Siswa SMA Kabupaten Aceh Besar Dibekali Sukses Belajar Online Dengan Literasi Digital

Kamis, 06/04/2023 - 15:26
Webinar Literasi Digital “Literasi Digital– Sukses Belajar Online Dengan Kemampuan Literasi Digital”

Webinar Literasi Digital “Literasi Digital– Sukses Belajar Online Dengan Kemampuan Literasi Digital”

Klikwarta.com, Aceh Besar - Rangkaian webinar literasi digital di Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh telah bergulir pada Kamis (6/4) pukul 10.00-12.00 WIB. Kegiatan webinar bertajuk tema “Sukses Belajar Online Dengan Kemampuan Literasi Digital” merupakan kerjasama Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dengan beberapa SMA di Kabupaten Aceh Besar diantaranya SMAs Malem Putra 2, SMA Madani Al-Aziziyah, SMAN 1 Darul Imarah, SMA Teungku Chik Kuta Karang, SMAs Malem Putra 1, dan SMAN 1 Simpang Tiga dengan melibatkan para siswa sebagai audiensnya.

Kegiatan yang diinisiasi dan diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia ini bertujuan mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif sehingga dapat meningkatkan kemampuan kognitifnya untuk mengidentifikasi hoaks serta mencegah terpapar berbagai dampak negatif penggunaan internet.

d

Pengguna internet di Indonesia pada awal Tahun 2022 mencapai 204,7 juta orang atau meningkat 2,1 juta dari tahun sebelumnya. Namun, penggunaan internet tersebut membawa berbagai risiko, karena itu peningkatan penggunaan teknologi internet perlu diimbangi dengan kemampuan literasi digital yang baik agar masyarakat dapat memanfaatkan teknologi digital dengan bijak dan tepat.

Survei Indeks Literasi Digital Nasional yang dilakukan oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi dan Katadata Insight Center pada tahun 2021 menunjukkan skor atau tingkat literasi digital masyarakat Indonesia berada pada angka 3,49 dari 5,00.

Kemudian pada tahun 2022, hasil survei Indeks Literasi Digital Nasional mengalami kenaikan dari 3,49 poin menjadi 3,54 poin dari skala 5,00. Hasil ini dianggap menunjukkan bahwa literasi digital masyarakat Indonesia saat ini berada di kategori sedang dibandingkan dengan tahun lalu.

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika, Kementrian Komunikasi dan Informatika Semuel Abrijani Pangerapan menilai indeks literasi digital Indonesia belum mencapai kategori baik. “Angka ini perlu terus kita tingkatkan dan menjadi tugas kita bersama untuk membekali masyarakat kita dengan kemampuan literasi digital,” katanya lewat diskusi virtual. Dalam konteks inilah webinar literasi digital yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia menjadi agenda yang amat strategis dan krusial, dalam membekali seluruh masyarakat Indonesia beraktifitas di ranah digital.

Pada webinar yang menyasar target segmen pelajar SMA ini, sukses dihadiri oleh sekitar 300 peserta daring, dan juga dihadiri beberapa narasumber yang berkompeten dalam bidangnya. Kegiatan tersebut diawali dengan sambutan dari Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Semuel Abrijani Pangerapan, dihadiri narasumber Anwar Sadat (Senior Product Manager), kemudian narasumber Jhon Abdi, S.Pd., M.Pd (Pengawas Sekolah), serta Vean Mardhika (Influencer) bertindak sebagai Key Opinion Leader (KOL), Siti Kusherkatun, S.Pd.I (Asih) sebagai juru bahasa isyarat dan dipandu oleh moderator Ayu Amelia. Para narasumber tersebut memperbincangkan tentang 4 pilar literasi digital, yakni Digital Culture, Digital Ethic, Digital Safety dan Digital Skill.

Pada sesi pertama, narasumber Anwar Sadat menyampaikan mengenai cakap bermedia digital. Cakap bermedia digital yaitu mampu mengetahui, memahami, dan menggunakan perangkat keras dan lunak dalam lanskap digital, mesin pencarian informasi, aplikasi percakapan dan media sosial, serta aplikasi dompet digital, lokapasar, dan transaksi digital. Skill pertama yang harus dikuasai yaitu Lanskap digital merupakan pemanfaatan penggunaan perangkat digital. Selanjutnya perlu menguasai memanfaatkan mesin pencari agar bisa mencari informasi yang akurat membedakan informasi yang hoax atau tidak. Setelah itu perlu memanfaatkan percakapan dan media sosial dengan cara dapat melakukan komunikasi di dunia digital, kalau media sosial, perlu upload konten dahulu kemudian dapat berkomunikasi, kalau aplikasi percakapan (Whatsapp) bisa teks dan telepon, terdapat juga emoji/simbol, kemudian dalam aplikasi percakapan dan media sosial perlu dapat membedakan mana hoax atau tidak yang banyak beredar, terakhir di sosial media yaitu dapat melakukan produksi dan ditribusi konten. Perlu juga memiliki kemampuan menggunakan dompet digital, aplikasi loka pasar dan bertransaksi digital, dapat melakukan jual beli menggunakan perangkat digital melalui media sosial dan e-comerce, dan memastikan transaksi di dunia digital berjalan dengan aman, bagaimana agar tidak dibohongi, dapat mencapai kecakapan digital jika dapat mengetahui dan paham ragam dan perangkat lunak yang menyusun lanskap digital.

“Bagaimana kita bisa belajar lebih efektif dan efisien di ruang digital, dalam dunia digital ada banyak aplikasi yang hadir untuk membantu teman-teman dalam belajar, ada yang namanya learning management system, ada google scholar untuk mencari informasi, ada macam-macam, sekarang aplikasi yang bisa kita gunakan untuk belajar mandiri, disitu ada gurunya, disitu ada materinya, disitu juga ada ujiannya, membuat teman-teman lebih merdeka, bisa belajar bukan hanya bergantung dengan guru, bisa mencari sumber-sumber pengetahuan lain yang sudah disediakan melalui platform belajar yang ada di internet,” ujar Anwar.

Giliran narasumber kedua, Jhon Abdi, S.Pd., M.Pd memberikan pemaparan bahwa belajar online adalah sistem belajar yang terbuka dan tersebar dengan menggunakan perangkat pedagogi (alat bantu pendidikan), yang dimungkinkan melalui internet dan teknologi berbasis jaringan untuk memfasilitasi pembentukan proses belajar dan pengetahuan melalui aksi dan interaksi yang berarti. Literasi digital merupakan kebiasaan yang dilakukan berulang agar memiliki keterampilan individu dalam mengaplikasikan keterampilan fungsional pada perangkat digital sehingga dapat menemukan, memilih, dan memilah informasi, berpikir kritis, berkreativitas, berkolaborasi, dan berkomunikasi secara efektif. Literasi digital itu meliputi informasi dan data, pembelajaran, komunikasi dan kolaborasi, keterampilan teknis, kreasi, dan inovasi.

“Kompetensi yang diperlukan saat ini secara umum, kita sudah mengenal mesin pencari kemampuan dalam menggunakan internet dan melakukan berbagai aktivitas lainnya, kemudian navigasi hypertekstual jadi bagaimana seseorang itu ketika membaca sesuatu, ada link, dia bisa mengklik link itu, maka terhubung dengan link lain yang berupa teks juga, kemudian kompetensi yang berikutnya adalah evaluasi konten, bahwa tidak semua konten yang dia baca, apalagi kita nih sedang dalam bulan ramadhan, kadang-kadang ada konten yang mungkin tidak seperti itu adanya, tapi karena dipapar ber ulang-ulang kita anggap benar, sehingga ini harus kita filter betul bahwa tidak semua konten itu kita terima saja namun kita harus menggunakan kemampuan berpikir kritis, memberikan penilaian terhadap sesuatu yang ada di dunia online, kemudian kita menyusun kembali pengetahuan, membangun suatu informasi yang diperoleh sehingga bisa kita manfaatkan untuk keperluan yang lebih luas lagi.” jelas Jhon.

Selanjutnya, Vean Mardhika selaku Key Opinion Leader menyampaikan bahwa hal yang harus diperhatikan saat belajar online adalah memastikan informasi yang didapat adalah suatu kebenaran, hal-hal yang diposting harus membantu orang lain, membantu orang lain mendapatkan informasi, postingan yang diposting tidak boleh menabrak norma dan aturan, tidak semua informasi harus diposting terutama data diri, dan sesuatu yang kita upload harus mengandung kebaikan untuk orang lain.

“Kalau bermain sosial media atau internet itu kan aksesnya itu menyebarluaskan informasi itu kan sangat cepat, luas, dan itu merupakan salah satu hak, tapikan juga tidak berarti kita mengambil hak orang lain kan, karena setiap orang punya hak untuk bebas dari ancaman, cacian, hate speech, dan memperoleh perlindungan hukum baik itu di ruang digital,” lanjut Vean.

Para peserta mengikuti dengan antusias seluruh materi yang disampaikan dalam webinar, terlihat dari banyaknya tanggapan dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada para narasumber. Kemudian moderator memilih tiga penanya untuk bertanya secara langsung dan berhak mendapatkan e-money.

Pertanyaan pertama dari Rivad Pratama Afriyanto yang mengajukan pertanyaan bagaimana cara meningkatkan keefektifan pembelajaran untuk pelajar di dunia digital tapi masih ada keterbatasan internet dan sinyal di daerah daerah terpencil di Indonesia, khususnya di Aceh? Kemudian narasumber Anwar Sadat menanggapi bahwa lebih efektif untuk belajar offline kita jangan sering online dan lebih banyak mengunduh materi pelajarannya. Jika tidak mungkin coba belajar melalui channel TVRI atau bisa membuat radio komunitas. Memanfaatkan komunikasi yang offline.

Pertanyaan kedua dari Rifani Maghfirah yang mengajukan pertanyaan apakah dengan mengadakan literasi digital generasi bisa tau akan pengetahuan digital secara positif, apa saja hal positif tentang penggunaan digital kedepannya? Kemudian narasumber Jhon Abdi, S.Pd., M.Pd menanggapi bahwa Setiap informasi yang kita terima di dunia maya jangan kita serap dengan cepat harus kita saring terlebih dahulu apa yang kita dapat dan memilih sumber yang terpercaya. Menggunakan media sosial untuk belajar hal positif yang kita dapatkan.

Pertanyaan ketiga dari Dea Ayu Devara Sari mengajukan pertanyaan bagaimana cara mengedukasi milenial agar melek dan cakap teknologi tetapi tetap berbudaya Pancasila yang luhur dan tetap mencintai kebudayaan Nusantara, dan bagaimana caranya membawa kebudayaan Indonesia dalam digitalisasi? Kemudian narasumber Anwar Sadat menanggapi bahwa Kita amalkan nilai-nilai pancasila dengan menghormati orang lain dan menjaga dan tidak menyakiti orang lain. Membuat konten sebanyaknya tentang Indonesia agar budaya kita semakin di kenal oleh negara lain. Selanjutnya narasumber Jhon Abdi, S.Pd., M.Pd juga menanggapi bahwa hal-hal positif yang kita dapatkan di sekolah harus diimplementasikan di hidup kita, dan mungkin bisa kita tayangkan di platform dunia digital, kemudian bisa viral dan berdampak positif.

Sesi tanya jawab selesai. Kemudian moderator mengumumkan tujuh pemenang lainnya yang bertanya di kolom chat dan berhasil mendapatkan voucher e-money sebesar Rp. 100.000. Moderator mengucapkan terima kasih kepada narasumber, Key Opinion Leader (KOL) dan seluruh peserta webinar. Pukul 12.00 WIB webinar literasi digital selesai, moderator menutup webinar dengan mengucapkan salam, terima kasih dan tagline Salam Literasi Indonesia Cakap Digital.

Kegiatan Literasi Digital Sektor Pendidikan di Provinsi Aceh merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam program Indonesia Makin Cakap Digital yang diinisiasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia untuk memberikan literasi digital kepada 50 juta orang masyarakat Indonesia hingga tahun 2024.

Adapun Informasi lebih lanjut mengenai kegiatan dan info literasi digital dapat diakses melalui website: literasidigital.id (https://literasidigital.id/) dan akun media sosial Instagram: @literasidigitalkominfo (https://www.instagram.com/literasidigitalkominfo/),  Facebook Page: Literasi Digital Kominfo/@literasidigitalkominfo (https://www.facebook.com/literasidigitalkominfo), Youtube: @literasidigitalkominfo (https://www.youtube.com/@literasidigitalkominfo). (*)

Berita Terkait