Tempat Ini Jadi Rumah Kedua Bagi Orang Jompo, Terbuang dan ODGJ

Rabu, 12/04/2023 - 07:32
Penelusuran di lokasi, Suwondo, pecinta budaya, menggali keberadaan 'rumah kedua' bagi orang-orang yang berstatus 'terabaikan'. Bersama Yohana, pengasuh orang-orang tersebut, menjelaskan keberadaan rumah tersebut, Selasa (11/04/2023).

Penelusuran di lokasi, Suwondo, pecinta budaya, menggali keberadaan 'rumah kedua' bagi orang-orang yang berstatus 'terabaikan'. Bersama Yohana, pengasuh orang-orang tersebut, menjelaskan keberadaan rumah tersebut, Selasa (11/04/2023).

Klikwarta.com, Malang - Tidak ada yang mengira, rumah yang berlokasi di Dusun Banu, Desa Banturejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, ternyata menjadi tempat orang-orang jompo (diabaikan keluarga), orang-orang terbuang (tidak jelas domisilinya) dan ODGJ (orang dalam gangguan jiwa). 

Dari penelusuran di lokasi, Suwondo, pecinta budaya, menggali keberadaan 'rumah kedua' bagi orang-orang yang berstatus 'terabaikan'. Bersama Yohana, pengasuh orang-orang tersebut, menjelaskan keberadaan rumah ini, Selasa (11/04/2023) kemarin.

Dikatakannya, dulunya fungsi rumah tersebut dijadikan tempat 'rumah kedua' bagi orang-orang terabaikan, diawali 16 tahun yang lalu oleh alm. Munawi (istri Yohana). Rumah ini dihuni bersama, dalam artian orang-orang tersebut satu atap dengan keluarga Yohana.

"Kita jadi satu sama mereka, makan kita sama-sama, tidurnya satu rumah. Yang merintis jadi seperti ini, itu suami saya, sekitar 16 tahun lalu," ungkap Yohana.

Lanjutnya, meski satu atap bersama ODGJ, yang notabene 'bom waktu' (kumat sewaktu-waktu), mereka tak pernah 'bertabrakan' fisik, seolah-olah ada 'energi positif' membuat kedua 'kubu' menjaga satu sama lain. Menariknya, tidak ada metode 'pasung' yang diberlakukan ODGJ, walaupun punya latarbelakang 'temperamental' dan punya track record sebagai 'destroyer' di tempatnya.

"Sejak dulu, tidak pernah terjadi mereka ngamuk di sini. Mereka semua emosinya turun kalau disini. Dulu pernah ada sama saudaranya dibawa pulang, tapi saat di rumah malah ngamuk lagi," kata Yohana.

Dijelaskannya, pihaknya sama sekali tidak membebani apapun dari pihak keluarga, justru mereka banyak yang 'dicoret' dalam 'daftar keluarga' mereka (ODGJ), hingga ujungnya tinggal di rumah ini hingga meninggal (usia tua) dan di makamkan di TPU desa setempat.

Tak cuma itu, ada orang-orang yang berstatus disingkirkan karena 'faktor x', sekaligus hilangnya 'status domisili'. Ujungnya, mereka menetap 'permanen' di rumah ini, sekaligus menjadi keluarga. 

"Khusus jompo, umumnya ada faktor lain yang membuat mereka menetap disini. Kita rawat mereka, seperti keluarga kita sendiri. Kalau yang ada gangguan fisik, kita perlakukan seperti keluarga kita, kita mandikan, kita suapi," sambung Yohana.

Diceritakannya, ada 'anggota keluarga' berstatus ODGJ yang  berasal dari Madiun, kemudian dibawa ke Jember untuk diterapi. Namun, sekembali dari tempat itu, ia kumat lagi, lalu keluarganya menyarankan ke rumah tersebut. Akhirnya, selama 2 tahun tinggal di rumah ini, dan sembuh total, bahkan mereka (ODGJ) 'sowan' ke rumah Yohana.

Hengki, anak Yohana menyambung cerita, 'keluarga' mereka ada yang berstatus 'terbuang' dari keluarganya sendiri karena 'faktor x'. Ia ditemukan keluyuran tidak jelas arahnya, dan oleh warga diarahkan ke rumahnya. Oleh keluarga Yohana, ia menetap bersama, sekaligus menjadi 'keluarga baru'.

"Ada yang dulunya dinyatakan hilang 4 tahun lamanya oleh keluarganya. 2 tahun ia tinggal disini. Lalu informasi ia tinggal disini diketahui keluarganya, kemudian ia dijemput keluarganya. Keluarganya menangis disini, dipikir sudah meninggal, karena sudah hilang 4 tahun," kata Hengki.

Terkait ODGJ, di rumah ini tidak mengenal metode pasung, karena metode ini justru membuat mereka kumat. Interaksi sehari-hari dengan ODGJ tersebut, tak pernah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, dalam artian semua berjalan normal.

Selain itu, hingga saat ini belum ada 'donatur resmi' yang mengalirkan bantuannya kepada keluarga Yohana. Meski tanpa 'donatur resmi', aktifitas sosialnya tetap berjalan sebagaimana mestinya. Kalaupun ada donasi dari luar, bantuan itu bersifat 'non rutin' dan tidak permanen.

Sangat disayangkan rumah yang menebar kemanusiaan ini, masih berstatus 'donasi mengambang'. Suwondo menjelaskan, terkait nomor yang bisa dihubungi telepon atau Wa nomor 0812 5934 6760, a.n. Yohana. 

"Sangat disayangkan jiwa sosial ibu Yohana hingga saat ini, masih belum ada donasi yang memperkuatnya. Saya harap ada yang tersentuh untuk membantunya, kata Suwondo kepada Klikwarta.com. (red)

Berita Terkait