Pacu Ketahanan Pangan, Presiden Prabowo Resmikan Bendungan Jlantah Karanganyar 

Sabtu, 11/07/2026 - 18:26
Peresmian Bendungan Jlantah di Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar, Jumat (10/7/2026)

Peresmian Bendungan Jlantah di Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar, Jumat (10/7/2026)

Klikwarta.com, Karanganyar - Presiden Prabowo Subianto resmi meresmikan Bendungan Jlantah di Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Jumat (10/7/2026). Peresmian dilakukan secara hybrid dari Bendungan Meninting, Lombok Barat, NTB, bersamaan dengan empat bendungan strategis lainnya di Indonesia.

Kelima infrastruktur yang diresmikan serentak tersebut menelan total investasi mencapai Rp9,79 triliun. Selain Jlantah dan Meninting, proyek raksasa yang diresmikan meliputi Bendungan Keureuto dan Bendungan Rukoh di Aceh, serta Bendungan Sidan di Bali.

"Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Besar, saya Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, dengan ini meresmikan Bendungan Meninting di NTB, Bendungan Keureuto dan Bendungan Rukoh di Aceh, Bendungan Jlantah di Jawa Tengah, serta Bendungan Sidan di Bali," ucap Presiden Prabowo dalam prosesi peresmian.

Bendungan Jlantah yang dibangun sejak 2019 hingga 2024 dengan anggaran Rp1,08 triliun ini diproyeksikan menjadi infrastruktur multiguna. Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS), Gatot Bayuaji, menegaskan meski fisik bendungan telah rampung 100%, optimalisasi fungsi terus dikejar.

Bendungan Jlantah yang dibangun sepanjang tahun 2019 hingga 2024 dengan anggaran mencapai Rp1,08 triliun kini telah berdiri kokoh. Meski konstruksi fisiknya sudah rampung 100%, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS), Gatot Bayuaji, menegaskan bahwa kerja belum selesai. 

Pihaknya kini tengah mengejar optimalisasi penuh agar bendungan ini benar-benar menjadi infrastruktur multiguna yang berdampak langsung bagi masyarakat melalui tiga sektor utama. Pada sektor irigasi pertanian, bendungan ini diproyeksikan mampu mengairi 1.494 hektare lahan di Kecamatan Jatiyoso, Jumapolo, Jatipuro, dan Ngargoyoso. 

Saat ini, aliran air sudah berhasil menjangkau 806 hektare lahan, sementara sisa 688 hektare lainnya sedang dikejar melalui proses optimalisasi saluran pembawa serta program pencetakan sawah baru. Selain untuk pertanian, bendungan ini juga disiapkan sebagai penyedia air baku dengan total kapasitas 150 liter per detik untuk menyuplai tiga wilayah kecamatan. 

Alokasi distribusi air bersih tersebut mencakup Kecamatan Jumapolo sebesar 90 liter per detik, Jatipuro sebesar 50 liter per detik, dan Jatiyoso sebesar 10 liter per detik. Saat ini, realisasi pemanfaatannya tinggal menunggu pembangunan jaringan distribusi hasil koordinasi dengan Ditjen Cipta Karya dan Pemerintah Daerah.

Tak kalah penting, Bendungan Jlantah juga dirancang sebagai sumber energi terbarukan dengan total potensi daya mencapai 10,625 Megawatt. Pasokan energi bersih ini bersumber dari pemanfaatan PLTA sebesar 0,625 Megawatt dan PLTS Terapung sebesar 10 Megawatt. Pengembangan sektor energi hijau ini sekaligus membuka peluang investasi yang luas bagi pihak swasta di masa depan.

Gatot mengibaratkan bendungan ini sebagai "tabungan air" raksasa bagi Karanganyar untuk menghadapi ancaman kemarau panjang.

"Saat musim hujan kita tampung air sebanyak-banyaknya, dan ketika kemarau air dikeluarkan sesuai kebutuhan. Ini solusi paling strategis agar air tidak langsung terbuang ke hilir," jelas Gatot. Ia juga memastikan layanan irigasi ini fokus di Karanganyar dan tidak menjangkau Wonogiri yang sudah mandiri secara sistem irigasi.

Selain memiliki fungsi ekologis dan penyedia pangan, Bendungan Jlantah sebenarnya menyimpan potensi pariwisata yang sangat besar. Meski demikian, Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) menegaskan bahwa tata kelola wisata tersebut nantinya akan diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah daerah, namun dengan penerapan pembagian zonasi yang ketat.

Dalam pengembangannya, area tubuh bendungan akan ditetapkan sebagai Zona Privat yang sepenuhnya steril dari publik demi menjaga operasional dan keamanan. Sementara itu, masyarakat dan Pemda dapat memanfaatkan Zona Publik, yaitu area di luar bendungan, untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata yang menarik.

Terkait sisa kendala di lapangan, Gatot memaparkan masalah pembebasan lahan kini tinggal menyisakan tahap akhir administrasi. Tercatat ada 37 bidang Tanah Kas Desa (TKD) yang sedang diselesaikan bersama Pemda, serta 1 bidang tanah milik warga yang sudah diajukan ke Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN).

Bupati Karanganyar, Rober Christanto, menyambut optimistis peresmian ini. Pemerintah daerah siap berkolaborasi, khususnya dalam mempercepat pembukaan jaringan irigasi sekunder dan tersier serta menyukseskan sisa cetak sawah baru seluas 230 hektare di Jumapolo dan Jatiyoso.

"Alhamdulillah, kami berharap dampaknya sangat baik bagi Karanganyar, terutama untuk meningkatkan luas sawah yang bisa ditanami. Lahannya sudah ada, tinggal kita kebut jaringan irigasinya agar pasokan air dari Bendungan Jlantah ini bisa maksimal dirasakan petani," pungkas Rober.

Pewarta : Kacuk Legowo

Berita Terkait