Wacana Penaikkan Lanjutan Suku Bunga Acuan Bank Sentral AS dan Dampaknya Terhadap Indonesia

Rabu, 16/01/2019 - 17:13
Ilustrasi.net

Ilustrasi.net

Oleh: Achmad M

Dalam dunia perbankan, dikenal istilah suku bunga acuan, dimana besaran suku bunga acuan akan mempengaruhi perekonomian suatu negara. Apabila suku bunga acuan suatu negara terlalu kecil, hal tersebut akan menguntungkan sektor riil di negara tersebut namun akan sulit untuk menarik investor dari luar. Namun, apabila suku bunga acuan terlalu besar, hal tersebut akan menghambat pertumbuhan ekonomi di negara tersebut, tetapi dapat menarik minat investor asing dengan mudah. Berdasarkan hal tersebut, dapat dikatakan bahwa suku bunga acuan merupakan salah satu elemen penting bagi sistem perekonomian suatu negara. Namun, ada kalanya penentuan besaran suku bunga acuan suatu negara akan mempengaruhi sistem perekonomian di seluruh dunia apabila suku bunga acuan tersebut dimiliki oleh negara maju yang berperan besar dalam sistem perekonomian dunia. Salah satunya adalah Amerika Serikat (AS).

Dalam beberapa waktu terakhir, perekonomian AS mulai membaik setelah sebelumnya sempat menurun. Pembaikan kondisi AS ditandai dengan membaiknya rilis data-data ekonomi AS per bulannya, terutama jumlah pengangguran AS yang semakin menurun. Hal tersebut menyebabkan AS berwacana untuk menaikkan suku bunga acuannya pada tahun ini dalam rangka mengakhiri kebijakan pelonggaran moneternya. Pernyataan kenaikan suku bunga tersebut dilontarkan oleh Ketua The Fed (bank sentral AS) Janet Yellen karena iklim perekonomian di AS sudah mulai membaik. Pada awalnya, suku bunga acuan AS (Fed Rate) akan dinaikkan pada kuartal I/2015. Tetapi, seiring pelemahan ekonomi dunia yang terjadi, maka AS menunda penaikkan Fed Rate hingga saat ini. Namun, AS memastikan akan tetap menaikkan Fed Rate setelah kondisi perekonomian dunia mulai membaik.

Terkait hal tersebut, para ekonom di tanah air berpendapat bahwa langkah penaikkan Fed Rate akan memperburuk neraca perdagangan dunia. Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF). Enny Sri Hartati adalah salah satu ekonom yang meyakini hal tersebut. Pasalnya, kenaikan Fed Rate akan membuat nilai tukar dollar AS semakin mahal, sedangkan sejumlah negara mitra dagangnya semakin melemah. Apabila hal tersebut terjadi, maka volume ekspor-impor antar negara mitra dagang akan dikurangi sehingga neraca perdagangan turut melemah. 
Bagi Indonesia sendiri,wacana kenaikkan Fed Rate dapat memberikan efek psikologis bagi investor dan pasar. Apabila kenaikkan Fed Rate terus menjadi wacana dan ditunda, maka psikologi pasar akan semakin memburuk sehingga dapat berdampak negatif bagi perekonomian Indonesia. Salah satunya adalah melemahnya nilai tukar rupiah sehingga merugikan ekspor-impor dan memicu terjadinya inflasi tinggi.

Di sisi lain, wacana penaikkan Fed Rate memberikan tekanan bagi nilai tukar rupiah karena wacana kenaikan Fed Rate meningkatkan ekspektasi investor terhadap dollar AS sehingga investor lebih memilih untuk memburu aset berdenominasi dollar AS dibandingkan aset berdenominasi rupiah. Dalam skala nasional, pelemahan rupiah akibat wacana kenaikan Fed Rate berpotensi mengganggu kelangsungan industri dan sektor riil sehingga berdampak terhadap pelambatan ekonomi nasional. (**)

Tags

Berita Terkait