Angka HIV/AIDS di Sidoarjo Meningkat, DPRD Jatim Soroti Budaya Gaul dan Penyebaran Liar

Selasa, 09/06/2026 - 19:40
Anggota Komisi E DPRD Jatim, Benjamin Kristianto

Anggota Komisi E DPRD Jatim, Benjamin Kristianto

Klikwarta.com, Sidoarjo - Meningkatnya angka penderita HIV/AIDS di Kabupaten Sidoarjo mendapat sorotan dari Komisi E DPRD Jawa Timur. Anggota Komisi E DPRD Jatim, Benjamin Kristianto, menilai lonjakan kasus ini tidak lepas dari pengaruh media sosial dan berubahnya pola pergaulan anak muda.

“Jadi kita tahu bahwa saat sekarang ini media-media, internet, sosial media itu luar biasa. Makanya tidak heran, sebenarnya bukan masalah di sisi keluarga. Menurut saya di semua daerah itu hampir sama,” kata Benjamin, Senin (8/6/2026).

Ia mengaku khawatir dengan budaya anak muda yang meniru gaya hidup dari tontonan di media. Menurutnya, banyak anak di desa ingin meniru kehidupan kota yang mereka lihat di TV atau media sosial.

“Bahkan yang dikhawatirkan masih ada budaya anak muda yang gara-gara nonton di media TV. Mereka menyaksikan, misalnya di media itu,  orang kota itu suka dugem, orang kota itu suka nongkrong, ganti-ganti pacaran atau pasangan. Akibatnya budaya ini yang di desa-desa malah ingin seperti orang kota,” ujarnya.

Benjamin menilai pemahaman yang keliru itu berujung pada pergaulan bebas. Akibatnya, banyak sekali  ditemukan anak SMA yang sudah hamil, baru lulus.

 “Oh kalau dia tidak dugem artinya dia bukan orang kota. Nah budaya yang seperti itu yang salah, yang akibatnya menyebabkan sepertinya banyak hubungan sebelum nikah,” tegasnya.

Menurutnya, saat ini perkenalan anak muda bebas lewat online sehingga penyebaran semakin luas dan sulit dikontrol. 

“Kalau sekarang ini pasar bebas, artinya mereka kenalan secara online. Dari TikTok, dari Facebook, dari IG, belum tempat-tempat yang berselubung lainnya. Misalnya tempat-tempat panti pijat, karaoke, dan segala macam. Jadi terlalu nyebar, spread-nya (penyebaran) terlalu luas, sehingga controlling-nya susah,” tuturnya.

Ia menegaskan, banyaknya kasus yang muncul saat ini sebenarnya adalah kasus lama yang baru terdeteksi. Mengingat controlling-nya susah, sehingga menyebabkan muncul banyak kasus. 

"Sebenarnya bukan saat sekarang. Sebenarnya ini adalah kebetulan terdeteksi. Mungkin di daerah-daerah yang tadi saya bilang lebih banyak lagi,” ujarnya.

Politikus dari Dapil Sidoarjo ini mengkritik kebijakan penutupan lokalisasi seperti Dolly beberapa tahun lalu. Menurutnya, penutupan hanya langkah politis. Padahal hal itu justru membuat penyebaran makin tak terkontrol.

“Makanya dulu itu waktu pertama kali Dolly mau ditutup, itu saya sampaikan bahwa sebenarnya cara menutup Dolly hanya untuk sesuatu politikus. Artinya hanya supaya kelihatannya, saya bersih, seorang tokoh yang murni. Terus menutup itu sebenarnya salah sekali, karena kalau dilokalisir, di luar negeri pun semuanya, di Thailand dimana ada terlokalisir,” jelasnya.

Dengan adanya tempat yang dilokalisir,  pengawasan lebih ketat. Orang yang mau masuk wilayah tersebut, harus menunjukkan KTP. Dengan begitu, masyarakat yang belum cukup umur tidak bisa masuk area itu. 

"Jadi one gate-nya itu benar-benar diawasi, ada security yang mengawasi tiap unit itu,” kata Benjamin.

Selain itu, di lokalisasi ada cek medis secara berkala. Benjamin mengaku rumah sakitnya pernah kerjasama Hotline Surya dulu. Ia melakukan screening enam bulan sekali.

" Jadi kita melakukan pap smear buat ngecek, apakah ada keputihan atau tidak pada wanita-wanita tersebut. Lalu kita screening setiap 6 bulan sekali HIV. Kalau kita dapatkan HIV, maka kita langsung terapi, isolasi dan kita obati,” ungkapnya.

Benjamin mempertanyakan apakah sudah dilakukan screening massal di daerah. Jika ingin mengupdate data, screening bisa dilakukan saat lebaran.
Hal ini untuk mencegah penyebaran ke kampung dan data menjadi riil.

 “Supaya tidak menyebar ke kampung. Ketahuan maksudnya, datanya real. Soalnya kalau misalnya orang dari daera, karena dia kerja di Surabaya, kan kita screening,” pungkas Benjamin.

Untuk diketahui kasus HIV/AIDS di Kabupaten Sidoarjo meningkat. Tercatat per April 2026, jumlah kasus mencapai 7.129 orang. Jumlah ini m bertambah 215 kasus dibandingkan data pada Desember 2025 yang tercatat sebanyak 6.914 kasus. Kecamatan Porong dan Krian menjadi wilayah dengan jumlah kasus terbanyak di Sidoarjo. (**) 

Berita Terkait