.L, Subsp. Oto (K), M.Si.Med, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari tanggung jawab organisasi profesi dalam meningkatkan kapasitas anggotanya.
“Ini bukan sekadar agenda ilmiah, tetapi implementasi nyata dukungan terhadap program pemerintah. Target global menyebutkan sebagian besar gangguan pendengaran dapat dicegah bila terdeteksi lebih awal. Karena itu, peningkatan kompetensi tenaga kesehatan menjadi kunci,” tegasnya.
SAC II turut menghadirkan narasumber dari dalam dan luar negeri, termasuk Prof. Dr. Mohd. Normani Zakaria dari Universiti Sains Malaysia. Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya pemeriksaan objektif seperti Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA) untuk mendeteksi gangguan pendengaran pada bayi dan anak yang belum mampu berkomunikasi.
“Pada bayi, kita tidak bisa mengandalkan respons verbal. Melalui pemeriksaan objektif dengan elektroda yang merekam respons gelombang otak terhadap suara, diagnosis dapat ditegakkan secara lebih akurat,” jelasnya.
Selain memaparkan materi ilmiah, peserta juga mendapatkan pelatihan teknis penggunaan alat seperti OAE, audiometri, dan timpanometri. Harapannya, ilmu yang diperoleh dapat langsung diterapkan di fasilitas kesehatan masing-masing.
Melihat tingginya minat dan kebutuhan akan pelatihan serupa, Perhati-KL Cabang Solo berencana menjadikan Solo Audiology Course sebagai agenda berkelanjutan. Informasi kegiatan berikutnya akan diumumkan melalui kanal resmi organisasi.
Melalui SAC II, Perhati-KL Solo berharap skrining pendengaran semakin masif dilakukan di berbagai daerah, sehingga gangguan pendengaran dapat dicegah dan ditangani sejak dini.
(Kontributor: Widyo)








