Ketua Komisi B DPRD Jawa Timur, Anik Maslahah serap aspirasi masyarakat di Kantor MWC NU Jambon, Sidoarjo
Klikwarta.com, Sidoarjo - Mewujudkan ketahanan pangan yang didengungkan oleh Presiden RI Prabowo Subianto, Ketua Komisi B DPRD Jawa Timur, Anik Maslahah memberi pemahaman dan pelatihan kepada emak-emak di Sidoarjo untuk menjadi enterpreneur.
Kegiatan ini sekaligus serap aspirasi masyarakat di Kantor MWC NU Jambon, Sidoarjo.
Menurut Anik, ketahanan pangan tidak hanya dimaknai produktivitas hasil sumber daya. Tetapi ketahanan pangan bisa terwujud dengan maksimal, jika masyarakat harus mampu mengolah potensi lokal dari bahan mentah menjadi bahan olahan dan mempunyai nilai jual tinggi.
"Bagaimana dari potensi lokal, sumber daya yang ada, kemudian diolah sehingga menghasilkan bahan mentah hingga menjadi bahan olahan sebut," tutur Anik, Jumat 13 Februari 2026.
Politisi asal PKB itu mengaku Kabupaten Sidoarjo mempunyai icon yang dikenal di tingkat nasional, khususnya Desa Jambon yang terkenal penghasil rumput laut. Icon itu tidak hanya terkenal di domestik saja, tetapi mancanegara sudah mengetahui.
Anik berharap kepada masyarakat Desa Jabon agar rumput laut tidak dijual dalam bentuk bahan mentah. Sebaiknya rumput laut diolah kembali menjadi produk yang memiliki nilai jual tinggi dan diminati masyarakat.
"Sebut saja Sidoarjo punya, kebetulan karena Jambon ini ada icon nasional, desa penghasil rumput laut, bukan hanya di domestik. Bagaimana rumput laut itu tidak dijual dalam bentuk bahan baku," ucapnya.
Mantan Ketua DPRD Sidoarjo itu mencontohkan Nori, yang terkenal karena sering diminati masyarakat luar negeri untuk kuliner, seperti di Jepang dan Korea. Maka, agar produk masyarakat dilirik mancanegara, pemerintah juga perlu menfasilitasinya, baik berupa alat teknologi untuk produksi dan pelatihan.
Jika pemerintah mendukung langkah masyarakat dalam mengelola potensi lokal menjadi produk bernilai tinggi, maka ketahanan pangan di Indonesia benar-benar terwujud. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya sekedar memproduksi, tetapi menjadikan barang tersebut memiliki ekonomi tinggi.
"Kalau di luar negeri ada Nori kenapa tidak ada di produk Sidoarjo yang menjadi catatan produksi. Inilah yang perlu, satu masyarakat dilatih oleh pemerintah, dua difasilitasi teknologinya, alatnya untuk bisa memproduksi, ini baru ketahan pangan itu," pungkasnya. (**)








