Suasana Momen Akhir Debat Publik Kedua Pilwali Kota Blitar Tahun 2020 (foto : Faisal NR / Klikwarta.com)
Klikwarta.com | Kota Blitar - Debat Publik Kedua Pilwali Kota Blitar tahun 2020 telah terselenggara Selasa (10/11/2020) malam di Studio TVRI Jawa Timur di Surabaya. Pantauan Pewarta Klikwarta.com di lokasi acara, Pasangan Calon (Paslon) Santoso-Tjutjuk Sunario kompak memakai baju berwarna dasar merah dan berpeci.
Tak hanya kompak style busana, Santoso-Tjutjuk juga terlihat kompak menjawab setiap pertanyaan Panelis melalui pembawa acara dengan saling bergantian mengutarakan jawaban. Sebagai bukti matangnya integritas seorang pemimpin, paslon nomor urut 2 ini juga terlihat menguasai persoalan masyarakat kota Blitar terkini dan tantangan di masa depan, yang tergambarkan saat menjawab pertanyaan Panelis dengan tepat dan tidak keluar dari permintaan pertanyaan.
Berbeda dengan Santoso-Tjutjuk, paslon nomor urut 1 Henry-Yasin, pasangan ini nampak tidak imbang dan solid dalam berkolaborasi menjawab setiap pertanyaan Panelis yang dibacakan pembawa acara. Henry, terlihat lebih vocal dan Yasin hanya mengutarakan suaranya tak lebih dari lima kali. Walau begitu, Henry-Yasin masih terlihat kompak dalam hal busana, yang sama-sama memakai jas, celana dengan warna dasar kuning muda keemasan tanpa memakai Kopyah.
Tema debat saat itu, terkait Tata Kelola Pemerintahan dan Pelayanan Publik. Pewarta Klikwarta.com sempat tergelitik dengan pertanyaan Panelis untuk paslon Santoso-Tjutjuk mengenai pengobatan alternatif yang masih menjamur di kota Blitar, apa solusinya.
Dengan cerdas, lugas dan solutif Santoso menyatakan, akan memberikan kemudahan perizinan dengan memberikan pembinaan agar berstandar serta bersertifikasi oleh pemerintah. Namun, yang terjadi paslon nomor urut 1 justru mengkritisi pemerintahan kota Blitar dengan mangkraknya puskesmas di kelurahan, bahkan hemodialisa.
“Yang ditanyakan kan berkembangnya pengobatan alternatif. Maka jawaban kami adalah pengobatan alternatif dipastikan kita tata ulang. Kita beri izin, pendidikan. Kita beri kemudahan. Dengan begitu pengobatan alternatif tidak merugikan masyarakat. Sehingga tidak kemana-mana,” kata Tjutjuk menambahkan pernyataann Santoso.
Kemudian terkait pertanyaan pencegahan korupsi. Santoso menilai korupsi bukan tidak sekedar terima atau tidak terima gaji seperti dikatakan Henry Pradipta Anwar. Santoso mengatakan, korupsi tidak sekedar diminimalisir tapi harus diperangi sampai sirna. Santoso mengatakan, sejak menjadi Walikota bulan Mei 2020, penguatan Inspektorat telah dilakukannya dengan bukti LHKASN (Laporan Hasil Kekayaan Aparatur Sipil Negara) menunjukkan kinerja yang bagus.
Melalui Closing Statementnya, Santoso ingin mewujudkan kota Blitar sebagai kota penyedia barang dan jasa pariwisata yang modern. Dalam rangka pemulihan ekonomi di masa pandemi Covid-19, dengan permasalahan ini maka perlu mewujudkan kota Blitar sebagai Kota religius dan nasionalis. Ada langkah bersama antara pemerintah dan masyarakat yang dilandasi dengan semangat gotong royong sebagai modal utama.
“Dalam pidato Bung Karno langkah harus berdasarkan pada kesucian, kami percaya perjuangan yang suci senantiasa mendapat pertolongan dari Allah. Untuk itu kami ingin senantiasa mengutamakan kejujuran, mengutamakan integritas, pemimpin yang Pancasila,” petikan closing statement oleh Tjutjuk Sunario.
Dihubungi usai debat, Santoso mengungkapkan jika dirinya selalu mengajak pasangannya Tjutjuk berkolaborasi menjawab setiap pertanyaan. Dengan begitu menggambarkan dalam memimpin keputusan tidak dibuat sendiri namun dari keputusan kolektif yang demokratis.
“Kita harus memberikan peluang yang sama pada mitranya. Sehingga keputusan kolektif bukan dibuat dirinya sendiri,” kata Santoso.
Menurut Santoso, jika seorang pemimpin bergerak sendiri tidak mempedulikan partnernya, akan terwujud keputusan tunggal yang cenderung otoriter. Sifat otoriter ini menjadi rawan terjadinya korupsi dalam pemerintahan.
(Pewarta : Faisal NR)








