Foto istimewa
Klikwarta.com, Jakarta, 8 Mei 2026 - Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, berkolaborasi dengan Pemerintah Daerah Aceh menyelenggarakan gelar wicara sekaligus peluncuran awal Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV sebagai langkah strategis dalam memperkuat ekosistem sastra dan kebahasaan Indonesia. Adanya kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan kontribusi nyata dalam memperkuat posisi sastra sebagai bagian penting dari identitas dan kebudayaan bangsa Indonesia.
PPN XIV dijadwalkan berlangsung pada Juni 2026 di Aceh sebagai tuan rumah. Forum tersebut akan mempertemukan para penyair dari berbagai daerah di Indonesia serta negara serumpun dan mancanegara dalam rangka memperkuat jejaring, pertukaran gagasan, ruang apresiasi dan pengembangan sastra di tingkat nasional maupun regional.
Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin menyampaikan bahwa forum seperti PPN menjadi ruang penting untuk menumbuhkan ruang kolaborasi, kreativitas dan semangat berkarya yang tumbuh dari semangat juang para penyair. Sebab, ia menilai pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun ekosistem sastra.
“Kolaborasi antara berbagai pihak menjadi kunci dalam mewujudkan dan meningkatkan ekosistem sastra di Indonesia. Bahasa dan sastra merupakan satu kesatuan; melalui bahasa kita menyampaikan makna secara cerdas, dan melalui sastra kita mengolahnya menjadi karya kreatif, termasuk sebagai medium kritik sosial dan penyampaian gagasan serta harapan,” ujarnya di Gedung M. Tabrani Badan Bahasa, Jakarta, Rabu, (6/5).
Penguatan sastra membutuhkan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga kebudayaan, dan komunitas sastrawan. Oleh karena itu, dukungan pemerintah daerah, termasuk kehadiran Wakil Bupati Aceh Tengah, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Aceh, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Aceh Tengah, Kepala Balai Bahasa Provinsi Aceh serta sastrawan dari Aceh pada acara peluncuran, menunjukkan adanya semangat partisipasi kolektif antara pusat dan daerah serta sastrawan daerah dalam memajukan sastra Indonesia. Sementara dari utusan Kementerian Kebudayaan, hadir pula Staf Khusus Menteri, Nissa Rengganis.

Kemendikdasmen terus mendukung penguatan sastra. Badan Bahasa sejak 2023 telah menjalankan berbagai program, antara lain penghargaan sastra Kemendikdasmen, pemberian bantuan pemerintah di bidang sastra bagi sastrawan dan komunitas sastra di berbagai daerah.
Selain itu, Badan Bahasa juga mengembangkan program residensi sastrawan, baik di dalam negeri maupun mancanegara, sebagai upaya mendorong pertukaran gagasan serta memperluas jangkauan karya sastra Indonesia di tingkat internasional. Sedangkan di tingkat sekolah telah diterbitkan majalah LIRIS sebagai ruang kreativitas sastra seperti cerpen dan puisi hasil karya murid, guru dan komunitas sastra yang diterbitkan setiap bulan.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Bupati Aceh Tengah, Muchsin Hasan, mendukung PPN. Terlebih, Aceh memiliki kekayaan sastra dan budaya yang kuat. “Aceh adalah gudang sastrawan dan budayawan. Aceh Tengah juga dikenal sebagai lumbung penyair, pemikir, serta memiliki warisan budaya tak benda yang menjadi kekayaan daerah dan bangsa,” ujarnya.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, Syahrul, menambahkan bahwa minat literasi dan sastra masyarakat di Aceh menunjukkan perkembangan positif. Tingginya kunjungan ke perpustakaan, termasuk pada bulan Ramadan, didukung oleh fasilitas yang nyaman dan beragam, mulai dari layanan teknologi informasi hingga ruang kegiatan seperti bedah buku karya dan pertunjukan sastra.
Ketua Mandataris PPN, Ahmadun Yossi Herfanda, mengatakan bahwa PPN menjadi ruang bersama bagi para sastrawan untuk bersatu dalam memajukan sastra, khususnya puisi, serta memperkuat bahasa Indonesia. Ia berharap forum ini mampu menghasilkan gagasan yang bermakna, mempererat persaudaraan, dan berkontribusi pada terciptanya perdamaian melalui sastra.
Sebagai penutup, penyair Bara Pattyradja menekankan, “PPN menjadi ruang pertemuan literer sekaligus sebagai momentum untuk terus menumbuhkan gagasan puitik. Di tengah situasi kehidupan kebangsaan dan era mutakhir yang cenderung berpihak pada aspek material, puisi menjadi salah satu benteng pertahanan terakhir hati nurani. Puisi mesti berelaborasi dengan seni media baru agar dapat merebut pikiran dan hati generasi hari ini,” pungkasnya.
(Kontributor : Arif)








